Cerita Pendek

Paus Merah Mawar

Cerpen Kiki Sulistyo

RAMBUTNYA merah. Jubahnya merah. Berdiri di atas batu karang, di depannya ada keranjang besar. Di dalam keranjang ada setumpuk bunga mawar. Angin laut menampar-nampar, ujung jubahnya berkibar-kibar. Mengangkat kedua tangan, kepalanya mendongak seakan ada yang sedang dicari di angkasa. Beberapa saat kemudian dimasukkannya kedua tangan ke dalam keranjang, lalu bunga-bunga itu dihamburkan ke laut. Serakan mawar terapung di permukaan air yang tenang, seperti bercak-bercak merah di atas bidang biru. Lantas keranjang dinaikkan ke sampan yang tadi ditambatkannya pada karang.  

     Ia kembali berbalik menghadap laut luas. Setelah memejamkan mata sebentar, lantas duduk bersila. Kedua tangannya diletakkan di lutut seperti orang samadi. Serombongan camar laut berputar di kejauhan seperti kertas-kertas tipis dipermainkan angin. Cahaya matahari lembut saat partikel-partikel kecil membiaskan warna tembaga. Tak lama lagi akan malam. Ia terus duduk bersila dalam diam.

     Permukaan air yang tadinya tenang mulai bergejolak manakala matahari telah berada di tubir tenggelamnya. Gerak ombak jadi lebih cepat dan keras menghantam karang. Meski air garam sudah membasahi tubuhnya, ia tetap bergeming, seakan sudah benar-benar tertancap di batu karang itu. Ketika matahari lenyap seluruhnya, angkasa raya mulai menampakkan benda-benda bercahaya. Dari tengah laut, suatu buntalan besar bergerak menuju batu karang tempatnya samadi. Buntalan itu merah dan berpendar, seolah terbuat dari fosfor. Sampai di dekat karang, benda itu melompat tinggi, melintasi tubuh yang diam itu. Tubuh itu pun bergerak, berdiri tegak. Benda itu kembali berputar ke posisinya tadi, seakan abdi yang hendak menghadap tuannya. Benda itu; seekor paus besar, paus merah mawar.

     “Setiap kali ada peristiwa besar, ia akan muncul memanggil paus itu,” ujar Papu Ayi. Saat itu sudah hampir tengah malam. Suara sirine terdengar dari jalanan. Sayup-sayup ada juga terdengar suara orang mengaji. Di atas tikar, antara aku dan Papu Ayi, dua gelas berisi tuak menunggu kami. Wajah Papu Ayi sudah memerah, aku yakin wajahku juga. Ada rasa memar yang di wajahku. Kami sudah setengah mabuk.

     “Paus besar itu akan membawanya ke dasar laut. Ia pergi menemui dewi laut untuk minta petunjuk. Kau tahu, kenapa aku dan beberapa orang di sini selamat dari peristiwa pembantaian besar-besaran puluhan tahun lalu? Ia muncul waktu itu, dan setelah kembali dari laut, ia menyulap kampung ini menjadi kampung yang tidak terlihat. Tidak ada orang luar yang bisa masuk. Kau tahu kan peristiwa besar yang aku maksud?”

     Aku mengangguk. Ia menenggak lagi tuaknya. Aku mengikuti. Sebenarnya aku sudah mulai mual. Aku tidak begitu menyukai tuak aren, sebab rasanya dingin dan cepat membuat kembung. Berbeda dengan brem, fermentasi ketan, yang terasa hangat di badan.  

     “Tunggu saja. Sebentar lagi ia pasti datang. Dunia sedang menghadapi masalah besar. Kampung ini juga akan terkena imbasnya. Kalau satu orang saja di kampung ini ikut terkena, itulah saatnya paus merah mawar akan muncul.”

     “Papu pernah lihat langsung binatang itu?” tanyaku usai satu sendawa yang keras. Ia dipanggil “papu” karena sudah demikian tua, bahkan mungkin lebih tua dari kakekku. Perawakannya kurus kering, kulitnya legam, hingga keseluruhan tubuhnya mirip kayu hangus. Rambut keritingnya sudah kelabu semua, sebagaimana selaput matanya. Ia mengenakan singlet putih dan kain sarung coklat kusam. Sepertinya sarung itu dulu berwarna hijau, tetapi waktu -seperti diketahui oleh siapapun yang suka memperhatikan- selalu bisa mengubah apa saja.

     Papu Ayi terkekeh mendengar pertanyaanku. “Kalau aku tidak melihatnya sendiri, mana bisa aku ceritakan peristiwa tadi?” Ia tenggak lagi tuak dalam gelas, lalu melahap daging siput goreng yang tersisa sedikit, sebelum mengisi kembali gelasnya. Aku lihat tuak dalam kocor mika itu tinggal sedikit, kira-kira dua gelas lagi.

     “Papu, kalau tak salah ingat, saya pernah dengar cerita tentang paus itu dari kakek saya. Saya juga pernah dengar dari beberapa orang kalau leluhur saya sebenarnya berasal dari kampung ini. Karena itu saya ke sini, mungkin saya bisa mengetahui apakah cerita itu benar atau tidak,” ucapku. Pembicaraan tentang paus baru terjadi saat hari sudah malam, padahal aku datang sebelum petang. Papu Ayi tampaknya tidak mudah membicarakan paus itu. Ia butuh saat yang tenang dan bergelas-gelas tuak untuk bisa bercerita, seakan cerita paus itu adalah rahasia besar.

     “Oh ya? Siapa nama kakek kau itu?”

     “Ismail.”

