Spion Tengah dan Pemimpin
Oleh Ali Rukman
SAAT seorang sopir akan mengendarai kenderaan yang sebelumnya bukan pegangannya, entah karena kendaraan sejenis, lebih kecil, atau karena naik kelas ke kendaraan yang lebih besar dari yang sebelumnya ia pernah kemudikan, maka hal yang biasa yang dilakukan sang sopir biasanya adalah membetulkan atribut agar ia nyaman. Misalnya, membetulkan tempat duduk dan sandaran kursi, menyetel posisi kaca spion baik dalam maupun luar. Saat semuanya dirasanya pas, barulah kemudian sang sopir menghidupkan mesin untuk memulai perjalanan yang sesungguhnya.
Setelah mesin hidup, apakah sang sopir akan langsung tancap gas agar ngebut sampai di tempat yang telah ia tuju bersama seisi kendaraan? Ternyata tidak, lazimnya seorang sopir yang baru membawa kendaraan yang sebelumnya belum pernah ia bawa, sang sopir akan menyesuaikan irama kendaraan dengan kemampuannya mengemudi dengan memastikan rem apakah pakem atau tidak, memastikan kopling apakah tinggi atau rendah (untuk kendaraan yang memakai kopling), serta tak lupa menguji ekselerasi kendaraan tingkat perputaran mesin dengan kecepatan laju kenderaan. Semua ini dilakukan sang sopir demi menjaga keselamatan dirinya dan orang-orang yang ia bawa. Dan, yang tak kalah pentingnya lagi-lagi menciptakan kenyamanan bagi sang sopir selama dalam perjalanan selanjutnya.
Dan ternyata tidak cukup hanya kebiasaan membetulkan dan menguji ketangguhan kenderaan, kebiasaan sopir yang kerap juga kita jumpai juga adalah; kebiasaan melihat spion saat berkendara; tiga spion utama (kiri-kanan, dan dalam) menjadi sangat penting bagi sopir selain pernak pernik yang di bahas di awal. Sepanjang perjalanan, sopir yang andal biasanya menjadikan spion sebagai panduan utama selain rambu-rambu yang ada di sepanjang jalan yang ia lalui. Jika hendak belok ke kiri, maka terlebih dahulu harus mendapat kepastian dari spion kiri bahwa mobil aman untuk melakukan belok kiri. Seterusnya jika akan belok kanan, harus dipastikan melalui spion kanan bahwa kondisi memungkinkan untuk belok kanan. Begitu juga dengan spion tengah; untuk memastikan jarak kenderaan di belakang dalam batas aman untuk melakukan pengereman atau untuk memacu kenderaan menuju kecepatan yang lebih tinggi.
Ternyata apa yang berlaku saat seorang mengendarai kenderaan, juga kerap kita jumpai saat seseorang menjadi pemimpin sebuah lembaga, institusi, atau kepala daerah sekalipun. Maka tak mengherankan bila beberapa tokoh seperti Bapak Anies Baswedan, Bapak Wiranto, dan beberapa politisi lainnya mengibaratkan pemimpin adalah sopir yang sedang melakukan perjalanan untuk rute tertentu dan dalam waktu tertentu pula.
Saat pertama menjabat seorang pemimpin kerap terdengar yang bersangkutan membenarkan posisi kursinya (menyusun komposisi para pembantunya), membenarkan spion (mempersiapkan tim ahli), mengetes rem (meminta masukan eksekutif), menguji ekselarasi dan kecepatan kendaraan (rolling), dan seterusnya.
Begitupun ketika saat sang pemimpin mulai menjalannya kepemimpinannya, kebiasaan beberapa sopir juga menampak di diri beberapa pemimpin, semisal berkeliling ke masyarakat untuk mendapatkan masukan dan memastikan bahwa program yang akan dilaksanakan tepat sasaran. Begitupun dengan melihat spion tengah atau melihat kebelakang; yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin dengan membandingkan dirinya/kebijakannya dengan diri/kebijakan pemimpin sebelumnya.
Di sini akan sangat nampak ciri pemimpin yang suka memperhatikan spion tengah sekadar untuk menjaga jarak, atau jangan sampai kenderaan di belakang bisa mendekat apalagi bisa mendahului. Hal yang mengemuka kemudian; sadar tidak sadar pemimpin yang bersangkutan akan menjelekkan pemimpin sebelumnya, dengan hanya menyampaikan kekurangannya saja, dan menyembunyikan semua kelebihan yang dimilikinya. Kalaupun ada kelebihan atau kebaikan dari pemimpin sebelumnya yang masih relevan untuk dilaksanakan pada periode kepemimpinan yang bersangkutan, maka penggantian nama dan rangkaian program pun dilakukan, lagi-lagi untuk menghilangkan jejak pemimpin sebelumnya.
Sangat disayangkan; jika selalu melihat spion tengah,terlalu sering memperhatikan spion tengah tentu tidak akan menghasilkan kecepatan yang maksimal, terlebih jika harus memoloti spion tengah di jalan menikung, bisa-bisa berakibat fatal atau bisa-bisa menabrak lawan yang dari depan. Alhasil terlalu sering memoloti spion tengah justru mengakibatkan kecepatan tidak maksimal, dan tak jarang membahayakan.
Akhirnya sebagai penumpang, masyarakat tentu berharap semua dalam keadaan baik. Laju kendaraan baik yang ditandai dengan tidak ada penumpang yang mual karena cara mengemudi yang tidak menentu, kendaraan tidak rusak karena akan dipakai untuk seterusnya bukan hanya untuk periode ini saja. Pada dasarnya masa kepemimpinan seorang pemimpin adalah meneruskan kepemimpinan sebelumnya. Bagi rakyat sebagai penumpang bukanlah soal baru atau tidaknya sebuah program, melainkan baik atau tidaknya dampak program yang bersangkutan bagi masyarakat. Semoga.
——————-
Ali Rukman, pelaku pemberdayaan masyarakat, tinggal di Bandar Lampung. Penulis buku Saya Belajar dari Sini: Pengalaman Mendampingi Masyarakat Lampung Barat (2015).