Cerita Pendek

Cinta Sambal Seruit

Cerpen Firman Fadilah

SETIAP pagi, jemari mungil lentik Lina selalu disibukkan dengan tumpukan cabai, tomat, dan bawang merah. Tangannya begitu terampil memilih dan memilah rempah-rempah segar yang akan dibuat sambal seruit.

Dua buah tomat ia potong menjadi empat bagian. Cabai rawit dan cabai keriting ia pisahkan dari tangkainya. Kulit tipis bawang merah yang melekat ia pisahakan dari daging bawang. Lalu, ia potong menjadi bagian kecil. Matanya memerah.

Lina, gadis yang baru merangkak dewasa itu tumbuh dalam keluarga pencinta sambal. Ibunya, Juriyah merupakan seorang pemilik restoran termegah di Lampung. Aroma kelezatan masakannya hingga terhidu sampai ke negara tetangga. Menu yang paling terkenal adalah sambal seruit. Pedas yang menampar pipi membuat gelagapan dan megap-megap, tetapi nikmatnya membuat lidah merindukannya lagi, lagi, dan lagi. Membuat tangan tak henti-henti menjejalkannya ke dalam mulut bersama lauk pauk lainnya.

Kepandaian Bu Juriyah dalam memasak tak diragukan lagi. Tak ayal, kepiawaiannya dalam memasak menurun ke dalam darah anak semata wayangnya. Impiannya menjadikan puterinya sebagai penerus restoran telah tampak di depan mata.

Ayahnya yang merupakan seorang pengusaha kain tapis telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Usaha itu tutup selepas meninggalnya ayah sebab tidak ada yang meneruskan usaha itu. Lina masih terlalu muda dan tak banyak pengalaman dalam berbisnis. Oleh karena itu, setelah Lina menginjakkan kaki di pelataran dunia kedewasaan, ibunya selalu mendesaknya untuk segera menikah.

“Tapi nanti setelah Lina lulus S2!” sanggah Lina.

“Kamu itu sudah pantas berkeluarga! Kamu kan bisa melanjutkan kuliah setelah menikah! Lihat, Emakmu ini sudah tua, sudah banyak penyakit yang mengintai. Kalau Emak mati, siapa yang akan duduk di samping pelaminanmu?”

“Ssshh! Istighfar, Mak! Jangan ngomong seperti itu! Emak masih sehat.”

“Kalau kamu sudah menikah, kamu bisa membangun lagi bisnis ayahmu. Itu adalah bisnis yang bagus. Siapa lagi yang akan menghidupkan kembali budaya nusantara kalau bukan kita? Kau lihat itu kain-kain dari Jawa yang diaku negara tetangga. Kita telah berkhianat pada leluhur sebab lalai menjaga budaya!”

“Tapi, L—ina belum siap, Mak!”

“Mau sampai ka….” Kata terakhir terpasung oleh batuk.

“Mak!” jerit Lina. Ibunya terbatuk sambil menebah dada. Lina yang panik langsung merangkul ibunya.

“Dada Emak sesak, Lina,” rintih ibunya yang sangat pelan, pelan sekali.

Kejadian itu masih terpampang jelas di ingatan Lina. Kini, ibunya hanya bisa berbaring di atas ranjang. Untuk sementara waktu, semua pekerjaan Lina yang menangani termasuk menjalankan usaha restoran ibunya dengan dibantu beberapa asisten.

Minyak panas sudah meletup-letup. Lina memasukkan semua bahan sambal ke dalam penggorengan termasuk terasi seukuran permen karet. Sedang fokus menggoreng, tiba-tiba senandung lagu disko menggetarkan telepon pintarnya. Ada sebuah panggilan masuk. Lagu itu terus mengalun hingga akhirnya berhenti. Lagu itu kembali berbunyi, kemudian berhenti sebab lelah menunggu jawaban. Lina hanya memperhatikan panggilan dari Joni tanpa menjawab atau menolak. Lalu, ia kembali fokus pada rempah-rempah yang sudah masak.

