Menjadi Manusia Terbaik
RAMADAN selalu menghadirkan pertanyaan mendasar: sudahkah kita menjadi manusia terbaik? Bukan terbaik dalam ukuran popularitas, kekuasaan atau limpahan harta, melainkan terbaik dalam ukuran langit—ukuran yang ditetapkan oleh Rasulullah Saw.
Dari Abu Bakrah RA, Nabi bersabda, “Ada seorang lelaki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang terbaik?’ Beliau menjawab: ‘Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.’ Ia bertanya lagi: ‘Lalu siapakah orang yang terburuk?’ Beliau menjawab: ‘Orang yang panjang umurnya dan buruk perbuatannya.’” (HR. Tirmidzi, disahihkan Al-Albani).
Hadis ini mengguncang kesadaran kita. Umur panjang ternyata bukan otomatis karunia yang membanggakan. Ia menjadi mulia jika diisi dengan amal saleh; sebaliknya, ia menjadi petaka jika diisi keburukan. Waktu bukan sekadar deret angka, melainkan ladang amal. Ramadan mengingatkan kita akan keterbatasan usia—bahwa setiap detik adalah peluang mendekat atau menjauh dari Allah.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Manusia terbaik di antara kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari gangguannya. Manusia terburuk di antara kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain juga tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Tirmidzi).
Menjadi manusia terbaik berarti menghadirkan rasa aman. Kehadiran kita menenangkan, bukan mengancam. Lisan kita menyejukkan, bukan melukai. Tangan kita membantu, bukan menyakiti. Di bulan Ramadan, ketika lapar dan dahaga menguji kesabaran, kita dilatih untuk menahan diri—agar tidak menyakiti dengan kata, sikap, atau tindakan. Puasa tidak hanya menahan makan, tetapi menahan ego.
Rasulullah Saw juga bersabda, “Sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang membuat orang lain mengingat Allah saat melihatnya. Dan seburuk-buruk hamba Allah adalah mereka yang berjalan ke sana ke mari menyebarkan fitnah, yang menyebabkan perpisahan di antara orang-orang yang saling mencintai…” (HR. Ahmad).
Betapa tinggi standar itu. Menjadi manusia terbaik berarti menjadi cermin nilai-nilai ilahiah. Wajahnya memancarkan ketenangan, lisannya penuh zikir, akhlaknya memantulkan cahaya iman. Sebaliknya, manusia terburuk adalah penyebar retak—yang memecah persaudaraan, menyalakan api prasangka, dan memelihara permusuhan. Ramadan seharusnya memadamkan bara itu. Ia bulan rekonsiliasi, bukan provokasi.
Dalam hadis sahih riwayat Bukhari-Muslim, Nabi mengingatkan bahwa seburuk-buruk manusia adalah yang bermuka dua—datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah berbeda. Kemunafikan sosial ini merusak kepercayaan. Ia mungkin terlihat cerdas, tetapi sejatinya rapuh. Ramadan mendidik kita tentang keutuhan—antara lahir dan batin, antara ucapan dan tindakan, antara klaim iman dan bukti amal.
Al-Qur’an dalam Surah al-Mulk ayat 2 menggunakan istilah ahsanu ‘amala—“amalan yang paling baik”. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah yang paling banyak, tetapi yang paling ikhlas karena Allah dan paling benar sesuai sunnah Rasulullah. Kualitas, bukan kuantitas. Kedalaman, bukan sekadar keramaian.
Di sinilah Ramadan menemukan maknanya. Ia bukan perlombaan angka—berapa kali khatam, berapa banyak unggahan ibadah, atau berapa panjang doa di hadapan manusia. Ia adalah latihan keikhlasan dan ketepatan. Amal kecil yang tulus dan sesuai sunnah bisa lebih berat di timbangan daripada amal besar yang tercemar riya.
Menjadi manusia terbaik bukan proyek semalam. Ia perjalanan seumur hidup. Selama napas masih berhembus, pintu perbaikan tetap terbuka. Maka, jika umur kita dipanjangkan, semoga ia dipenuhi amal terbaik. Jika Ramadan ini masih kita jumpai, semoga ia menjadi titik balik—dari sekadar menjadi manusia biasa, menuju manusia terbaik: yang panjang umur dan baik amalannya, yang diharapkan kebaikannya, yang membuat orang lain mengingat Allah, dan yang tulus serta benar dalam setiap langkahnya. []