     “Eh, banyak sekali orang bernama Ismail. Tapi sebentar, dulu ada orang di kampung ini, namanya Ahab. Dia seorang pemimpin nelayan hingga sering dipanggil Kapten Ahab. Kalau tak salah anaknya bernama Ismail. Bocah itu sering ikut ke laut,” Papu Ayi berucap sembari memijit-mijit kepalanya seakan dengan begitu ingatannya akan lebih terang. “Pada suatu musim badai, Kapten Ahab dan kapalnya berlayar dan tak pernah kembali lagi. Cuma itu yang aku ingat. Ah, tapi tak mungkin kakekmu adalah Ismail anak Kapten Ahab itu. Ia pasti sudah mati ditelan badai.”

     “Kapten Ahab yang kakinya pincang?” tanyaku menyambar keraguannya.

     “He, kau tahu rupanya. Betul, aku ingat kaki kanan Kapten Ahab pincang..”

     Saat itu kembali terdengar bunyi sirine dari jalanan. Hamparan pantai yang dekat dari situ cukup dikenal sebagai tempat orang rekreasi. Apalagi setelah pemerintah menyulap kawasan pantai itu jadi objek wisata, semakin ramailah orang berkunjung, kadang sampai larut malam, bahkan tak jarang sampai pagi, terutama anak-anak muda yang menghabiskan malam dengan bermain gitar dan mabuk-mabukan. Mungkin karena itu petugas-petugas pengawas masih berpatroli selarut ini, takut masih ada orang berkumpul meski larangan sudah diumumkan jauh-jauh hari.

     Begitu suara sirine lenyap, Papu Ayi terdiam. Matanya memicing tajam dan telinganya bergerak-gerak. Tak berapa lama kemudian terdengar suara berkukuk. Papu Ayi menaruh telunjuknya di bibir, melarangku mengeluarkan suara sekaligus memintaku mendengarkan. Aku tahu itu suara burung, tapi aku tak tahu burung apa.

     “Ia akan datang. Kau mau ikut melihatnya?” Papu Ayi tiba-tiba berdiri. Dengan sempoyongan ia masuk ke dalam kamar. Aku masih duduk bersila sampai ia keluar kembali, sudah mengganti sarung dengan celana gombrong, mengenakan jaket dan penutup kepala. “Ayo, kau mau ikut atau tidak?” serunya dengan suara ditahan meskipun di rumah ini aku tidak melihat ada orang lain. Aku berdiri, pengaruh alkohol segera menyergapku. Aku nyaris jatuh ke belakang kalau saja tidak ada tembok yang menahan. Papu Ayi terkekeh, tapi tanpa menunggu ia bergegas keluar.

     Papu Ayi tidak membawa senter, rupanya ia takut juga pada petugas patroli. Kami harus melangkah pelan-pelan di sepanjang gang yang tanpa lampu penerang. Sampai di jalan, Papu Ayi memilih berjalan melalui bagian belakang pohon-pohon yang dekat dengan selokan. Beberapa kali aku tersandung, untung saja aku masih bisa menguasai diri. Sepanjang jalan Papu Ayi tidak berkata apa-apa, tetapi begitu tiba di pantai dan Papu Ayi memilih duduk di bawah sebatang pohon waru sembari menghadap laut, ia bertanya, “Eh, siapa nama kau tadi?”

     “Herman. Herman Malvili.”

     “Dengar. Papu Mobi akan datang sekarang. Tapi kau jangan sembarang cerita, kau dengar?”

     “Papu Mobi?”

     “Iya. Papu Mobi si arwah merah. Ia akan bantu kampung hadapi wabah.”

     Aku mau berterus-terang padanya, bahwa sebenarnya kedatanganku tadi hanya untuk menemui Sirin. Kami sama-sama bekerja di sebuah usaha kecil pengolahan ikan. Sirin yang menceritakan padaku tentang Ismail dan Kapten Ahab. Terus terang, aku menyukainya. Sejak tempat kami bekerja ditutup karena wabah, aku sering memikirkannya. Nomor ponselnya tak bisa dihubungi. Satu-satunya bekalku adalah bahwa Sirin tinggal di hunian tadi. Tetapi orang-orang menunjuk rumah Papu Ayi; sekarang aku ragu Sirin punya hubungan dengan lelaki tua ini. Sayangnya, tadi aku tidak langsung bertanya soal Sirin. Mungkin sudah sering orang-orang datang ke rumah Papu Ayi, sehingga ia tidak bertanya keperluanku. Sungguh, meskipun menarik, aku tidak percaya pada semua ceritanya tadi.

     Angin malam di pantai seperti membacok tulang-tulangku. Pengaruh alkohol dari tuak segera lenyap seakan diisap udara. Untung aku tidak lupa membawa jaket, dan maskerku masih menggelantung di leher. Karena Papu Ayi tak berkata apa-apa kecuali bergumam kecil seperti sedang bersenandung, aku jadi mengantuk. Dengan segera aku terlelap dalam posisi duduk.

     Rasanya cukup lama sampai kemudian aku kembali terjaga. Tak ada siapa-siapa di dekatku. Cahaya matahari sudah terlihat di langit, memancarkan spektrum kemerahan. Aku segera berdiri. Sialan, kakek tua itu telah meninggalkanku sendirian semalam suntuk. Pantai benar-benar sepi, aku merasa menjadi satu-satunya manusia yang tersisa di bumi. Kutatap hamparan laut, demikian luas dan agung. Mataku tiba-tiba terpaku oleh suatu pemandangan; di sepanjang tepi laut -terbawa dan terseret kembali oleh ombak- aku lihat kuntum-kuntum mawar, merah berpendar-pendar.

Mataram, 7 Mei 2020     

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top