Pustaka

Mamak Kenut, Negarabatin, Ngupi Pai …

“MAMAK Kenut, api kabar (apa kabar)?”

Ui iya, sudah lama memang Mamak Kenut dan kawan-kawannya, Mat Puhit, Minan Tunja, Pithagiras, Udien, Radin Mak Iwoh, Pinyut, … tak memainkan peran mereka sebagai “tukang recok” di Negarabatin yang penuh warna; sambil ngupi pai..

Begitulah, saya cuma bisanya nulis pendek-pendek. Sekira 2.500 karakter atau tak lebih dari 3.000 karakter saja. Mengarang bebas. Jumlahnya ratusan, tersebar di koran-koran tempat saya pernah bekerja: Sumatera Post, Lampung Post, Borneo News, Fajar Sumatera, dan Lampung News. Sebelumnya, di pers mahasiswa: Surat Kabar Mahasiswa Teknokra dan Majalah Republica.

Di antaranya terhimpun di tiga buku: Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh (2012), Ke Negarabatin Mamak Kenut Kembali (2016), dan Ngupi Pai: Sesobek Kecil Ulun Lampung (2019).

Masih banyak yang tercecer dan tak terdokumentasi. Sebab, sebelum buku Mamak Kenut terbit, saya sempat berpikir, tulisan-tulisan begini ini apalah….

Seorang teman, bilang “Saya sih menulis yang pribadi saja. Tak ada faedahnya.”

“Ya, tulis-tulis saja. Apa pun tentang manusia mestilah menarik dan karena itu ada kemanfaatannya,” sambar saya

Hehee… Saya memang sengaja ngomong gitu. Soalnya, sekarang-sekarang ini apalah yang saya tulis. Penting nggak. Narsis iya.

Tapi, senarsis-narsisnya tulisan tetapnya narsis…

***

Itu sudah, balik lagi, bikin buku ternyata gak gampang. Membaca buku yang terbit awal-awal reformasi, saya bersemangat menghimpun tulisan saya di bawah judul “Anak Muda Minta Perubahan” (2001). Tiga penerbit di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung mengembalikan dengan baik-baik naskah saya disertai surat. Bunyinya sama: “Naskah yang bagus, cuma….”

Saya lupakan keinginan punya buku sendiri dengan penerbitan komersial. Eh iya, buku pertama saya Momentum: Kumpulan Sajak Dwibahasa Lampung-Indonesia diterbitkan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, 2002.

Tahun 2005 saya tergoda lagi untuk menerbitkan tulisan pendek-pendek saya. Ada 101 tulisan yang saya tulis untuk kolom Nuansa Lampung Post tahun 2002–2004. Saya senang. Ada sebuah penerbit lokal yang berniat menerbitkan buku Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh yang semula berjudul “Mamak Kenut: Sketsa-sketsa Negarabatin”.

Sudah riang-gembira buku bakal terbit, ehh… dapat kabar, buku tak jadi terbitkan karena sesuatu dan lain hal. Saya lemas…

Susah kayaknya menerbitkan buku model beginian. Sama susahnya dengan menerbitkan buku puisi berbahasa Lampung. Hahaa…

Makanya, saya menganggap suatu keajaiban kalau kemudian Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh  benar-benar diterbitkan Indepth Publishing, 2012. Cukup lama, 7 tahun kemudian.

Barulah setelah itu mulai lahir beberapa buku saya yang lain. Tidak banyak!

Dan, saya selalu ikut berbahagia setiap mendengar orang bisa melahirkan “anak-anak ruhani” mereka.

Saya tahu itu tidak mudah. Mesti melalui perjuangan yang berdarah-darah.

Tabik! []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top