Udo Z Karzi, Bapak Sastra Modern Lampung
Oleh Vina Oktavia
TIADA lelah Zulkarnain Zubairi atau lebih dikenal dengan nama Udo Z Karzi terus berupaya merawat bahasa dan sastra Lampung. Buku berjudul Sastra Modern Lampung yang ada di tangan pembaca saat ini adalah karya terbaru yang kian meneguhkan kesetiaannya pada dunia sastra.
Di tengah kecenderungan bahasa daerah yang makin terpinggirkan, nama pria kelahiran Liwa, Lampung Barat, 12 Juni 1970 ini berdiri sebagai pengecualian—sekaligus perlawanan.
Ia bukan sekadar penyair, cerpenis, novelis, dan esais berbahasa Lampung, melainkan sosok yang secara sadar dan konsisten membangun fondasi sastra modern Lampung, baik dari segi estetik, kesadaran bahasamaupun ekosistemnya.
Tak berlebihan bila kemudian ia dijuluki “Bapak Sastra Modern Lampung.” Julukan itu bukan lahir dari kultus, melainkan dari kerja panjang yang dapat ditelusuri secara historis dan tekstual.
Kuswinarto (2003) menempatkan Udo sebagai penanda peralihan penting: dari puisi Lampung yang bersandar pada pola tradisi lisan menuju puisi yang sadar bentuk, tema, dan posisi sosialnya. Puisi-puisi Udo tidak lagi semata menjadi perpanjangan adat atau folklor, melainkan ruang refleksi individual, kritik sosial, dan pergulatan identitas.
Tak berhenti pada puisi, Udo pun bergerak menulis cerpen, novel, dan esai berbahasa Lampung dengan gaya yang lebih modern tanpa harus kehilangan akar budayanya.
Menyuarakan Kegelisahan Zaman
Bahasa Lampung di tangan Udo tidak diperlakukan sebagai artefak budaya, tetapi sebagai bahasa hidup—lentur, berani, dan sanggup menyuarakan kegelisahan zaman.
Udo tidak hanya menulis karya, tetapi juga merumuskan gagasan. Dalam esai pentingnya “Sastra Modern (Berbahasa) Lampung” (2004), ia menegaskan bahwa sastra Lampung tidak boleh berhenti pada nostalgia atau romantisisme adat. Sastra modern, menurutnya, menuntut keberanian untuk keluar dari pakem lama tanpa kehilangan akar bahasa.
Pandangan ini sejalan dengan kegelisahan yang disampaikan Kuswinarto (2004) bahwa bahasa daerah menghadapi ancaman kepunahan jika tidak dihidupkan melalui karya kreatif yang relevan dengan pembaca masa kini. Udo menjawab ancaman itu bukan dengan keluhan, melainkan dengan praktik—menulis, menerbitkan, dan mengajak.
Potret Udo sebagai sosok “pemberontak” muncul kuat dalam tulisan Oyos Saroso HN di The Jakarta Post (2008). Pemberontakan itu bukan dalam bentuk teriakan politis, melainkan dalam pilihan sadar: menulis dalam bahasa yang ditinggalkan, memperjuangkan sastra yang dianggap “kecil”, dan berjalan di jalur yang sunyi.
Ia menolak menjadi epigon sastra Indonesia arus utama, tetapi juga tidak menutup diri dari modernitas. Justru di situlah letak paradoks kreatifnya: lokal dalam bahasa, universal dalam sikap estetik.
Tiga kali Udo memenangkan Hadiah Sastra Rancage (2008, 2017, dan 2025) untuk buku puisinya Mak Dawah Mak Dibingi (2007), novelnya Negarabatin (2016), dan kumpulan cerpennya Minan Lela Sebambangan (2024).
Penghargaan Hadiah Sastra Rancage menjadi tonggak penting. Rancage bukan sekadar hadiah sastra, melainkan legitimasi atas keberlangsungan sastra daerah.
Peristiwa ketiga kalinya Udo Z Karzi meraih Rancage tersebut, disebut Christian Heru Cahyo Saputro, bukan hanya kemenangan personal, melainkan sejarah bagi sastra Lampung.
Ia membuktikan bahwa kerja sunyi puluhan tahun dapat berbuah pengakuan nasional—tanpa harus mengorbankan bahasa ibu.
Atas konsistensinya mengangkat budaya Lampung khususnya bahasa dan sastra Lampung, sehingga tetap menjadi lestari, berkembang, dikenal publik dan eksis sampai saat ini, Udo menerima Penghargaan Kamaroeddin 2014 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung.
