Orang Liwa Mau ke Lampung…
- Foto: Eka Fendiaspara Alliwa.
“MAU KE LAMPUNG.” Begitu kata orang Liwa yang hendak bepergian ke Tanjungkarang tahun 1960-an sebelum Provinsi Lampung terbentuk pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1964 yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu, Provinsi Lampung merupakan Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan.
Pada saat itu, Liwa adalah wilayah Kewedanaan Krui yang merupalan bagian dari Keresidenan Bengkulu. Jadi, sebelum ada Provinsi Lampung, orang Liwa adalah orang Lampung yang dimasukkan ke Bengkulu, tetapi banyak berurusan dengan Palembang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan.
“Oh, pantesan orang Liwa suka mendua eh mentiga malah. Mak jelas! Ngaku orang Lampung, nyatanya masuk Bengkulu, tetapi dianggap orang Palembang juga tak salah karena dekat Danau Ranau yang terletak di dua provinsi (Lampung dan Sumatera Selatan), setelah Provinsi Lampung lahir,” komentar saya mendengar cerita senior sesama Rojali (Rombongan jak Liwa) di Kemiling, Bandar Lampung, Kamis siang, 30/12/2020.
***
Ah, sejak bergaul dengan Arman AZ dan Bu Frieda Amran, menggawangi rubrik “Lampung Tumbai” dan kemudian “Lappung Beni“, saya kok cenderung menyukai “masa lalu”. Tapi, saya serbananggung, hehee… Soalnya waktu Arman menyodorkan naskah kuno beraksara Lampung kuno, saya jadi gelagapan. Mak pandai api-api (tidak tahu apa-apa).
***
Balik lagi ke soal Liwa. Kata Abang tadi yang namanya tidak usah disebutkan (sebisanya saya kutip sesuai dengan apa yang ia ucapankan):
“Karena dulu Liwa masuk Provinsi Sumatera Selatan, wajar banyak orang Liwa yang bekerja di Palembang.
Terus, kalau ditanya siapa orang Liwa yang asli, jawabnya tidak ada. Liwa itu tempat orang liwat (lewat) dan berkumpul. Saya misalnya, buay saya Belunguh. Orang Liwa lain ada yang Buay Pernong, ada yang Buay Bejalan di Way, dan ada juga Buay Nyerupa. Terus, ada juga darah Banten yang membantu Paksi Pak menyebarkan Islam di wilayah kita dulu.
Nah, kalau Negarabatin (sekarang: Pasar Liwa) lebih heterogen lagi. Semua datang ke sini, jadi pedagang, jadi petani, jadi tukang, jadi guru, jadi pegawai Belanda, … jadi apa saja mencari penghidupan di sini. Dulu juga, Pesirah Marga Liwa yang diangkat Belanda dari Pernong.
Rumah Pesirah Liwa dulu itu di Negeriagung. Sayang bangunannya rusak pascagempa.
Jadi, tak usahlah ngaku-ngaku asli Liwa!”
Hal lain, kata Abang tadi, “Sayang, Tugu Merdeka Liwa diganti dengan Tugu Kayu Hara (Pohon Ara). Tadinya kan Tugu Kayu Aro itu di Kotabumi. Sekarang yang di Kotabumi berganti pula dengan Tugu Payan Mas. Tugu Merdeka, Lapangan Merdeka dan bangunan-bangunan lama peninggalan Belanda yang mengelinginya, Kantor Polisi, Masjid Almansyur Almadani, termasuk Gedung SDN 1 Negarabatin adalah bagian dari sejarah keberadaan Marga Liwa. Menghilangkan itu semua kan sama dengan menghilangkan sejarah.”
“Tugu Hara bagus juga dan jadi ikon baru Liwa,” kata saya.
“Iya, untungnya bagus!”
Ia pun melanjutkan, “Sekarang kami sedang berjuang untuk mengembalikan nama Air Terjun Curup Subhan yang tiba-tiba diganti dengan Air Terjun Tirtonadi. Ini tidak benar. Namanya ini sudah sejak lama Curup Subhan. Kan ada cerita dan sejarahnya. Kita ini bikin nama-nama tak sembarangan. Harusnya nama-nama yang sudah ada, dikenal, dan diingat orang jangan diganti-ganti. Sudah tercatat juga sebagai nama geografi.”
Banyak cerita dari masa lalu yang dikisahkan Si Abang. Ingatannya tentu lebih panjang dari saya karena memang usianya jauh di atas saya. Hiks…
Tabik! []