Kolom

Mengarang Bebas

SAYA berikan buku Ngupi Pai: Sesobek Kecil Ulun Lampung (Pustaka LaBRAK, 2019) kepada Mamak Dan di Negarabatin, Liwa, Selasa, 9/7/2019 di sela-sela ngelemang sebelum diluncurkan dalam Festival Kopi Lampung Barat 2019.
Api inji?”
“Buku karanganku.”
Api… O, prosa ya?”
“Karangan bebas gawoh, Mamak.”
Iya, saya sendiri menjadi bingung menyebut jenjs tulisan saya yang dimuat dalam Ngupi Pai ini. Saya sebut cerita ringan, kisah sambil lalu, tulisan nggak serius amat, curhat, atau apa geh. Mau dibilang esai, kolom atau prosa, saya khawatir tak memenuhi syarat. Hehee…
Bang Iwan Nurdaya-Djafar setelah membolak-balik buku //Ngupi Pai// saat bertemu di rumah Bang Anshori Djausal di bilangan Way Halim, Bandar Lampung, Selasa, 23/7/2019, bilang “epigram”.
“Iya, Bang. Tulisan-tulisan saat suntuk atau belum ngantuk. Hehee…,” sahut saya.


Ya, sudahlah. Sekarang saya tidak terlalu hirau dengan bentuk, jenis atau kategori tulisan. Apalagi sekarang ini posisi saya jurnalis bukan, akademisi bukan, penyair bekas, cerpenis mantan, novelis pernah, hehee…
Saya cuma mau menulis. Ya, menulis untuk menghibur diri. Syukur-syukur memberi kegembiraan kepada yang membaca.
Menulis asyik. Itu benar. Asal tak banyak aturan.
Saya ingat betul pelajaran mengarang, sejak SD hingga SMA.
“Anak-anak, sekarang kita mengarang,” kata guru.
“Mengarang apa?”
“Tulisan eksposisi, temanya tentang keindahan alam yang permai, panjang minimal 5 halaman, ….”
“Huuuu…”
Mengarang sih asyik. Tapi, kanak-kanak seperti saya harus meraba-raba kira-kira seperti apa eksposisi itu. Bisa kelamaan mikir tidak juga menulis-menulis. Boro-boro lima halaman.😛😆
Mengarang benar-benar menjadi menyenangkan ketika Bu Guru berkata, “Sekarang kita mengarang…”
“Karangan apa?”
“Karangan bebas.”
“Temanya?”
“Bebas.”
“Panjangnya?”
“Bebas.”
Jadilah, mengarang bebas. Mengarang jenis ini yang asyik. Setidaknya buat saya yang bukan siapa-siapa.
Tabik!🙏☕✊

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top