Sosok

In Memoriam Machsus Thamrin

“APA kabar, anak muda?” sapa Machsus Thamrin Hidayat sambil menyodorkan tangan untuk berjabatan dengan saya saat bertemu saya di redaksi Surat Kabar Mahasiswa Teknokra di Lantai 2 Gedung BKK (sekarang: Griya Kemahasiswaan) Universitas Lampung, sekitar Desember 1991.
Meskipun bertanya-tanya dalam hati kenapa Kak Ncus — demikian Machsus Thamrin biasa disapa — berkata seperti itu, tak urung saya jawab, “Baik, Kak.”
Agak ge-er atau berprasangka baik saja, saya menduga (tidak berani juga saya tanyakan) Kak Ncus sudah membaca kolom saya, “Apa Kabar, Anak Muda?” di rubrik Etos Kita, Teknokra, November 1991.
Cara menyapa Kak Ncus kala itu sangat berkesan buat saya.
Entahlah, 28 tahun kemudian, 2019 tiba-tiba Bang Djioen alias Iman Untung Slamet bertanya kepada Maspril Aries (wartawan Republika) dalam sebuah komentar di Facebook, “Apa kabar Ncus, Jang?”
Oedjang adalah nama panggilan Maspril Aries.
Agak aneh juga pertanyaan Bang Djioen. Sebab, Kak Ncus di Jakarta, Kak Oedjang di Palembang, sedangkan Bang Djioen di Bandar Lampung.
Agak wajar juga kalau Kak Oedjang berkata, “Eh Un, lu yang lebih dekat ke Jakarta. Kok malah nanya gue.”
Saya jadi ketawa sendiri baca komentar-komentar mereka ini. Mereka bertiga, Bang Djioen, Kak Oedjang, dan Kak Ncus adalah senior-senior saya di pers mahasiswa Teknokra. Kalau Kak Oedjang pemimpin redaksinya (1989–1990), Kak Ncus pemimpin usaha (1989–1990). Sedangkan Bang Djioen kayaknya redaktur di masa itu. Pemimpin Umum waktu itu Eddy Rifai.
Rupanya itu semua semacam firasat akan kepergian Kak Ncus. Beberapa hari berselang kemudian ketika saya tengah mengikuti Temu Sastra Mitra Praja Utama (MPU) sabagai utusan Lampung bersama Christian Heru Cahyo Saputro dan Edy Samudra Kertagama di Hotel Marbella, Anyer, Banten — sebuah pesan masuk.
“Zul, Kak Ncus meninggal. Saat ini tengah dibawa ke Serang. Alamat duka Komplek Depag Ciwaru Blok E 22 Cipocoh Jaya, Serang. Kabari teman-teman,” tulis Bang Djioen di inbox, Rabu. 26/6/2019 pukul 11.16.
Dan benar, ketika saya mengecek media sosial, banyak ucapan belasungkawa, kenangan bersama, dan doa kepergian Kak Ncus. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Lulusan S1 Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Unila dan Pascasarjana Perencanaan Wilayah Perkotaan Universitas Indonesia ini berpulang ke rahmatullah pada Rabu, 26 Juni 2019 pukul 10.45 di Rumah Sakit Pertamina, Jakarta.
Badan saya serasa melayang di hotel, beberapa teman yang tinggal di Serang, Banten ternyata malah tidak di tempat. Dosen Untirta Ferri Fathurrahman sedang di Bandung. Idi Dimyati, juga staf pengajar Untirta justru sedang liburan di Lampung. Besok kami harus pulang ke Bandar Lampung karena acara di Banten sudah selesai. Ehh, keesokan sorenya, Kamis, 27/6/2019, saat menunggu bus mau ke Merak menuju pulang ketemu Ni’matus Shaumi, alumnus Teknokra dan Unila yang baru pulang kerja.

***
Selepas kuliah dan aktif di pers mahasiswa, pria kelahiran Pandeglang, 4 Februari 1966 ini berkarier di media, mulai dari Sriwijaya Post (1989–1993), Majalah Sinar (1993), Tabloid GO (1993–1997), menangani Harian Berita Buana (1997–2000), Chief Editor Redaksi Kopitime.com (2000–2001), Press Officer di IDE Indonesia (2001), Korlip di Metro TV (2002–2006) hingga akhir hayat menjadi jurnalis Anteve (sejak 2006).
Tulisan-tulisan suami dari Hartati Roestam ini yang sempat saya baca sangat humanis dan sangat segar membuat saya ngekek. Ayah dari Achmad Salman Dimastara, Ayu Sekar, dan Achmad Afif Taufiqurahman ini adalah sosok yang hangat. Setidaknya itu yang saya rasakan dari sedikit pertemuan kami.
Selamat jalan, Kak Ncus. Engkau menjadi salah seorang jurnalis senior yang banyak meninggalkan jejak dalam profesi jurnalisme dan tulis-menulis pada umumnya. Seorang pemimpin usaha kala di pers mahasiswa yang ligat dalam berbisnis, tetapi tetap fasih menulis.
Kau orang baik. Saya tahu itu.Surga telah menunggumu. Insya Allah.
Mahapkan saya, berhari-hari, bermalam-malam, bayanganmu seperti mengejar saya. Hingga, tulisan ini rampung dengan sangat telatnya.
Tabik

2 Comments

2 Comments

  1. Avatar

    Ganjar Jstiono

    September 7, 2019 at 6:30 am

    Selamat jalan Kak Ncuss … Amal baik dan doa tulus klrg, sanak famili, sahabat dan kolega2 mengiringi kepergian kak Ncus menghadap-NYA… Semoga kemuliaan menemani istirahat kak Ncus di alam kubur. Amiinnn.

    Ganjar Jstiono ( sekira 1990 pernah merasakan di bina SKM Teknokra Unila, walau sebentarrr… 😀😏, Dlm masa yg sebentarrr itu, senang dan terkenang bisa merasakan ketauladanan dari kak Ncus)

  2. Avatar

    Ayid Suyitno PS

    September 7, 2019 at 9:11 am

    Ncus memang orang baik. Aku berteman dengan beliau saat satu kantor di Harian Berita Buana. Seiring wafatnya koran itu kami para alumni tetap bersahabat di forum WA kami. Ncus sosok yang sangat dihormati.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top