Melawan dengan Teks
Panjang jalan yang Udo lalui. Sejak kecil, Udo Z Karzi memang sudah jatuh cinta pada buku. Ia gemar membaca berbagai jenis buku cerita. Buku-buku itu didapat dari ayahnya yang bekerja sebagai guru, selain dari perpustakaan sekolah.
Beranjak remaja, Udo Z Karzi semakin rajin melahap berbagai buku, termasuk genre sastra yang ada di perpustakaan dan berbagai kios buku.
Kegemaran membaca menyeretnya ke dunia tulis-menulis, mulai dari orat-oret curhat, korespondensi melalui surat dengan sahabat pena, lalu mulai mulai menulis cerita anak ketika SMP hingga urban ke Bandar Lampung dan terbawa dinamika kehidupan kepenyairan di Kota Tapis Berseri. Ketika SMA mulai mengirim puisi, cerpen, dan artikel ke berbagai media, meskipun lebih sering ditolak redakturnya.
Ia kemudian merintis penulisan puisi berbahasa Lampung pada 1999 ketika sebuah riset yang mengatakan bahasa Lampung akan punah dalam tiga-empat generasi atau 75—100 tahun lagi jika tidak ada upaya melestarikannya. Pernyataan pakar sosiolingustik Asim Gunarwan pada tahun itu menimbulkan kehebohan tersendiri. Berbagai reaksi muncul dari ulun Lampung. Tapi, Udo diam-diam ‘melawan’; tidak dengan teriakan, melainkan dengan teks sastra.
Kelamaan kuliah karena keasyikan beraktivitas di kampus, ia menyelesaikan juga sarjananya di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (1996). Semasa mahasiswa, ia banyak menimba pengalaman dari Kelompok Studi Merah Putih, Forum Dialog Mahasiswa (Fordima), Forum for Information and Regional Development Studies (FIRDES), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Hampir sepanjang karier jurnalistiknya, pemegang sertifikat wartawan utama ini menjadi ‘kuncen ruang kreatif’, baik sebagai penulis maupun sebagai penanggung jawab rubrik (jabrik) Opini dan Budaya. Ia pernah menjadi redaktur opini bersamaan dengan redaktur budaya sejak di pers mahasiswa Teknokra dan Republica (1991–1996), berlanjut ke Sumatera Post, Lampung Post, Borneo News, Fajar Sumatera, dan Lampung News (1998—2021). Sempat mengajar Ilmu Ekonomi dan Akuntansi SMAN dan MAN di kota kelahirannya (1998) setelah sebelumnya menjadi wartawan lepas Lampung Post, Bandar Lampung, reporter Majalah Berita Mingguan Sinar, Jakarta, dan wartawan Harian Tamtama, Bandar Lampung (1995—1997). Sejak 2020, ia Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan sejak 2010, Ketua Redaksi Pustaka LaBRAK (Labrak.co).
Bertahan Menjaga Api
Udo Z Karzi adalah sastrawan Lampung setia melestarikan bahasa daerah lewat karya-karyanya. Jalan sunyi yang ia tempuh itu membuat sastra Lampung dapat terus menutur zaman sampai saat ini.
Belakangan ada kegelisahan dalam diri Udo. Ia tidak puas menjadi penulis tunggal, tetapi terus mendorong lahirnya generasi baru. Kerja budaya merawat sastra Lampung adalah kerja kolektif, lintas generasi.
Bahkan, sebagaimana dicatat Susilo Sudarman (2025), roh sastrawan Lampung terdahulu seperti Motinggo Busye seolah “menitis” dalam diri para penulis yang terus menghidupkan sastra daerah. Dalam konteks ini, Udo berdiri sebagai jembatan antara warisan dan pembaruan.
Bisa dikatakan, Udo Z Karzi memang layak menyandang sebutan “Bapak Sastra Modern Lampung” karena tiga hal mendasar.
Perintis estetik: Ia memperkenalkan kesadaran modern dalam puisi, cerpen, novel, dan esai berbahasa Lampung.
Perumus gagasan: Ia menulis dan memikirkan sastra Lampung secara konseptual.
Penggerak ekosistem: Ia merawat, mengajak, dan membuka ruang bagi penulis lain.
Di tengah dunia sastra yang kerap bising oleh popularitas, Udo Z Karzi memilih kesunyian yang produktif. Dari sanalah sastra modern Lampung tumbuh—perlahan, keras kepala, dan bermartabat.
Dan barangkali, di situlah makna sejati seorang “Bapak”: bukan yang paling dipuja, melainkan yang paling lama bertahan menjaga api.
Berikut adalah karya-karyanya.

Bibliografi Udo Z Karzi. | Ist/AI
____________
Vina Oktavia, wartawan Kompas, Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung.