Pustaka

Kisah Menghibur Lagi Inspiratif dari Kaki Pesagi

Gunung Pesagi menjulang di kejauhan, puncaknya dibalut awan. Matahari temaram. Angin dingin berhembus kencang. Di atas kubah Masjid Bintang Emas yang mengerucut keemasan, sepasang burung Jalak menari berkejaran. Mereka hinggap di atap masjid bagian selatan, lalu bercericit dan berkicau melengking. Kicauan itu menggema seumpama kumandang adzan. Ya adzan dalam bahasa mereka, bahasa burung-burung.

DALAM tempo yang sesingkat-singkatnya — tentu dengan tetap melakukan aktivitas lainnya — saya mengkhatamkan novel terbaru Habiburrahman El Shirazy, Kembara Rindu 1 (diterbitkan Republika dan Lampung Post, 2019), kemarin. Tak lama setelah saya terima. Saya selalu riang-gembira mendengar, membaca atau membicarakan tanah kelahiran saya ini.  Menulis pun, entah puisi, cerpen, novel, atau tulisan lain lebih sering mengambil inspirasi dari Liwa.  Dan, paragraf pembuka novel Kembara Rindu 1 (selanjutnya disebut KR) di atas cukup membuat pikiran dan perasaan saya mengembara kembali pulang ke kampung halaman.

Interupsi: Novel Kembara Rindu akan diluncurkan dan dibincangkan di GKU 1 Lantai IV Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama Habiburrahman El Shirazi (novelis), Naqiyyah Syam (penulis), dan Sri Agustina (Redaktur Lampung Post) dengan keynote speech Parosil Mabsus.

Terima kasih Mas Habiburrahman yang memilih latar, antara lain Liwa Kota Berbunga untuk novelnya ini.  Dalam banyak kesempatan saya bilang, “Kota saya ini harus banyak ditulis. Tempatnya terpencil, tetapi soal destinasi wisata, termasuk sejarah, mitos, legenda, adat-istiadat, dan kulturnya sangat menarik. Tugas semua ulun Lambar untuk menuliskan apa saja yang ada di sekeliling mereka. Alhanamdulillah, kalau ada orang luar terpikat menuliskan Liwa.”

Dari sisi historis, wilayah Lampung Barat memiliki berlapis-lapis kisah sejak prasejarah, zaman Hindu-Budha, masuknya Islam, zaman penjajahan hingga kini. Prasasti Bawang atau Prasasti Hujung Langit, Prasasti Tanjung Raya I, dan Prasasti Tanjung Raya II, seperti juga situs Batu Berak dan situs Tapak Siring (Kunyaian) menjadi bukti dari peradaban yang sudah berkembang sejak berabad-abad silam di wilayah Lampung Barat. Semakin digali semakin banyak, saya yakin itu.

KR menjadi novel keenam yang saya baca yang sedikit-banyak menjadikan wilayah Liwa dan sekitarnya sebagai latar kisahnya.  Sutan Takdir Alisyahbana antara lain menulis begini dalam roman terkenalnya, Layar Terkembang (1936): “…telah sering ia memikir apakah sebabnya maka liburan ini lain rasanya dari sediakala. Dan di tengah keindahan alam di perjalanan ke Liwa dan ke Keroi, kegelisahan hatinya itu bertambah, seakan-akan oleh tamasya kepermainan dan kebesaran alam yang dilihatnya …” (Surat Maria kepada Yusuf)[1]

Lalu, walaupun Motinggo Busye tidak secara spesifik menyebutkan, saya merasa Desa Kumayan yang dijadikan setting novel Tujuh Manusia Harimau (1980) adalah Liwa dengan merujuk pada nama Pemangku (Dusun) Kunyaian, Pekon Tapaksiring, Kecamatan Sukau, Lampung Barat. Kebetulan film pula film 7 Manusia Harimau (1986) yang disutradarai Imam Tantowi dengan pemeran Ray Sahetapy (Gumara), El Manik (Lebai Karat), Anneke Putri (Pita Loka), dan Shinta Kartika Dewi (Harwati) shooting di Liwa.[2]

Yang ketiga, novel Musim Bunga di Kota Liwa karya Andy Wasis yang di antaranya menggambarkan suasana perkebunan kopi, embun Kota Liwa di pagi hari, dan kebiasaan setekut (pacaran ala muli-meranai Lampung zaman doeloe). Novel ini yang saya terjemahkan ke bahasa Lampung dengan judul Usim Kembang di Balik Bukik (2017).[3]

Berikutnya, novel sejarah karya Muhammad Harya Ramdhoni, Perempuan Penunggang Harimau (2011)[4] yang mengambil setting masuknya Islam ke Lampung Barat yang ditandai dengan ketibaan empat maulana (Nyerupa, Belunguh, Bejalan Diway, dan Pernong) dari Pasai, Aceh di Lampung Barat yang menggerusi kekuasaan dan mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Sekala Brak.

Terakhir, saya coba-coba bikin novel berbahasa Lampung – insya Allah — pertama di dunia, Negarabatin (2016)[5] dengan setting Liwa 1970-1986 sebelum saya urban ke Bandar Lampung. Novel ini diganjar Hadiah Sastra Rancage 2017.

Setelah ini, saya berharap Rosita Sihombing, Arman AZ, Ulil Amri atau siapa saja yang suka berkunjung (riset) ke Liwa, yang menelurkan novel berlatar Liwa, Lampung Barat. 🙏😀

***

Novel KR berkisah tentang Udo Ridho, santri Pesantren Darul Falah di Desa Sidawangi, di kaki Gunung Ceremai, Jawa Barat yang pulang pekon (desa) kelahirannya, Way Meranti di kaki Gunung Pesagi. Di mana Way Meranti? Habiburrahman berhasil meledek saya :

“Itu kayaknya. Itu sima’an sedang berjalan,” gumam Diana.

“Depan itu ada pertigaan kita ambil yang mana?” tanya Lina pada Diana.

“Mbak Lina yang orang sini masak nggak hafal daerah Way Meranti. Depan ambil kanan Mbak. Kalau lurus ke Hujung.”

“Iya. Aku orang Liwa. Tapi jarang ke daerah sini. Seingatku jauh beberapa tahun lalu aku pernah sekali ke sini,” tukas Lina.

Iya, sebagai orang Liwa, Udo Zul (saya maksudnya, hehee..) — yang masih kerabat para tokoh dalam novel ini seandainya karakter-karakter itu nyata, yaitu sama orang Liwa alias semarga (Marga Liwa), hahai do 🙂 — juga tidak tahu keberadaan Pekon Way Meranti sampai dikasih tahu sama novel ini.  Tabik, Mas Habiburrahman.

Sesampainya di pekon-nya, mantan Khadim Kyai Nawir dari Pesantren Nurul Falah Sidawangi ini  berhadapan dengan masalah pelik. Dua adik sepupunya,  Syifa dan Lukman yang yatim-piatu — sama halnya dengan dirinya yang juga yatim-piatu — sangat membutuhkan bimbingan dan bantuan, baik materiil maupun spiritual. Sepulangnya, ia juga menjumpai Kakek Jirun yang terbaring sakit parah, Nenek Halimah yang sudah mulai susah berjalan.

Mengajak Syifa, ia mulai membuka usaha berjualan ayam goreng. Lalu, karena sepi pembeli, diganti dengan gorong-gorengan. Namun, tetap tak maju. Sampai kemudian dikunjungi Kyai Sobron, putra Kyai Nawir yang mengasuh Pondok Pesantren Minhajus Sholihin, Bandar Lampung Bandar Lampung. Ikut bersama Bu Nyai Fathiyah, istri Kyai Shobron dan Diana, adiknya Kyai Sobron, yang dulu sempat diantar Ridho dari Sidawangi ke Bandar Lampung karena diterima  di Fakultas Kedokteran Unila.

