Menjahit Sejarah dari Luka dan Kata

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

Data buku
Kesibukan Membuat Sejarah:
100 Sajak (1987–2005)

Penulis : Udo Z Karzi
Editor : Y Wibowo
Sampul/tata letak: Tri Purna Jaya
Penerbit: Pustaka LaBRAK, Bandar Lampung
Cetakan l, Juli 2025
Ukuran/tebal: 15 x 21 cm, 173 hlm
ISBN: 978-623-5315-26-3

BUKU berjudul “Kesibukan Membuat Sejarah” segera memberi isyarat bahwa buku ini tidak hendak memperlakukan sejarah sebagai peristiwa besar semata, tetapi sebagai laku sehari-hari—yang dijalani, direnungi, dan ditulis. Dalam Kesibukan Membuat Sejarah: 100 Sajak (1987–2025), Udo Z Karzi menghadirkan puisi sebagai ruang pencatatan batin sekaligus kesaksian sosial atas waktu yang terus bergerak.

Antologi ini merangkum seratus sajak yang ditulis dalam rentang hampir empat dekade. Sebuah jarak waktu yang panjang, yang memungkinkan pembaca menelusuri jejak estetika dan kesadaran seorang penyair dari masa ke masa. Buku ini disusun dalam tiga bagian: Tilas Perjalanan, Tilas Muasal, dan Tilas Negeri. Pembagian tersebut tidak hanya bersifat tematik, tetapi juga menandai pergeseran fokus: dari pengalaman personal, akar kultural, hingga kegelisahan kolektif sebagai warga negeri.

Sejak puisi-puisi awal yang ditulis pada 1987, tampak bahwa Udo menempatkan puisi sebagai sarana perenungan diri. Ia kerap menampilkan subjek lirik yang ragu, gelisah, dan sadar akan ketidakselesaian. Dalam salah satu puisi pembuka, pengakuan “aku masih barang belum jadi” hadir sebagai penanda penting: kesadaran akan diri yang terus berproses, belum rampung, dan karenanya terus mencari. Nada reflektif semacam ini menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan antologi.

Secara bentuk, puisi-puisi Udo cenderung naratif dan prosaik. Ia tidak mengejar metafora yang rumit atau permainan bahasa yang berlebihan. Yang ditawarkan justru alur, konflik batin, dan ketegangan emosional yang dekat dengan pengalaman pembaca. Dalam banyak sajak, puisi bergerak seperti fragmen cerita—mengalir, lugas, dan langsung menyentuh persoalan eksistensial: rasa malu, kegagalan, tanggung jawab, dan pencarian makna hidup.

Namun Kesibukan Membuat Sejarah tidak berhenti pada wilayah personal. Pada bagian Tilas Negeri, puisi-puisi Udo berhadapan dengan sejarah, identitas, dan ingatan kolektif. Sejarah tidak ditampilkan sebagai deretan tanggal dan peristiwa resmi, melainkan sebagai sesuatu yang berdarah, hidup, dan kerap menyisakan luka. Di sini, puisi menjadi medium untuk mengingat—sekaligus mempertanyakan—apa yang sering dilupakan oleh arus modernisasi.

Menariknya, di tengah kesederhanaan bahasa, puisi-puisi Udo memuat amanat yang kuat. Ada semacam suara kenabian yang lirih namun tegas: ajakan untuk menjadikan hidup berarti, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama. Puisi tidak hadir sebagai khotbah, melainkan sebagai undangan refleksi. Pembaca diajak berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa setiap tindakan kecil adalah bagian dari sejarah yang sedang ditulis.

Antologi ini ditutup dengan puisi “Sejarah Hari Ini”, yang menegaskan kembali gagasan utama buku: bahwa sejarah bukan sesuatu yang jauh dan selesai, melainkan sesuatu yang terus berlangsung, hari demi hari, melalui pilihan-pilihan kita. Dengan cara itu, Kesibukan Membuat Sejarah menempatkan puisi bukan sekadar sebagai ekspresi estetis, tetapi sebagai kerja kesadaran.

Sebagai sebuah antologi, buku ini memang menuntut kesabaran. Ragam waktu penulisan dan gaya yang berkembang membuatnya tidak selalu seragam. Namun justru di situlah nilainya: pembaca dapat menyaksikan perjalanan seorang penyair yang setia pada keresahan, konsisten merawat ingatan, dan terus menulis sebagai bentuk tanggung jawab kultural.

Pada akhirnya, Kesibukan Membuat Sejarah memperlihatkan bahwa puisi—dalam kesederhanaannya—masih memiliki daya untuk merekam zaman, mengolah luka, dan menjaga ingatan. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh pemenang, tetapi juga oleh mereka yang tekun mencatat denyut kehidupan lewat kata. []

________________________
Christian Heru Cahyo Saputro, penulis dan pemerhati sejarah–budaya, tinggal di Semarang.

>> dimuat juga di Hatipena.com, 5 Januari 2025.