Cerita Bersambung

Negarabatin (1)

#1
PROLOG

“Pulanglah kamu saat Lebaran Haji ini! Kalau tidak dapat pulang semua, ajak Aidil.”

Entah sudah berapa kali Bak[1] selalu menelepon menyampaikan amanat ini.

“Iya, Bak. Iya…,” selalu itu pula jawabku.           

Mau bagaimana. Ayah memang sudah tua. Terakhir pulang aku lihat Bak sudah berjalan tersaruk perlahan. Membawa tongkat walau sebenarnya tidak difungsikannya. Perkataannya tidak lagi lantang seperti ketika masih muda – apalagi jika sedang marah. Suaranya nyaris tak terdengar, terlalu perlahan dan tersendat seperti ada yang menghalangi keluarnya udara dari tenggorokannnya.

“Saya sudah tua. Sudah sulit. Lebih banyak di rumah saja. Berjalan dekat-dekat saja tidak bisa semaunya lagi. Ke ladang tidak sanggup lagi. Apalagi hendak mengoret, ngunduh kahwa[2], dan bersawah. Tidak kuat mengunjungi kalian di Karang[3]. Iza yang di Fajarbulan saja yang dekat saya tak berani lagi. Terlebih lagi ke tempat Wan di Jakarta. Jadi, kalian yang pulang.”

Ah, Bak memang sering rewel benar kalau ada yang dipesankannya. Tapi, tambah tua tambah rewel.

Pulang kamu, pulang kamu, pulang kamju… Itu lagi, itu lagi. Pulang kan pakai ongkos. Kalau sedang tidak pegang uang kan repot… ada tidak ada harus ada.

“Kenapa saya harus pulang?” kutanya Mak[4].

“Entah. Pulang saja… Kalian kan jarang pulang,” sahut Mak di ujung telepon seluler dari pekon[5].

Begitulah sebabnya kami berdua beranak pulang ke Negarabatin kala Lebaran Haji baru-baru ini. Sekarang, justru Idulfitri kami tidak pulang. Padahal ini untuk pertama kalinya Lebaran tanpa Bak. Semestinya pulang. Tapi, kondisi kami anak-beranak benar-benar tidak memungkinkan kami pulang.

Bak berpulang hampir di penghujung tahun baru ini.

Rupanya ketika Bak meminta-mintaku dan adik-adikku berkumpul kala Lebaran Haji seperti sudah memberikan pertanda kepada kami anak-anaknya: tak lama lagi Bak hendak pulang sebenarnya ke kampung akhirat.

***

Negarabatin kampung halamanku. Dulu sering aku menyesal mengapa aku  dilahirkan di sini. Berlari kencang. Apalah ambilan dari kampung halamanku ini. Namanya saja yang Negarabatin, tetapi kami miskin. Sudahlah aku hendak melupakannya.

Sakit sekali hatiku kepada kampung halamanku sendiri.

Tapi, bagaimana pula. Sebenci-bencinya aku pada Negarabatin, tetap saja tak bisa kubuang.

Walau banyak sesalku pada Negarabatin, lebih banyak lagi ingatanku yang bisa membuatku tertawa-menangis.

Kalau melihat dua anak lelakiku sekarang, merengek-menangis jika ada mau mereka, lalu singut[6] pula… tetapi bila sudah dipenuhi apa yang diinginkan, aku segera teringat dengan diri sendiri kala bocah. Selalu disoraki mamak[7] dan minan[8]:

Huk huk huk…

Lalang miwang

Dipusok tahi manang[9]

Nah, jika disoraki seperti itu, sering aku marah-marah kepada mamak dan minan. Mau kutinju mereka, tetapi aku tak berani atau mereka sudah lari menjauh kala kukejar.

***

                                                                                                           >> BERSAMBUNG


[1] ayah, bapak

[2] memetik kopi dari batangnya

[3] maksudnya, Tanjungkarang, Bandar Lampung

[4] ibu, emak

[5] kampong, desa

[6] ngambek

[7] paman yang belum menikah

[8] bibi yang belum menikah

[9] Huk huk huk…

  Tertawa menangis

  Disuap taik ayam

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top