Oleh Udo Z Karzi
PERTEMUAN dengan Rehulina (Pangkalan Bun), Dyah Nkusuma (Sampit), dan Eryantho Kamis (Bekasi, pernah jadi wartawan Kalteng Pos di Palangkaraya) melalui buku Bahasa Ibu, Bahasa Darahku: Antologi Puisi Dwibahasa (Taresia & TISI, 2025) membuat saya terlempar lagi ke masa lalu saat menjadi jurnalis Harian Borneo News, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringan Barat, Kalimantan Tengah (2006–2009).
Belum musim literasi-literasian kala itu, tetapi selama di Pangkalan Bun, saya dan teman-teman di Borneo News berupaya menghidupkan geliat sastra. Lahirlah Kantong Sastra (Kansas) sebagai konklusi pertemuan para pecinta seni Pangkalan Bun di redaksi Borneo News, 21 November 2007. Ada sekitar 40 anggota komunitas ini, yaitu siswa SMA, mahasiswa STIEN Nusantara, pecinta seni, dan jurnalis. Ketua Kansas terpilih Rahmad Sazaly Munthe. Ia didampingi Cici Ana Vani sebagai sekretaris dan Dewi Nogia Kisaimora sebagai bendahara.
Tahun-tahun pertama terbentuk, Kansas rutin mengadakan diskusi, pelatihan menulis, dan menggelar pentas. Suatu hal yang menggembirakan.
Jejaknya Kansas ini boleh dilihat di blognya https://kantongsastra.blogspot.com/
Selain Kantong Sastra di Pangkalan Bun, bersama Pak Willy Edianto, guru Bahasa dan Sastra Indonesia MTsN Kumai kami membentuk Komunitas Awan Senja (KAS)–mirip-mirip Kansas, yang rutin dua minggu sekali mengadakan pertemuan untuk berlatih menulis sastra.
Berdasarkan pengalaman di dua komunitas sastra ini, saya pun bikin “huru-hara” dengan menulis esai “Dicari: Sastra(wan) Kalteng!” di Borneo News, 4 Agustus 2008. Koran tempat saya bekerja sebagai jabrik salah duanya, opini dan budaya. Hahaa…
Maksudnya biar panas. Hahaa… Dan betul esai saya langsung menyulut tanggapan dari Kepala Balai Bahasa Kalteng kala itu, Puji Santosa yang menulis, “Sastrawan Kalteng dalam Peta Sastra Nasional” (Borneo News, 18 Agustus 2008).
Puji pun menyebut sastrawan Kalimantan Tengah yang hingga telah mengorbit secara nasional hanya ada tiga, yaitu Fridolin Ukur (asal Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur), Haji Ahmad Badar Sulaiman Usin, lebih dikenal dengan nama HABSU (asal Pulang Pisau), dan J.J. Kusni (asal Kasongan, Kabupaten Katingan). Juga, Edmond Sawong. Lalu, tersebut pula sastrawan Kalteng hingga tahun 2000-an: Abdul Fatah Nahan, Kurnia Untel (Buntok, Muara Teweh), Alimul Huda, Dafi Fadjar Rahardjo, Elsy Suarni, Suyitno BT, Sandi Firly (Kuala Pembuang, Seruyan), Dedy Setiawan (Sukamara), Agung Catur, Luthfi, Makmur Anwar, Supardi, Pahit S. Narratoma, Lukman Hakim Siregar, dan Bajik Rubuh Simpei.
Ya, sudah. Maksud saya bikin tulisan itu memang untuk mendapatkan informasi terkini tentang sastra(wan) di Kalteng. Jadi, saya gak perlu meralat dan menanggapi tulisan Pak Puji ini, yang ternyata tidak hanya dimuat Borneo News, tetapi juga beberapa media lain. Ketika pulang ke Lampung tahun 2009, lewat Pak Djadjat (Pemred Lampung Post Djadjat Sudradjat), saya ikut membeli buku-buku Pak Puji.
Tapi, Willy Ediyanto menulis lagi di Borneo News, 25 Agustus 2008, “Masih Mencari, Adakah Sastra(wan) Kalteng”. Lalu, Deddy Setiawan alias Ibnu PS yang sempat mampir di redaksi Borneo News pun turut menanggapi dengan “Perlukah Kita (Menjadi) Seorang Sastrawan?” (Borneo News, 1 September 2008).
Ada juga obrol-obrolan melalui komentar di blog dengan Sandy Firly, sastrawan asal Kuala Pembuang, Seruyan, Kalteng.
Namun, ternyata sebelum saya menulis “Dicari: Sastra(wan) Kalteng”, rupanya J.J. Kusni telah menulis: “Tingkat Nol Sastra-Seni di Kalimantan Tengah” (Jurnal Toddoppuli, 25 Juli 2009).
Agaknya, esai saya tak terlalu keliru. Lagi pula tak masalah. Sebagai jabrik Opini dan Budaya, di mana-mana saya memang suka bikin rusuh biar kejadian “perang pena”. Hahaa…
Saya masih di Borneo News, Pangkalan Bun ketika menerbitkan Mak Dawah Mak Dibingi (2007), buku puisi berbahasa Lampung–maunya berbahasa Kotawaringin, tapi cuma tahu kata-katanya dikit sekali, hahaa…–lalu menerima Hadiah Sastra Rancage 2008 untuk sastra Lampung.
Boleh dibilang buku puisi ini produk tiga kota: Pangkalan Bun, Bandar Lampung, dan Yogyakarta. Lalu, diberi penghargaan oleh orang Bandung.
Yah, ini cuma ingatan mengenai aktivitas jurnalisme, sastra atau baca-tulis selama bertugas di Pangkalan Bun.
Sedikit cerita saja. Doeloe.
Sekarang? Meskipun saya tak banyak tahu, kayaknya kehidupan sastra di Kalteng sudah lebih menggembirakan.
Tabik. []
Foto: Pembentukan Kantong Sastra, Pangkalan Bun, 21 November 2007. | Borneo News/Andri Saputra
Referensi
Admin. “Anggota Kantong Sastra” Kantong Sastra, 29 November 2007. Tautan: https://kantongsastra.blogspot.com/2007/11/anggota-kantong-sastra diakses 9 November 2025.
Deddy Setiawan. “Perlukah Kita (Menjadi) Seorang Sastrawan?” Borneo News, 1 September 2008. Tautan: https://kantongsastra.blogspot.com/2008/09/perlukah-kita-menjadi-seorang-sastrawan.html diakses 9 November 2025.
JJ Kusni, “Tingkat Nol Sastra-Seni di Kalimantan Tengah”, Jurnal Toddoppuli, 25 Juli 2009. Tautan: https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com/2009/07/25/tingkat-nol-sastra-seni-di-kalimantan-tengah/ diakses 9 November 2025.
Puji Santosa, “Sastrawan Kalteng dalam Peta Sastra Nasional”, Borneo News, 18 Agustus 2008. Tautan: https://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/sastrawan-kalteng-dalam-peta-sastra.html diakses 9 November 2025.
Udo Z Karzi, “Dicari: Sastra(wan) Kalteng!” di Borneo News, 4 Agustus 2008. Tautan: https://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/dicari-sastrawan-kalteng.html diakses 9 November 2025.
Willy Ediyanto, “Masih Mencari, Adakah Sastra(wan) Kalteng”, Borneo News, 25 Agustus 2008. Tautan: https://kantongsastra.blogspot.com/2008/08/masih-mencari-adakah-sastrawan-kalteng.html diakses 9 November 2025.