Membuat Urusan Menjadi Mudah
DALAM kehidupan, urusan selalu datang silih berganti. Ada urusan yang kita ciptakan sendiri karena niat, keinginan, kemauan, harapan, dan cita-cita. Kita ingin mencapai sesuatu, lalu menyusun rencana, bekerja, dan berjuang untuk mewujudkannya. Namun ada pula urusan yang datang tanpa kita undang. Ia muncul sebagai konsekuensi dari kehidupan itu sendiri. Selama manusia hidup, selama itu pula ia tidak akan lepas dari masalah dan tanggung jawab.
Urusan-urusan itu kadang ringan, kadang pula terasa sangat berat. Ada yang dapat diselesaikan dengan cepat, ada yang memerlukan waktu panjang dan kesabaran. Tetapi satu hal yang penting: kita tidak boleh mengabaikan urusan yang menjadi tanggung jawab kita. Masalah tidak akan selesai jika kita lari darinya. Justru dengan menghadapinya, dengan berusaha menunaikannya sebaik mungkin, kita belajar tentang kedewasaan hidup.
Kesulitan sering kali bukan terletak pada urusannya, melainkan pada cara kita memandangnya. Jika sejak awal kita merasa tidak sanggup, masalah itu akan tampak semakin besar. Namun jika kita menghadapi dengan kesungguhan dan keyakinan, urusan yang tampaknya berat perlahan menjadi lebih ringan.
Karena itu, dalam menyelesaikan urusan hidup, manusia tidak hanya mengandalkan usaha. Upaya dan kerja keras memang sangat penting, tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: doa. Pada akhirnya, segala sesuatu terjadi karena izin Allah Swt. Manusia berusaha, tetapi Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Doa merupakan bentuk penghambaan yang paling sederhana sekaligus paling dalam. Doa berarti memohon, mengharap, meminta, memanggil, menyeru, memuji, mengabdi, dan menyembah. Dalam doa, manusia mengakui keterbatasannya. Ia menyadari bahwa di balik segala kemampuan yang dimilikinya, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengatur kehidupan.
Allah Swt. berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.’” (Q.S. Al-Mu’min: 60). Ayat ini menegaskan bahwa doa bukan sekadar permintaan, melainkan juga bentuk ibadah. Bahkan, orang yang enggan berdoa dianggap sebagai orang yang sombong karena merasa mampu tanpa pertolongan Allah.
Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah: 186). Kedekatan Allah dengan hamba-Nya menjadikan doa sebagai jembatan batin yang menenangkan.
Orang yang gemar berdoa akan merasakan banyak keutamaan dalam hidupnya. Imannya menjadi semakin kuat karena ia selalu mengingat Allah dalam setiap urusan. Hatinya menjadi lebih tenang dan jernih karena ia tidak memikul beban sendirian. Ia juga terhindar dari sikap putus asa, sebab selalu ada harapan bahwa Allah akan membuka jalan keluar.
Selain itu, doa dapat mengurangi kegelisahan, menggiatkan semangat bekerja, dan menumbuhkan kegemaran beribadah serta beramal saleh. Orang yang terbiasa berdoa juga akan merasakan bahwa rezeki menjadi lebih mudah, adab dan akhlaknya semakin halus, serta kesabarannya semakin kuat. Bahkan doa dapat menghilangkan rasa was-was di dalam hati dan menjadi obat bagi berbagai penyakit batin.
Lebih dari itu, doa menanamkan rasa ketuhanan yang mendalam dalam diri manusia. Saat berdoa, seseorang sebenarnya sedang berkomunikasi langsung dengan Allah. Ia menyampaikan keluh kesah, harapan, dan kebutuhannya kepada Zat yang Maha Mendengar.
Di sinilah rahasia membuat urusan menjadi mudah. Ketika usaha dilakukan dengan sungguh-sungguh dan doa dipanjatkan dengan penuh keyakinan, manusia tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi masalah. Ia bekerja dengan ikhtiar, tetapi hatinya bersandar kepada Allah. Dan ketika hati telah bersandar kepada-Nya, urusan yang terasa berat pun perlahan menjadi ringan. []