Semua bahan ia masukkan ke dalam cobek. Ia tambahkan garam dan gula, serta perasan jeruk nipis di akhir. Sambal yang akan dibuat kali ini ia tambahkan serutan mangga kuini. Lina belum pernah membuat menu ini sebelumnya. Dengan buku resep yang terpampang di hadapannya, Lina dengan pasti mengikuti langkah-langkahnya.

Mangga kuini yang digunakan adalah mangga yang setengah masak sebab rasanya asam bercampur manis, rasa yang Lina cari. Mangga kuini yang setengah masak itu ia kupas perlahan agar ujung pisau yang tajam tidak menyayat tangannya juga agar tidak menggores cincin berlian yang terselip di jari manisnya.

“Pokoknya kamu harus segera menikah!”

“Sama siapa, Mak!”

Lina yang tadinya tampak sedih, kini tampak cemas dipeluk bingung. Kondisi ibunya belum benar-benar membaik. Yang ada di pikiran ibunya hanya menikah sedangkan mencari tambatan hati tidaklah semudah menjaring ikan di kolam. Tidak banyak lelaki yang ia kenal sebab hari-harinya selalu disibukkan dengan membaca. Ia banyak menghabiskan waktu dengan mempelajari resep masakan dari ibunya.

Lina adalah seorang gadis yang cantik. Jika saja dia keluar rumah, mata siapa saja pasti langsung terpikat oleh keanggunannya, terutama para kaum lelaki.

“Emak punya seorang kenalan.”

Malam yang dingin menyelimuti sebuah pertemuan yang tidak diinginkan. Dua keluarga berkumpul dalam ruangan megah. Akhirnya, perkenalan itu pun terjadi. Tentu, ini demi ibu dan bisnis keluarganya walau dalam benaknya, Lina belum siap diperkenalkan dengan lelaki mana pun.

Lelaki yang diperkenalkan itu bernama Joni. Tampangnya cukup ideal untuk seorang wanita seperti Lina, tapi tidak ada sedikit pun rasa yang bisa menariknya ke luar dari kesendirian. Mereka saling lirik dan bertukar senyum malu-malu. Dari tatap mata mereka tersembunyi rasa penasaran dan rasa ingin saling mengenal.

Perkenalan berjalan sangat baik dan mengantarkan mereka pada sebuah hubungan. Joni dan Lina terlihat seperti layaknya sepasang kekasih lainnya. Mereka keluar berdua untuk menonton, makan, berbelanja, hang out dengan teman-teman, dan aktifitas lain yang biasa dilakukan seorang yang sedang dilanda cinta.

Kondisi ibu perlahan membaik sebab hubungan Lina dan Joni semakin akrab. Joni yang berlatar belakang seorang pengusaha dianggap mampu menghidupkan lagi bisnis keluarga Lina. Meski tak pernah terlontar kata cinta, hubungan mereka berjalan baik dan berakhir dengan sebuah pertunangan. Hanya butuh waktu satu bulan dan jemari mereka telah terikat cincin.

Hari dengan pasti berganti. Lina mulai mengenal Joni, begitu pula sebaliknya. Awalnya, ia menganggap sebuah hubungan adalah hal yang sangat merepotkan. Ia belum siap sakit hati dan dibohongi. Banyak teman-temannya yang mengalami hal demikian. Perceraian, perselingkuhan, dan pengkhianatan hanya akan menambah beban dan stres. Lina hanya sudi melakukan ini demi ibu dan bisnis keluarganya. Namun, setelah bertemu dengan Joni, cinta tidaklah seburuk yang ia kira walaupun ini adalah cinta yang dipaksakan.

Dan, cinta yang buruk itu akhirnya terjadi. Joni adalah lelaki yang pandai bergaul sebab seorang pebisnis memanglah banyak relasinya. Sedangkan Lina hanya sibuk di dapur, membolak-balik buku resep, mencobanya, atau menambah resep baru yang ia buat sendiri.

