Sosok

Di Bawah Bayang-bayang Kak Oedjang

DALAM perjalanan kepenulisan saya, tidak bisa tidak harus saya akui, Maspril Aries adalah satu inspirator saya. Jauh sebelum saya kuliah, setidaknya saya mengenal namanya sebagai penulis cerpen, opini, dan esai dari beberapa koran dan tabloid. Dia suka menuliskan Mafisip di belakang Maspril Aries. Awal-awalnya, saya agak bertanya-tanya apa itu Mafisip. Ternyata, Mafisip itu mahasisiswa FISIP. Ehm, boleh jadi sadar tidak sadar karena itulah saya kemudian masuk ke Persiapan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (PFISIP) Universitas Lampung tahun 1990. Baru persiapan,  belum resmi berdiri sebagai fakultas, dan masih nebeng dengan Fakultas Hukum.

Diterima di Jurusan Ilmu Pemerintahan tahun itu, mahasiswa diwajibkan mengikuti Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dan OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).

Dalam kegiatan inilah saya pertama kali bertemu Kak Oedjang, demikian saya suka menyapanya. Dalam sebuah sesi saya dan beberapa teman mendapat hukuman dari senior untuk kesalahan yang tidak saya mengerti. Yang begini ini biasalah di zaman perpeloncoan tahun-tahun tersebut.

Mungkin karena melihat saya cengengesan dengan lugu bin bloonnya, Kak Oedjang jadi kesal waktu itu dan menjogowel muka saya. Meski dia tak ngomong apa-apa, cukup membuat muka saya jadi merah padam.

Seperti yang saya tulis di “Manusia Terkutuk Itu…” dalam Budisantoso Budiman dan Udo Z Karzi, Ed., 2010, Teknokra: Jejak Langkah Pers Mahasiswa, Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK & Teknokra, hlm. 145–157, Kak Oedjang yang saat itu Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra kemudian memberikan materi kemahasiswaan tentang pers kampus.

Sebelum berbicara lebih lanjut mengenai Teknokra dan pers mahasiswa, ia meminta salah seorang di antara kami mahasiswa baru untuk membacakan sebuah puisi yang ia bawa. Majulah Iswadi Pratama, teman satu angkatan Jurusan Ilmu Pemerintah membaca sajak “Almamater” karya Iwan Nurdaya-Djafar. Jadilah, pada waktu yang bersamaan saya dipertemukan kepada tiga nama: Iswadi Pratama, Iwan Nurdaya-Djafar, dan Maspril Aries sekaligus. Ketiga-tiganya setidaknya pernah dan kemudian saya kenal sebagai wartawan cum sastrawan. 

Seperti yang pernah saya bilang diam-diam saya menulis cerita, puisi, dan artikel sejak 1985. Lalu, diam-diam pula sejak tahun itu, saya mengikuti perkembangan sastra(wan) Indonesia umumnya dan Lampung khususnya. Sampai dengan tahun 1990 itu, setidaknya saya sedikit banyak sudah mengetahui serba sedikit tentang Iwan Nurdaya-Djafar dan Maspril Aries melalui karya tulis mereka. Yang tidak saya sangka adalah ternyata penyair Iswadi Pratama satu kelas dengan saya di Angkatan 90 Jurusan Ilmu Pemerintahan. Hehee… Tidak seperti nama-nama Panji Utama, Ahmad Yulden Erwin, Pondi, Mukhtar Ali, dll — kalau Isbedy Stiawan ZS tak usah diomong lagi soal ketenarannya — yang saya tahu sebelumnya sejak masih berseragam abu-abu, nama Iswadi seperti luput dari perhatian saya.

Ehm, mulai melantur.  Hahaa…

Kembali ke Kak Oedjang, kayaknya saya sadar tidak sadar — berada di bayang-bayang dia saat menjalani kerja jurnalisme dan kepenulisan. Saya mulai coba-coba menulis dan mengirimkan karya ke media pada saat Kak Oedjang sudah menjadi mahasiswa FISIP Unila yang mulai produktif menulis opini dan cerpen pada tahun 1985–1990.

Seperti tidak mau kalah dengan Kak Oedjang yang aktif di SKM Teknokra dan sempat menjadi Pemimpin Redaksi Teknokra (1989–1990), saya pun kemudian mendaftar ke pers mahasiswa ini dan dipercaya menjadi pemimpin redaksinya (1993–1994).

Kak Oedjang menjadi wartawan Lampung Post (1991–1993), saya pun bergabung dengan harian ini pada 1995 dan 2000–2015. Nah, saat Harian Republika terbit pada 1993 dan dia bergabungan dengan harian ini; saya (kami maksudnya) sempat-sempatnya sok-sokan protes. Bukan apa-apa, tiga tahun sebelum Harian Republika terbit, kami di FISIP eh PFISIP sudah menerbitkan majalah Republica (pakai huruf C). Kami protes PT Abdi Bangsa kok main comot nama saja dengan mengubah huruf C menerbitkan Harian Republika.

Majalah Republica FISIP Unila menjadi Harian Republika. Ya, tentu saja protes kami tidak didengar.

Ingat itu saya ketawa. Ya iyalah, siapa pula yang bisa melarang menggunakan nama Republika yang karya Plato itu. Ada-ada saja. Hehee…

Nyatanya Majalah Republica dan Harian Republika itu, keduanya masih terbit. Alhamdulillah..

Hebatnya Kak Oedjang bersetia dengan Republika sejak 1993 itu, mulai dari koresponden Lampung, liputan Jakarta (1994—1998), kembali ke Lampung (1998—1999), dialihkan ke Palembang menjelang Pemilu 1999 hingga purnatugas tahun ini.

Ini keren sekali. Sementara saya justru jadi orang yang mak jelas saat ini. Hehee…

Dalam kesenian, lagi-lagi saya memasuki organisasi yang dulunya dirintis Kak Oedjang – bersama wartawan Kompas Bachtiar Amran DM, dll — bernama Dewan Kesenian Lampung (DKL). Di DKL, ia sempat menjadi Ketua Komite Film  (1993—1995). Saya di Litbang (2005-2006) dan Komite Sastra (2015—2019).

Alhasil, bagi saya yang terpaut enam tahun lebih muda Kak Oedjang yang kelahiran Bandar Lampung, 4 April 1964, dia salah satu sosok yang memang pantas ditiru, diikuti, dan menjadi sumber inspirasi. Mungkin (tidak) sacara sadar, apa yang saya lakukan adalah pengulangan dari apa yang Kak Oedjang lakukan. Ya, saya tidak malu jika dikatakan saya berada dalam bayang-bayangnya: kuliah di jurusan, fakultas, dan universitas yang sama, aktif di pers mahasiswa, menulis karya sastra, menjadi wartawan, suka protes, berorganisasi di bidang seni, dan lain-lain.

Dan, kini Kak Oedjang telah menyempurnakankan tugasnya sebagai jurnalis, walaupun sesungguhnya kerja kewartawanan itu tidak mengenal kata pensiun. Meskpun tidak resmi bekerja di sebuah media, naluri jurnalis, menulis, mengabarkan, dan bersikap kritis terhadap banyak hal, saya kira tidak akan hilang begitu saja.  

Selamat Kak Oedjang! Tabik.

*Ditulis untuk buku Reportase dari Tiga Provinsi karya Maspril Aries (dalam proses terbit)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top