Ramadan Karim

Pelajaran Pertama adalah Menghormati Perbedaan

Tangan memegang benang merah. | Blauthbianca/Fixabay

PENGANTAR
Mulai hari ini, saya menulis serangkaian tulisan pendek seputar Ramadan dan hal-hil berkenaan dengannya. Dalam kefakiran dalam ilmu, saya tak hendak mengajari, tetapi hanya ingin mengajak merenung, berefleksi mengenai hidup dan kehidupan. Edisi Fesbukan saja. Semoga berkenan. Tabik.
——

PERBEDAAN penetapan awal Ramadan 1447 H/2026 antara Muhammadiyah dan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia kembali menghadirkan ruang refleksi yang penting bagi masyarakat Indonesia. Muhammadiyah memulai puasa pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara pemerintah menetapkan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Perbedaan itu bukan hal baru, tetapi cara masyarakat menyikapinya kali ini terasa lebih tenang. Tidak ada kegaduhan berarti. Dari sini muncul pelajaran berharga: penghormatan terhadap perbedaan bukan sekadar sikap toleran, melainkan fondasi kedewasaan sosial dan spiritual.

Mengapa perbedaan perlu dihormati? Pertama, karena perbedaan adalah kenyataan dasar kehidupan manusia. Tidak ada masyarakat yang sepenuhnya seragam. Bahkan dalam Islam sendiri, perbedaan pandangan telah hadir sejak masa awal perkembangan ilmu fiqh. Tradisi ijtihad melahirkan ragam tafsir dan metode, termasuk dalam penentuan awal bulan hijriah. Jika para ulama besar saja dapat berbeda pendapat tanpa saling meniadakan, maka umat hari ini seharusnya lebih mampu melihat perbedaan sebagai bagian dari dinamika berpikir, bukan alasan untuk memecah persaudaraan.

Kedua, menghormati perbedaan adalah bentuk pengakuan terhadap keterbatasan manusia. Dalam persoalan yang memerlukan interpretasi, manusia mungkin mencapai kesimpulan berbeda meskipun berangkat dari niat yang sama. Perbedaan metode hisab dan rukyat menunjukkan hal itu. Tidak ada pihak yang bermaksud menentang ajaran agama; masing-masing justru berupaya menjalankan keyakinan sebaik mungkin. Ketika kita menghormati perbedaan, kita sebenarnya sedang menahan diri dari sikap merasa paling benar secara absolut. Sikap inilah yang menjadi inti kerendahan hati dalam beragama.

Ketiga, penghormatan terhadap perbedaan merupakan syarat mutlak bagi persatuan bangsa. Indonesia berdiri di atas kemajemukan: suku, agama, budaya, dan pandangan hidup. Jika setiap perbedaan ditanggapi sebagai ancaman, maka energi bangsa akan habis dalam konflik kecil yang tidak produktif. Sebaliknya, ketika perbedaan diterima sebagai realitas yang sah, masyarakat dapat memusatkan perhatian pada tujuan yang lebih besar: membangun negeri. Persatuan bukanlah keseragaman, melainkan kesediaan berjalan bersama walau langkah tidak selalu sama.

Di sinilah relevansi Ramadan menjadi semakin kuat. Puasa bukan hanya latihan menahan lapar, tetapi juga latihan menahan ego. Ego inilah yang sering membuat manusia sulit menerima perbedaan. Dalam kehidupan sosial, sikap merasa paling benar kerap berubah menjadi kebiasaan saling menyalahkan, terutama di ruang publik dan media sosial. Akibatnya, budaya dialog melemah, sementara polarisasi menguat. Padahal bangsa yang sedang membangun membutuhkan mentalitas kolaboratif, bukan mentalitas kompetitif yang destruktif.

Menghormati perbedaan juga penting karena pembangunan memerlukan keberagaman gagasan. Inovasi lahir dari sudut pandang yang berbeda. Ketika ruang perbedaan dijaga, masyarakat memiliki kesempatan untuk saling belajar dan saling melengkapi. Sebaliknya, jika perbedaan ditekan, yang muncul adalah stagnasi dan rasa curiga. Mentalitas membangun negeri menuntut kemampuan menerima kritik, menghargai variasi cara pandang, dan mengutamakan tujuan bersama di atas kepentingan kelompok.

Pelajaran Ramadan tahun ini akhirnya menjadi cermin yang jernih bagi kehidupan berbangsa. Orang boleh memulai puasa pada hari berbeda, tetapi tetap menghadap Tuhan yang sama dan menjalani nilai yang sama: kesabaran, solidaritas, dan pengendalian diri. Dari sini kita belajar bahwa menghormati perbedaan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kematangan. Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang meniadakan perbedaan, tetapi bangsa yang mampu menjadikannya energi untuk maju bersama.

Marhaban ya Ramadan. Tabik. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top