Ramadan Karim

Tidakkah Kamu Berpikir?

Buku Tidakkah Kamu Berpikir? karya Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi. | Udo Z Karzi

ADA kalimat dalam Alqur’an yang berulang-ulang mengetuk kesadaran manusia: afalā ta‘qilūn—tidakkah kalian berpikir? Seruan itu hadir hingga 13 kali, seolah Allah tidak pernah lelah mengingatkan kita agar menggunakan akal. Membaca buku Tidakkah Kamu Berpikir? karya Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (terjemahan Irwan Kurniawan, Nuansa Cendekia, 2020), saya merasa sedang diajak duduk tenang, lalu ditanya dengan sangat personal: sudahkah aku benar-benar berpikir?

Buku ini menyadarkan bahwa akal adalah kemuliaan sekaligus amanah. Dengan akal, Allah memuliakan dan mengistimewakan anak-anak Adam di atas makhluk-makhluk lain. Kita mampu menimbang, merenung, memahami sebab-akibat, dan membedakan yang benar dari yang salah. Kemampuan itu bukan sekadar fasilitas biologis, tetapi anugerah spiritual. Tanpa akal, manusia tidak lebih dari makhluk yang digerakkan naluri.

Namun, kemuliaan itu dapat runtuh ketika akal tidak digunakan. Celakalah orang yang menyia-nyiakan akal-pikirannya. Kalimat ini terasa seperti cermin. Betapa sering kita memilih jalan pintas: menerima informasi tanpa tabayun, menghakimi tanpa memahami, membenci tanpa berpikir jernih. Malas berpikir kadang tampak sepele, tetapi dampaknya bisa besar. Ia membahayakan diri sendiri—karena kita mudah tersesat—dan membahayakan orang lain, karena keputusan yang lahir dari kebodohan dapat melukai banyak pihak.

Dr. at-Tijani menunjukkan bahwa berpikir bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan keselamatan. Orang-orang yang mau merenungi tanda-tanda kebesaran Allah, yang mengkaji ayat-ayat-Nya, yang memikirkan akibat dari setiap perbuatannya, akan lebih mudah menjaga diri dari maksiat. Dengan berpikir, seseorang menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Kesadaran itulah yang menyelamatkan dari siksaan neraka Jahim dan mengantarkan pada harapan menjadi penghuni surga.

Di sisi lain, Islam memberi pelajaran penting: amal perbuatan orang gila tidak diperhitungkan sampai ia sembuh. Ini menunjukkan bahwa akal adalah syarat tanggung jawab. Tanpa akal, tidak ada beban hukum. Maka selama akal kita sehat, tak ada alasan untuk lalai. Justru karena kita berakal, kita dimintai pertanggungjawaban. Di situlah letak kehormatan sekaligus risiko menjadi manusia.

Merenungi isi buku ini, saya merasa bahwa perintah “tidakkah kamu berpikir?” bukan hanya ditujukan kepada kaum kafir atau orang-orang yang ingkar, tetapi juga kepada kita yang merasa sudah beriman. Apakah iman kita lahir dari kesadaran atau sekadar warisan? Apakah ibadah kita dilakukan dengan pemahaman atau hanya kebiasaan? Tanpa berpikir, agama bisa berubah menjadi rutinitas kering, bahkan alat pembenar ego.

Buku ini mengajarkan bahwa berpikir adalah ibadah. Ia menghubungkan akal dengan hati. Berpikir yang benar akan menumbuhkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Sebab semakin dalam seseorang merenungi ciptaan Allah, semakin ia sadar betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran-Nya.

Jadi, Tidakkah Kamu Berpikir? adalah ajakan untuk kembali memuliakan akal. Dunia hari ini dipenuhi kebisingan, opini, dan provokasi. Di tengah hiruk-pikuk itu, mungkin yang paling kita butuhkan bukan suara yang lebih keras, tetapi pikiran yang lebih jernih. Sebab, dengan berpikir, kita menjaga iman, menyelamatkan diri, dan menunaikan amanah sebagai manusia yang dimuliakan. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top