Liwa, Pak Liwa
EEHH, menemukan Liwa dan Pak Liwa dalam Madjalah Merdeka terbitan 1964 dari kumpulan kliping Volume 17, Edisi 27–52.

Sebuah tulisan berjudul “Mandjau Muli” berkisah tentang pacaran ala bujang-gadis di Liwa, Lampung Barat.
Petikannya: “Dalam kesempatan ini penulispun akan menjadjikan sekelumit tentang adat istiadat dari daerah Lampung. Tetapi Lampung jang penulis maksud adalah daerah Lampung Barat.
….
Sebab segala sesuatunja harus dilakukan diwaktu malam.
Bila seorang pemuda mulai merasa terpikat dengan seorang gadis, maka mula2 sipemuda harus mengetahui tempat rumah gadis itu. Setelah rumah gadis itu diketahui harus pula diketahui letak tempat tidur sigadis dalam rumah itu. Apabila kamar tidur sigadis telah diketahui….”
Bisa diduga penulis artikel ini mendeskripsikan setekut atau ada juga yang menyebutnya sesiah antara meranai (pemuda) dan muli (gadis). Si gadis tetap di kamarnya, sedang si pemuda berada di luar dibatasi oleh dinding rumah. Bercakap-cakap, berbalas pantun seperti berbisik-bisik.
Dua tulisan lain seperti tulisan kolom dengan nama rubrik “Kopi Manis” yang salah satunya berjudul “Kudjawab Sadja”. Menariknya tokoh yang disebut di dalam kolom ini bernama Pak Liwa, Bu Liwa, nenek Liah, dan Tono, adik Bu Liwa.
Sayang saya tidak bisa membaca utuh artikel-artikel ini. Hanya penggalan-penggalan saja. Tapi yang jelas, tulisan-tulisan ini semakin membuat saya tambah kangen dengan Liwa, tanah kelahiran saya.
Tabik! []