Sosok

In Memoriam Hj Mas Amah Arief

DI belakang seorang lelaki hebat, ada perempuan yang tangguh. Lalu, dari keduanya lahirlah anak-anak yang luar biasa.

Begitulah saya mengenal Hj Mas Amah Arief binti H Marhawi, istri dari ulama-cendekia terkenal K.H. Muhammad Arief Mahya dan Ibunda Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief.

Saat mukim di Kota Tapis Berseri, 1986 sampai 1994, saya tinggal di lingkungan Pakis Kawat, sebuah wilayah yang tak terpetakan dalam geografi Kota Bandar Lampung. Kampung ini (Pakis Kawat) dahulu dikenal sebagai kampung orang-orang Liwa. Berdekatan tetapi berbeda kelurahan. Kami tinggal (kos) di belakang Musala di rumah Aba Idris Ilyas di Jalan Nusa Indah No. 14, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Telukbetung. Sedangkan keluarga Arief Mahya di Jalan Flamboyan 3 No. 1, Kelurahan Enggal, Kecamatan Enggal (dulu: Kecamatan Tanjungkarang Pusat).

Suami Mas Amah, Arief Mahya bermarga Liwa dan masih berkerabat dengan kami membuat saya sering bertemu dengan keluarga ini: salat di musala samping kosan kami, dan saat acara-acara keluarga/kerabat, bahkan dalam berbagai kesempatan di berbagai tempat.

Saya memanggilnya Kajjong (bahasa Lampung: nenek) dan suaminya Tamong (bahasa Lampung: kakek). Sedangkan kepada Andi Arief yang kebetulan satu leting (angkatan) di SMAN 2 Bandar Lampung (1986—1989) dan anak tamong-kajjong yang lelaki saya memanggil mamak (paman), serta menyapa dengan minan (bibi) kepada yang perempuan.

Agak lama saya berbincang dengan Kajjong Mas Amah saat berkunjung ke rumah dan meminta tolong kepada suaminya, Tamong Arief memberikan endorcement buku Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh, yang sedianya terbit 2005, tetapi karena sesuatu dan lain hal baru terbit 2012, tujuh tahun kemudian. Tak sekadar endorcement, saya malah mendapatkan pengantar ringkas-padat dari Tamong Arief. Sangat mengesankan!

Beberapa kali juga saya bertemu Kajjong dalam beberapa kesempatan wawancara atau meminta/mengambil tulisan Tamong Arief untuk Lampung Post. Biasanya, saat berkunjung dan memencet bel, Kajjong dulu yang membukakan pintu, mempersilakan duduk, menyajikan minuman, lalu mengajak berbicara saya.

Selain bertanya tentang diri saya – yang karena sudah berumur sering lupa, ia banyak bercerita tentang suaminya dan anak-anaknya.

“Kalau Mamak Edy (Edy Irawan Arief) banyak membuat terobosan-terobosan bisnis. Nah, kalau Andi Arief… dia orang pergerakan. Entah, apa-apa yang Andy kerjakan. Kalau ditanya, dia lebih sering diam saja. Paling-paling Andy bilang, ‘Mami tenang aja!’ Saya nggak ngerti. Banyak berpikir Andy ini. Semoga Allah tetap memberi jalan terbaik buat kita semua,” begitu kira-kira kata ibu dari delapan anak ini dalam beberapa kesempatan berbincang dengannya.

Mengetahui kajjong (cucu)-nya – maksudnya saya – berasal dari Liwa, ia lebih ringan juga bercerita pengalaman-pengalaman kultural orang Liwa.

“Orang Liwa itu kayak bangsawannya Lampung. Tutur kata, tatakrama, cara bersikap, kebiasaan, tradisi, semuanya serbasantun,” ujarnya perempuan kelahiran Tanggamus, 24 April 1933 ini.

Saya tertawa, mendengarnya. Selain merasa tersanjung, saya agak mengkhawatirkan pandangan ini. Hehee…

Dari beberapa kali bertemu dengan Kajjong Mas Amah saya sangat terkesan dengan kesabaran, kelembutannya, dan sekaligus kegigigihan dalam mendamping suami dan membesarkan putra-putri. Lumrah jika suami Kajjong, K.H. Arief Mahya dikenal sebagai ulama-cendekiawan mumpuni. Anak-anaknya, dari yang tertua Hilyati, Istamar Arief SH MBA, Erna Pilih SH, Prisrita Rita SPd, Dr Edy Irawan Arief, Neli Aida MSi, Septi Aprilia SPd hingga yang bungsu Andy Arief dikenal sebagai orang-orang yang sukses di bidang mereka masing-masing.

Tak semata keluarga, di sela-sela itu, Kajjong ini semasa hidupnya aktif juga sebagai pengurus Muslimah NU Wilayah Lampung.

Ibu, istri, dan nenek yang luar biasa ini kini telah kembali ke hadirat Ilahi. Ia berpulang saat sedang dirawat di Rumah Sakit Bunda Asyifa dalam usia 86 tahun,  Rabu, 14/8/2019 pukul 18.06. Ia masuk rumah sakit sejak Selasa, 13/8/2019. Almarhumah, seperti dituturkan Andi Arief, sudah tujuh tahun menderita dimensia (pikun/penurunan kemampuan fungsi otak). Kondisi ini berpengaruh pada kondisi tubuhnya.

Innalillahi wainna rajiun. Perempuan hebat telah pergi meninggalkan kenangan indah kepada semua yang mengenalnya.

Semoga kebajikan ini menjadi menjadi bekal yang sebaik-baiknya di akhirat. Surga telah menantimu, Kajjong. Amiin.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top