Diskusi #2 Lampung Literature: Raja Tua Mencari Peruntungan
Oleh S Metron Masdison
LAMPUNG bagai koloni baru dalam kebudayaan. Padahal, ada peradaban batu berusia 4000 tahun. Seorang maestro tari meninggal sebelum sempat lengkap mengekspose secara lengkap. Setelah itu? Hari ini, kita tiba-tiba mencelat saja ke masa sekarang. Batu itu bagai tak tersangkut paut saja dengan hari ini.
Dari sastra kita mungkin mendengar nama besar penyair Isbedy Stiawan ZS, “pabrik puisi” yang membuat Lampung didengar di mana-mana. Ada Teater Satu dan Komunitas Berkat Yakin dalam dunia seni pertunjukan. Setelah itu?
Dekat dengan Gunung Krakatau memang jadi persoalan tersendiri. Ia bisa meletus ketika cukup usia. Meratakan apa saja. Dan menghapus jejak peradaban begitu saja. Entah berapa kali gunung itu meletus, yang jelas pada 1888 melahirkan Syair Lampung Karam. Tentu, tsunami tak hanya menjungkirbalikkan bangunan, tapi membenamkan tradisi lisan, dongeng, mitos, ke tempat yang tak terjangkau.
Yang terpacak adalah program pemerintah. “Di sini lengkap nama-nama daerah di Jawa, Ham,” ujar Aleksander Gebe pada Ilham, teman dari Kementerian Kebudayaan.
Ilham dari Sleman. “Ada. Di sebelah sana,” tunjuk Gebe memberitahu wilayah ‘Sleman’ versi Metro, Lampung. Saat itu, kami bersilaturahmi di dalam ruangan Dewan Kesenian.
Metro juga wilayah unik. “Satu-satunya yang tertata,” ucap Gebe. Segala modernitas ada. Terlihat dari simbolnya; KFC, Pizza Hut dan McD.
Metro dikenal sebagai kota yang tata ruangnya sangat terencana dan rapi karena dibangun langsung oleh Belanda. Mereka membangun infrastruktur seperti jalan, klinik, kantor pos, pasar, dan sistem irigasi (contohnya Dam Raman) untuk mendukung kehidupan para transmigran.
“90 persen di sini orang Jawa, Bang,” ulas Gebe.
Udara terik. Namun, diskusi kedua Lampung Literature akan berlangsung. Bersama tiga pembicara: Oyos Saroso HS, Arman AZ dan Solihin Utjok. Kami berbual. “Adri Sandra, bagaimana?” tanya Oyos pada saya.
Dan banyak lagi sastrawan Sumatera Barat diabsen. “Apa sakit Iyut Fitra?” tanyanya lagi. “Gus tf? Yusrizal KW? Irmansyah?”
Setelah itu, baru sampai ke pernyataan pamungkas. “Sumbar nggak habis-habis sastawannya, ya.”
“Sekarang habis,” sanggah saya. “Pemenang Puisi DKJ tahun lalu, itu barang lama. Lima kali PPF diadakan, tidak ada dari sumbar sebagai pemenang utama.”.
Kemudian, seorang panitia memberi tanda. Kami bergerak ke lantai atas. Diskusi Buku Sastra #2, “Rahasia Kesaktian Raja Tua” yang diadakan Lampung Literature akan segera dimulai. Diskusi pertama diadakan 1 Oktober lalu. Hari-hari Bahagiakarya Ari Pahala Hutabarat di Gedung Aula C Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung dijadiklan subjek perbincangan.
Lampung Luiterature Bersama 30 komunitas lain mendapatkan bantuan untuk melaksanakan program sastra. Selain diskusi, Lampung Literature mengadakan alihwahana puisi ke video. Workshop Video Puisi menghadirkan tiga narasumber lintas disiplin, yakni Iswadi Pratama (sutradara dan penyair), Ari Pahala Hutabarat (sutradara dan penyair), serta Iin Muthmainnah (sineas dan penyair). Sebanyak dua puluh peserta yang berasal dari kalangan penulis muda, mahasiswa, dan komunitas seni mengikuti kegiatan tersebut.
