Pustaka

Merawat Identitas Lewat Bunyi

Buku Tradisi Musik Orang Lampung karya Riyan Hidayatullah. | Christian Haru Cahyo Saputro

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

Data buku
Tradisi Musik Orang Lampung
Riyan Hidayatullah
Penerbit BRIN, Jakarta, 2022
14,8 × 21 cm, xx + 142 hlm
ISBN: 978-623-8052-25-7

DI tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya populer, musik tradisional kerap terpinggirkan—dipandang sebagai artefak masa lalu yang kurang relevan dengan kehidupan masa kini. Buku Tradisi Musik Orang Lampung karya Riyan Hidayatullah hadir sebagai upaya penting untuk melawan anggapan tersebut. Buku ini tidak hanya mendokumentasikan tradisi musik Lampung, tetapi juga menempatkannya sebagai praktik budaya yang hidup, dinamis, dan terus bernegosiasi dengan perubahan zaman.

Sejak awal, Riyan menegaskan bahwa masyarakat Lampung adalah masyarakat yang musikal. Musik bukan sekadar hiburan, melainkan bagian integral dari kehidupan sosial, ritual, nilai, dan cara pandang hidup orang Lampung. Musik hadir dalam berbagai aktivitas—dari upacara adat, peristiwa sosial, hingga praktik pendidikan—dan berfungsi sebagai medium komunikasi kultural yang sarat makna.

Buku ini disusun secara sistematis dalam tujuh bab yang saling berkelindan. Pembaca diajak memahami relasi antara masyarakat Lampung dan musiknya, mengenali ragam alat musik tradisional (dawai, perkusi, dan tiup), serta menelusuri konteks budaya yang melatarinya. Konsep penting seperti pi’il pesenggiri—nilai harga diri dan kehormatan orang Lampung—dibahas secara mendalam dalam kaitannya dengan praktik musikal, menunjukkan bahwa musik tidak pernah lepas dari etika dan identitas sosial.

Keunggulan buku ini terletak pada sudut pandang sosio-kultural yang konsisten. Riyan tidak berhenti pada deskripsi bentuk dan fungsi musik, tetapi juga mengulas proses akulturasi, adaptasi estetika, serta ketegangan antara tradisi, modernitas, dan budaya populer. Bab tentang sistem pewarisan musik menjadi bagian penting yang menyoroti bagaimana pengetahuan musikal ditransmisikan melalui jalur formal, nonformal, dan informal—sekaligus memperlihatkan tantangan regenerasi di tengah perubahan pola belajar generasi muda.

Yang paling relevan dengan konteks kekinian adalah pembahasan mengenai musik tradisional Lampung di era digital. Di sini, Riyan menunjukkan bagaimana media digital dapat menjadi ruang baru pelestarian sekaligus arena politik budaya. Musik tradisional tidak hanya direkam dan diarsipkan, tetapi juga diproduksi ulang, dipertunjukkan, dan dinegosiasikan maknanya di ruang virtual.

Ditulis berdasarkan pengalaman lapangan, studi pustaka, dan wawancara dengan informan, buku ini memiliki bobot akademik yang kuat tanpa kehilangan keterbacaan. Kehadiran tugas dan latihan di setiap bab menjadikan buku ini sangat aplikatif sebagai bahan ajar, sejalan dengan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menjembatani dunia akademik dan praktik.

Meski demikian, penulis secara jujur mengakui keterbatasan buku ini. Aspek teknis musikal tidak dibahas secara rinci karena telah diulas dalam karya-karya sebelumnya. Namun justru di situlah kekuatan buku ini: membuka ruang diskusi baru dan mendorong pembaca untuk melihat musik tradisional sebagai wacana budaya yang terus bergerak.

Sebagai karya terpilih Program Akuisisi Pengetahuan Lokal BRIN, buku ini layak diapresiasi sebagai kontribusi penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan pengetahuan musik tradisional Indonesia, khususnya Lampung. Buku ini relevan bagi mahasiswa, dosen, guru, peneliti, dan praktisi seni, serta siapa pun yang ingin memahami bagaimana identitas kultural dirawat dan dinegosiasikan melalui bunyi. []

____________________________
Christian Heru Cahyo Saputro, penulis, pegiat literasi, dan pemerhati seni-budaya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top