Kyai Sobron mengingatkan Ridho dua hal, yaitu pesan dari pembimbing untuk menyelesaikan skripsi dan menyampaikan amanat Kyai Nawir untuk Kyai Harun dari Pondok Pesantren Kanzul Barokat, Bukit Kembang Kantil, Gisting, Tanggamus. Saat mengantarkan surat ke Kyai Harun, Ridho mendapatkan beberapa pesan. Pertama, kalau Ridho mau sukses dan mulia, ia harus memegang erat pusaka peninggalan kaket buyutnya berupa masjid di pekonnya. “Jangan kau telantarkan pusaka itu. Bahkan kalau kau cari rizki, ada di dekat pusaka itu. Makmurkan masjid depan rumahmu itu! Kau makmurkan rumah Allah, maka Allah akan memakmurkan hidupmu! Jangan khawatir tentang rizkinya Allah. Ingat, lebah yang berubah di dalam .hutan bahkan di lereng tebing gunung saja dikasih rizki sama Allah. Itu yang pertama.”

Kedua, waktu dan tempat adik Ridho (Syifa) berjualan di pasar itu bagus.  Pintu rezekinya bisa ia ikhtiarkan dibuka lebih lebar. Dengan banyak dzikir kepada Allah, dan menggunakan akal pikiran. Cari barang tambahan yang lalu dijual di situ. Ketiga, Ridho diminta paling lambat dua bulan mendirikan pesantren di pekonnya. Keempat, menyekolahkan lagi adiknya (Syifa).  Dan kelima, Ridho diminta jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.

Tak perlu lama setelah Ridho menjalankan lima pesan Kyai Harun, kehidupan Ridho dan keluarganya mulai memperlihatkan arah perbaikan. Ia mulai dengan menghidupkan masjid dan mendirikan pesantren di Pekon Way Meranti. Untuk urusan ekonomi, Ridho dan Syifa membuka dagangan yang serius di Pasar Pagi Simpang Luas Bakhu. Gorengan dan jenis kue yang biasa yang biasa Syifa jual tetap dipertahankan, bahkan jumlahnya ditambah. Di samping itu ia menggelar jualan “Bubur Ayam Jakarta”. Pembeli bubur ayam karena di tempat yang sama juga sering mencopot gorengan yang dijual Syifa. Pinjaman yang diberikan Kyai Shobron, ia pakai untuk menebus tanah kaketnya yang tergadaikan. Ia membuat kolam-kolam di kebun kakeknya, di sepanjang pinggir sungai. Ia tabur benih Ikan Nila di sana.

Skripsinya kelar, adiknya Syifa juga rampung belajar intensif selama dua setengah bulan dan lulus Kejar Paket C dari Pesantren Al Maqwa[6] di Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Syifa dan adiknya kemudian masuk Pesantren Pesantren Kanzul Barokat di Ginting, Tanggamus di bawah asuhan Kyai Harun.

Di akhir bab KR 1, saat acara khataman Qur’an di Pesantren Al- Ihsaniyyah, Way Meranti digambarkan pertemuan mengharukan antara Arlina asal Liwa yang juga mahasiswa Fakultas Kedokteran Unila dan Syifa. Keduanya bersaudara dari ayah yang sama, berbeda ibu.

Situasi menjadi gembira bercampur haru, karena Arlina tahu mamanya, Rosma dan kakaknya Arsita sangat membenci Nurlaila dan anak-anaknya,  Syifa dan Lukman.

Adik Syifa sudah hafal 25 juz, tinggal sedikit lagi akan selesai 30 juz. Dan saya membayangkan , kedua orang tuanya, yaitu Almarhum Bapak Haji Syahril Abror dan Almarhumah Ibu Nurlaila, pasti bahagia di alam kubur sana. Setiap saat dapat kiriman pahala dari anaknya yang setiap hari membaca Al Qur’an. Hadirin silakan istirahat sejenak. Yang sudah dapat minuman dan snack bisa dinikmati. Jam sepuluh kita lanjutkan!”

Lina nyaris terisak-isak mendengar nama ayahnya disebut. Ya, ternyata Syifa yang membaca Al Qur’an itu adalah adiknya. Dan adiknya telah memberikan kemuliaan dan nama 149 yang harum bagi ayahnya. Ayahnya disebut di majlis yang mulia itu. Tiba-tiba ia merasa betapa zhalim dirinya dan keluarganya. Selama ini menelantarkan Syifa dan adiknya. Seharusnya mamanya dan kakaknya hadir di situ. Hadir sebagai keluarga. Ikut mengaji dan bangga. Tetapi kenapa jurang permusuhan itu terus dilestarikan oleh keluarganya?