***
Ruangan penuh. Kursi yang disediakan panitia tak cukup menampung. Antusias menguar memenuhi ruangan.
Helat dimulai dengan pembacaan cerpen dari dua aktor Komunitas Berkat Yakin; Yulizar Lubay dan Novian Black. Musisi Bada Isya tampil tiga lagu sebelum diskusi menjelang. Karya mereka diambil dari penyair Lampung seperti Ari Pahala Hutabarat dan Inggit Putria Marga.
Gebe langsung bertindak sebagai moderator. Ia memanggil Oyos Saroso H.N., Arman ZA, dan Solihin Utjok.
Arman yang sejarawan membentang panorama kesastraan Lampung. Ia mendedahkan fakta bahwa Lampung menjadi lahan ide yang tak putus dari sastrawan terkenal Indonesia. “Kenal Sutan Takdir Alisjahbana?” Sangat sedikit yang mengangkat tangan. “Ada novelnya berjudul Layar Terkembang yang berbicara tentang Lampung,” tambahnya.
Begitu juga dengan Bunga di Balik Bukit karya Andy Wasis, Rilda Taneko (Anomie), Motinggo Busye (Malam Jahanam), Udo Z Karzi (Surat Cinta untuk Pithagiras yang Lupa Ditulis), M. Harya Rhamdoni (Perempuan Penunggang Harimau), dan lainnya.
Jauh sebelum itu, era kolonial Belanda, J.B Neuman pernah menulis Dua novel tebal berjudul Silama dan Halima, kemudian J.S.G Gramberg pernah menulis novel berjudul “Kawin Lari” (dalam bahasa Belanda).
Maka, bagi Arman, Omnibus ‘Raja Kesaktian Raja Tua’, tidak hanya menambah panjang daftar latar Lampung dalam sastra, tetapi juga penggunaan folklor sebagai alas pantas didalami.
Arman melihat, novel ini menarik untuk dibaca karena memberi kisah-kisah baru yang belum digarap penulis/penutur sastra lisan di Lampung. Penulis mengisi “ruang-ruang kosong” dari legenda/dongeng/cerita lisan/fakta yang sudah dikenal di Lampung. “Dalam Kesaksian Raja Tua, dongeng, legenda, dan sastra lisan yang ada di Lampung diberi ruang gerak baru, semacam disuntik “udara segar”, tidak stereotip dengan kisah (dongeng/legenda) yang sudah ada sebelumnya. Novel ini hadir menjadi semacam “dongeng modern”.”
Oyos yang tampil pertama juga mengakui kelihaian Zen sebagai pencerita. Cerita-cerita yang ada di dalam buku tersebut, tulisnya, bukan hanya bersumber dari cerita rakyat, tetapi juga hasil modifikasi sedemikian rupa dengan gaya sastra modern sehingga menjadi cerita baru. Mungkin saja cerita baru yang diciptakan Zen Hae berdasarkan wawancara dengan para penutur lokal di Kabupaten Tulangbawang Barat dan sejumlah riset itu inti kisahnya berbeda atau tidak sama persis dengan yang dikisahkan penutur lokal.
Namun, baik Oyos maupun Solihin juga melihat kepintaran Pemerintah Daerah (Pemda) Tulang Bawang Barat (Tubaba) dalam ‘mendahului’ penciptaan narasi untuk Lampung yang masih ‘kosong’, pada umumnya dan khususnya Tubaba.