Di sebuah supermarket, tak sengaja Lina melihat Joni dengan seorang wanita. Sepertinya itu adalah asistennya, tetapi apakah patut seorang asisten dan atasannya saling beradu bibir? Seketika, kepala Lina padat sesak dengan tanda tanya besar. Ingin sekali rasanya lari lintang-pukang, lalu menampar pipi lelaki itu. Namun, ia ingat akan ibu dan bisnis keluarganya. Lina pergi dengan linangan air mata dan perasaan yang biasa-biasa saja, toh memang tidak pernah terucap kata cinta di antara mereka.

Hubungan terus berlanjut hingga mereka mantap untuk menentukan tanggal pernikahan. Mereka jalan bersama untuk memilih baju yang akan dikenakan di hari pernikahan. Seperti tidak ada hal ganjil yang pernah terjadi, mereka tertawa, tersenyum, dan bergandeng mesra. Mereka memamerkan kemesraan kepada orang-orang yang tampaknya iri dengan keberuntungan mereka.

Barangkali Lina pandai menyembunyikan luka cinta yang ia takutkan dulu sebab ia selalu bertingkah biasa. Ia selalu merasa biasa-biasa saja seperti ketika ia melihat Joni bercumbu di parkiran mobil dengan wanita yang tak pernah ia kenal. Seperti ketika ia tak sengaja mendengar percakapan Joni dengan seorang wanita melalui telepon pintarnya dan Joni dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak mencintai Lina. Seperti ketika mereka berdua, seperti saat ini dan yang dihidu dari tubuh Joni selalu parfum yang berbau feminim. Lina selalu merasa biasa-biasa saja. Ketika ia merasa butuh dan memanggil Joni untuk meminta bantuan, Joni selalu mangkir.

[Aku sedang sibuk,] balas Joni, padahal dari atas lantai tiga, Lina bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan Joni dengan terampil meraba-raba paha dan pipi seorang gadis di belakang mobil.

Mangga kuini telah selesai dikupas. Bau asam dan manis mengundang air di dalam mulut untuk menggenang, kemudian menggantung hingga hendak jatuh. Ia serut mangga itu menjadi bentuk kecil yang memanjang seperti mi. Lalu, ia taburkan serutan mangga kuini itu di atas sambal dan mengaduknya perlahan.

Sepucuk sambal ia nikmati perlahan. Rasanya manis, asam, dan pedas sesuai dengan ekspektasinya. Namun, ia tak mungkin menghabiskan sambal itu semuanya sebab perutnya pasti akan terasa sangat mual dan berujung pada frekuensi buang air besar yang tidak terkontrol.

Ia resapi setiap perpaduan rasa. Rasa yang sama seperti hubungannya. Lina pikir hanya nikmat saja yang bisa dirasa, tetapi sakit hati juga adalah konsekuensinya. Ibu dan bisnis keluarga adalah pemantik semangat bagi Lina untuk terus mempertahankan hubungan yang menjemukan ini dengan berpura-pura bodoh jika tidak ada hal buruk yang pernah terjadi.

Percobaan hari ini berjalan dengan lancar. Lina telah berhasil membuat sambal dengan rasa yang baru. Tiba-tiba, telepon pintarnya kembali berbunyi. Panggilan dari Joni. Lina membalas panggilan itu dengan pesan singkat.

[Aku sedang sibuk.] Ia tambahkan emotikon senyum di akhir. Haruskah aku yang selalu dibohongi? gumamnya.

Cincin di jari manisnya mengkilat. Matahari hendak bersembunyi di balik bukit. Ia remas cincin itu perlahan. Ia putar, kemudian menariknya, lalu ia letakkan ke tempat semula. Ingin sekali rasanya membuang cincin itu, tetapi hanya dengan mempertahankan bentuk dan rupa cincin itu di jari manisnya, ibunya bisa melihat jika hubungan mereka berjalan normal dan baik-baik saja.

Lina mencicipi sambal itu sekali lagi. Lamat-lamat matanya menatap matahari yang hendak pulang. Ia pejamkan mata, menyecap nikmatnya sambal seruit. Di pipinya, mengalir sungai yang deras. l

10 Oktober 2020

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top