Kolom

Produktif Menulis

“TIDAK MENULIS untuk…?” seorang redaktur menyebutkan nama majalah yang ia kelola.

Saya heran juga, mengapa bertanya begitu. Mengapa pula ia tak langsung meminta saya menulis dan memberi saya honor. Hehee…

Karena itu, saya bertanya balik, “Memang… (saya menyebutkan nama majalah tadi) pernah meminta saya menulis?”

“Lo, harus diminta?”

“Iya geh. Saya kan penulis pesanan.”

Saya tertawa. Si ibu redaktur diam. Tapi. saya juga tak berusaha menjelaskan lebih lanjut.

Entah, apa yang dipikir redaktur tadi tentang saya. Penulis sok, jual mahal, penulis matre, atau…. apa gitu! Biarlah…

Tapi benarlah. Sudah sekian tahun, saya tak mengirim tulisan apa pun ke media atau untuk antologi bersama, kecuali diminta atau dengan alasan tertentu, yang tak harus terkait dengan honor.

Semenjak di-black list oleh sebuah media untuk alasan yang tidak masuk akal (mungkin karena tulisan saya bagus. dan, tulisan bagus suka bikin orang susah tidur, susah makan, hehee…) saya sekarang sangat sensitif dan pelit menulis, bahkan sekadar memberikan komentar.

Bayang pun, sudah semangat-semangat menulis dan mengirim ke koran, ehh… dimuat tidak. Atau, sudah berapi-api menjawab wartawan untuk suatu tema, ee… sepotong komentar pun dari saya tidak masuk dalam berita/tulisan si wartawan.

Ini bukan soal honor. Tapi, gimanalah kalau secara saya nulis atau diwawancaeai tak dimuat gitu.

Tega benar!

Karena itu, sebagaimana Dahta Gautama, saya kini produktif menulis di Facebook. Meskipun, kata Kurniawan Junaedhie, “Menulis di WAG (WA Grup) atau di Sosmed itu fana. Kayak nulis di air, cepet kintir, hanyut, pergi ke laut.”

Tak apa!

Cuma, sesekali muncul di buku, jangan pula dimasalahkan ya.

Tabik. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top