Negarabatin (18)

Rumah Uyung ini di belakang masjid, dekat Lapangan Merdeka, dekat kantor polisi, dekat pula dari terminal, dan pasar. Begitu pula ke Way[1] Setiwang juga lebih dekat. Namun, kalau tidak terpaksa benar tak usah ke Setiwang. Bor[2] yang dibangun sejak zaman Belanda, yang airnya diambil dari Ham[3] Tebiu, dialirkan dengan pipa, tidak pernah berhenti mengalir tambah dekat dari rumah Uyung. Bor ini ada dua kamar besar. Kamar satu tenpat lelaki mandi. Kamar satu lagi tempat perempuan mandi dan mencuci pakaian. Jangan tertukar… tak boleh.

Yang mandi dibor memakai basohan[4]. Lelaki tidak terlalu ribet, kalau tidak memakai basohan, dapat pula memakai celana pendek atau kolor saja… jadi. Jangan sesekali mandi telanjang. Malu dan tidak mengikuti aturan agama. Yang perempuan basohan lebih khusus dengan kain panjang atau paling tidak sinjang yang menutupi seluruh aurat.

***

Aha, sebelum bercerita bediom dan sunat, aku ingin mengisahkan terlebih dahulu hal-hil pekon-ku Negarabatin. Negarabatin ini ibu kota Kecamatan Balik Bukit di Kabupaten/Daerah Tingkat II Lampung Utara[5], Provinsi Lampung. Di Kecamatan Balik tercatat ada dua marga: Marga Liwa dan Marga Sukau. Zaman Belanda – atau sebelumnya Inggris – Negarabatin atau Balik Bukit adalah wilayah Kewedanaan Krui yang beribu kota di Krui. Walaupun ibu kotanya di Krui, rupanya suka pula tinggal di tempat yang sejuk-sejuk. Krui yang dipinggir pantai  se, yaitu wilayah Kewedanaan tentu lebih panas. Beda dengan Liwa yang di pegunungan. Terasa sekali menurunnya jika dari Liwa ke Krui. Begitu juga sebaliknya, terasa benar naiknya dari Krui ke Liwa. Padal jarak Liwa-Krui hanya 40 km atau sekira sejam perjalanan mengendai mobil.

>> BERSAMBUNG


[1] Sungai, air

[2] tempat pemandian umum

[3] danau kecil

[4] telesan

[5] sekarang Kabupaten Lampung Barat, yang dimekarkan dari Lampung Utara, tahun 1991