Solihin melihat ‘penugasan’ Zen untuk mendapatkan tugas menggali wacana Tubaba sudah tepat. Zen, sangat klinis menyelesaikan tugasnya. “… berhasil memperlihatkan bahwa sastra dapat membangun peradaban baru (Uluan Nughik) dan menjalankan kearifan lokal (adat istiadat) serta menjaga dan merawat semesta (Lasengo),” ujar Solihin dalam tulisannya yang berjudul ‘Peradaban Baru dan Rahasia Kesaktian Raja Tua’
Bahwa novel ini sebenarnya melampui salah satu proses pengenalan mitos, legenda, dll –penceritaan kembali –, dibenarkan Oyos. “Mungkin juga kisah-kisah yang dituturkan para narasumber belum popular atau dikenal luas di tengah masyarakat tersebut,” tulisnya.
Ia kemudian memberikan dua pekerjaan rumah pada Pemda Tubaba. Pertama, membukukan cerita rakyat Tulangbawang dan disebarluaskan ke khalayak agar dikenal masyarakat lebih luas. Kedua, melanjutkan program penulisan karya sastra modern (cerpen, novelet, novel, bahkan mungkin puisi) yang bersumber dari cerita rakyat Tulangbawang Barat.
Sementara Arman mengingatkan betapa menariknya buku ini dan dibaca oleh mereka yang menyukai sastra sekaligus penasaran dengan latar budaya dan sejarah Lampung yang masih nampak samar. Sadar atau tidak sadar – langsung maupun tidak langsung – bagi banyak orang, Lampung telah menjadi tempat mencari peruntungan. Secara faktual, banyak pendatang yang bermukim di Lampung, baik secara swadaya atau terorganisir (kolonisaisi hingga transmigrasi). Ini yang membuat Lampung menjadi daerah heterogen, tambahnya.
***
Dalam sesi pertanyaan, beberapa penanya justru melontarkan pernyataan menarik. “Apakah sastra harus tragis? Tidak bolehkah kita menulis tentang kebahagiaan?” Atau, bagaimana dengan AI (Artifisial Intellegence)? Bukankah AI bisa saja menulis mitos dan legenda? Bagaimana melacaknya?
Oyos menjawab, “Kebahagiaan boleh ditulis, namun, tragedi tetap tertanam dalam pada hati pembaca.” Sementara untuk AI, Arman menjawab, “AI tidak bisa menulis rasa. Saya bisa mengendusnya.”
Diskusi selesai sejam lebih dari yang dijadwalkan. Diksusi dibuka tiga sesi. Namun, dari pertanyaan lain yang diajukan, saya paham kenapa Gebe pada akhirnya berujar, “ya, memang segini, Bang.”
Tentu bagi saya, apa yang dilakukan Kementerian Kebudayaan sudah pada ‘tulang dan daging yang tepat’. Perlu tata kelola lebih rigid dalam menyemarakkan Sastra Indonesia.
Betapa sedih, misalnya ketiga narasumber, melihat lemahnya pengetahuan mereka terhadap sastra. Bahkan, Oyos pergi ke tempat saya, saat masih diskusi, hanya untuk bilang, “Guru mereka, guru-guru mereka tidak mengerti dengan sastra. Bagaimana mereka mengajarkannya kepada generasi sekarang,” ujar Oyos sembari menambahkan bahwa ia dan Zen adalah ‘Tamatan IKIP yang tersesat’.
Ia kembali mengulang ucapan saat diminta pernyataan penutup, sembari melihat ke arah saya.
“Kementerian Kebudayaan mesti mengambil alih,” katanya. Saya dan Ilham saling pandang.
***
Di pangkalan Gumarang Jaya, saya dan Gebe masih berdiskusi. Kopi yang diminta Gebe lama sekali datangnya. Penjaga Warung enggan menghentikan main domino yang sedang berlangsung. “Sabanta,” katanya ketika saya menengok ke arahnya. Itu sudah ketiga kali.
Kami ngobrol bermacam hal. Termasuk soal diskusi yang sudah berlangsung. “Novel itu meloncat,” katanya, “Mesti ada dulu penulisan kembali cerita rakyat. Kalau tidak, jarak dengan novel itu tetap jauh.”. []
>> Sebelumnya, dimuat di Cagak.id, Senin, 27 Oktober 2025.