Lina ingin bangkit dan berlari ke depan lalu memeluk Syifa seat-eratnya. Ia ingin minta maaf atas perlakukan keluarganya kepadanya. Tiba-tiba ia merasa kerdil. Harta warisan ayahnya yang bermilyar-milyar itu seperti tidak ada harganya berhadapan dengan kemuliaan Al Qur’an.

Lina menyeka kedua matanya dengan ujung jilbabnya. Ia berjanji dalam hati bahwa setelah acara itu, ia akan memperjuangkan Syifa mendapatkan hak-nya. Dan ia sekali lagi harus terkesan dengan Ridho. Jadi dialah, sepupu Syifa yang datang ke rumahnya itu. Dialah orangnya. Ia yakin, dialah juga yang mendidik dan mengarahkan Syifa untuk belajar di pesantren dan menghafal Al Qur’an.

Lina menunduk, air matanya meleleh tak tertahankan.

Berhasilkan Lina alias Arlina memperjuangkan hak-hak adik-adik tirinya? Lalu, bagaimana arah kehidupan Ridho selanjutnya, agaknya buku kedua dari novel ini yang akan menjawabnya. Jadi, penasaran…

***

Dengan bahasa yang lancar, tidak berkelok, dan jernih, novel ini tampil memikat. Menghibur dan Inspiratif. Bagi pembaca yang mengenal dengan baik tempat-tempat yang disebutkan dalam KR 1 tentu akan sangat menjadi nilai plus yang akan menambah kenikmatan menyantap alur ceritanya. Misalnya ini:

Kota Liwa diguyur hujan. Kabut membentang menyambut rintik hujan. Perempuan berjilbab biru mengendarai SUV putih mewahnya dengan kecepatan sedang. Mobil itu memasuki jantung kota dingin yang diapit pegunungan. Setelah menyusuri Jalan Sudirman kini menapaki Jalan Raden Intan, berpapasan dengan dua gadis remaja yang naik sepeda motor berhujan-hujanan. Kira-kira tiga ratus meter setelah melewati sebuah resort di sebelah kanan dan sebuah bengkel besar di sebelah kiri, mobil itu belok kanan memasuki sebuah area rumah mewah bercat putih gading.

Tidak salah lagi, Arlina ini mestilah tetangga saya di Liwa. Huehehe…. Sst, jangan petcaya  ya.

Dan… astaga, Mas Habiburrahman melalui KR ini rupanya menegur saya. Saya ingat naskah novel berbahasa Lampung berjudul “Bandung” — yang dalam bahasa Indonesia terdapat di Bab Enam: Pertemuan novel ini – tegambui (terbengkalai) sejak 2017.  Novel yang baru bab satu ini berlatar gerakan mahasiswa Lampung 1990-an, gempa Liwa 1994, dan suasana perkebunan kopi Lampung Barat. Saya lelet sekali! Agaknya, saya mesti belajar menulis lagi dengan Mas Habiburrahman. Tabik. []


[1] Udo Z Karzi. “Jejak Literasi Liwa” dalam Udo Z. Karzi. 2014. Menulis Asyik: Ocehan Tukang Tulis Ihwal Literasi dan Proses Kreatif dengan Sedikit Tips. Metro: Sai Wawai Publishing. Hlm. 18—25.

[2] Udo Z Karzi. “Sinetron, Novel, dan Umpu Nyerupa” dan “Kunyaian, Istana Tapak Siring, dan Novel 7 Manusia Harimau”; kedua tulisan terdapat dalam Udo Z Karzi. 2019. Ngupi Pai: Sosobek Kecil Ulun Lampung. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK.

[3] Andy Wasis. 2017. Usim Kembang di Balik Bukik. Bandar Lampung: Pustakaa LaBRAK.

[4] Muhammad Harya Ramdhoni. 2011. Perempuan Penunggang Harimau. Bandar  Lampung: BE Press.

[5] Udo Z Karzi. 2016. Negarabatin. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK.

[6] Al Maqwa adalah singkatan dari Ma’had Qur’an Warosatul Anbiya. Kabarnya, dalam realitasnya pesantren ini didirikan Ustaz Udo Yamin Majdi yang berasal dari Krui.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kisah Menghibur Lagi Inspiratif dari Kaki Pesagi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top