Negarabatin (17)

Ceritanya, aku tak tamat Quran di surau. Pindah ngaji kepada Pakngah Seroji. Sama saja, dengan Pakngah Seroji, aku juga tak khatam Quran. Alhasil, guru ngajiku tiga: Tamong Hakim,

Wak Bakri, dan Pakngah Seroji. Semuanya tak ada benar.

Na, bengol benar aku ini. Walau bagaimana pun hasil ngaji sangat berguna untuk menjalani kehidupan.  Pelajaran agama di sekolah formal jelas jelas sangat tidak memadai. Belanjar ngaji dan agama di surau dan ustaz tentu sangat membantuku.   

#6
BEDIOM[1] LALU SUNAT

Mungkin risih pula Jahri dengan rumah di Uncuk, yang hampir roboh. Rumah panggung benar. Tapi, sama sekali tak nyaman jika hujan lebat, apalagi kalau ada angin ribut, apalagi jika gempa. Dalam banyangan kalau-kalau rubah roboh.

Oleh karena itu, Jahri mulai mengumpulkan dana hendak membangun rumah. Rumah yang baru ini dekat atau kantor polisi di sudut Lapangan Merdeka. Sudah dua tahun terakhir ini Jahri mengawasi tukang yang membangun rumah. Kadang-kadang Uyung ikut pula.

Awalnya Jahri hendak  membuat rumah kayu. Sudah disiapkannya tiang-tiang balok dari kayu pilihan. Begitu pulan kusen jendela. Bagus sekali jika jadi rumah kayu semuanya. Tapi, ketika hendak meneruskan pembangunan rumah, harga papan naik mahal sekali sekali. Kalau dihitung-hitung harga tersebut tidak terkejar oleh tabuangan dan gajinya. Ia hanya pegawai negeri kecil.

Tidak jadi membuat rumah kayu. Diganti saja dengan semen. Lebih murah. Jadi, rangka atau tiang-tiang rumah yang terlanjur memakai kayu akhirnya ditutup pakai semen. Supaya semennya lekat , kayu-kayu dipaku diberi ijuk dari pohon enau.  Agak aneh. Tapi justru menjadi bagus dan kukuh. Buktinya aman dan tahan ketika gempa bumi melanda Negarabatin.

Rumah depok, kata orang-orang. Jadilah.

Sekira dua tahun, rumah sudah siap ditunggui. Jahri sekeluarga termasuk kedua orang tuanya dan adiknya, Nalom pindah rumah dari Uncuk ke daerah Tangsi. Nah, Uyung yang kelas dua SD jadi Setangsi[2], bukan anak Seuncuk[3] lagi.

>> BERSAMBUNG


[1] pindahan rumah, menempati rumah yang baru

[2] orang Tangsi

[3] orang Uncuk, orang Ujung