Bolehkah Menampakkan Amal
Oleh Gufron Aziz Fuadi
INI tulisan lama di grup WAG Alumni Fisip Unila ’85, saat terbelah antara cebong dan kampret.Semoga masih relevan.
Dalam hal perbuatan baik (amal shaleh) seringkali kita memperdebatkan manakah yang lebih baik: ditampakkan atau disembunyikan? Sebagian beranggapan bahwa menampakkannya identik dengan riya, sedangkan menyembunyikannya identik dengan keikhlasan. Sehingga, seringkali kita mudah memvonis amal shaleh orang lain dengan sebutan riya karena menampakkannya, dan memujinya sebagai tindakan ikhlas bagi yang menyembunyikannya.
Bagaimana sebenarnya?
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah: 271)
Dalam ayat di atas, menampakkan atau menyembunyikan suatu perbuatan baik sama-sama diapresiasi, tidak ada yang dicela. Perhatikan diksi ayatnya: Jika dinampakkan itu baik sekali; jika disembunyikan itu lebih baik. Jadi, keduanya sama-sama baik.
Menampakkan atau menyembunyikan suatu amal shaleh hanyalah metode: hanya wasilah. Bukan tujuan! Sebab, tujuan dari amal shaleh adalah mencari ridho Allah Swt.
Sementara itu, ikhlas, sebagaimana sering ditegaskan oleh Rasulullah SAW adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya. Jadi, tidak ada yang mengetahui keikhlasan kecuali dirinya sendiri dan Allah Yang Maha Mengetahui.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ. سورة البينة5
“Mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama yang lurus; dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)
Sementara itu Rasul SAW bersabda:
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
“Barangsiapa menunjukkan pada suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Bukhari)
Menunjukkan kebaikan yang paling efektif adalah melalui contoh keteladanan. Tidak ada keteladanan jika tidak dicontohkan secara terang benderang. Melalui contoh sering kali lebih efektif daripada hanya dengan kata kata.
Rasulullah Saw adalah keteladanan terbaik manusia sepanjang masa. Semua yang dikerjakan oleh Rasulullah dapat dilihat, didengar dan diamati oleh para sahabat, sehingga mereka dapat menirunya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
[سورة اﻷحزاب
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi yang mengharapkan rahmat Allah dan datangnya hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab:21)
Bahkan saat sahabat berwakaf atau bersedekah juga diketahui oleh semuanya, bahkan diumumkan.
Abu Thalhah RA yang mewakafkan kebun terbaiknya di Bairuha; Usman bin Affan yang membeli sumur milik seorang Yahudi di Madinah lalu mewakafkannya untuk digunakan kaum muslimin seluruhnya; bahkan perluasan Masjid Nabawi tanahnya milik para sahabat yang diikrarkan di masjid disaksikan para sahabat yg lain.
Dan hanya orang orang munafik yang kemudian mencela dengan tuduhan riya’ sebagaimana ditunjukkan dalam surat Taubah: 79.
Maka dari itu, kembali pada niat kita beramal shaleh, yaitu ikhlas dalam rangka menggapai ridho Allah SWT. Menampakkan atau menyembunyikannya hanyalah metode saja.
Memang, ada Hadis yang menyitir bahwa tangan kanan bersedekah, tangan kiri hendaknya tidak mengetahuinya. Hadis ini, menurut saya bukan ditujukan kepada orang yang melihat, tapi anjuran bagi yang melaksanakan yang merasa belum mampu melawan riya dalam dirinya.
Jadi, ibaratnya, Hadits ini berlaku untuk pemain amatiran, bukan penonton.
Artinya, jika kita menyaksikan ada orang berbuat baik dan ditampakkan, jangan langsung menuduhnya riya dengan dasar Hadis itu. Lebih tepat kita memakai surat Al-Baqarah: 271 atau kita menjadi seperti orang munafik seperti dalam At Taubah: 79.
Maka, lakukanlah kebaikan terus menerus dengan caranya masing-masing. Luruskan niat semata untuk menggapai ridho Allah, karena: “Sesungguhnya, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantaramu baik laki-laki atau perempuan…”_ (Qs. [3]: 195)
Bagaimana dengan riya’?
Riya’ itu persoalan hati atau niat. Riya’ itu memperlihatkan amal saleh kepada orang lain agar mendapat pujian atau pengakuan mereka.
Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ
“Meninggalkan amalan karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik.” (Majmu’atul Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 23: 174).
Wallahua’lam bi shawab. []