Pustaka

[Kliping] Upaya Merawat Jejak Kesadaran

Ilustrasi resensi buku Kesibukan Membuat Sejarah. | Kompas/Pandu Lazuardi

”Biarlah, orang-orang menuliskan sejarah menurut versi masing-masing. Tapi, tidak ditambah-tambahi dan dikurang-kurangi.”

Oleh Dedy Tri Riyadi

LARIK dari puisi ”Kesibukan Membuat Sejarah”, yang juga menjadi judul buku ini, dapat dibaca sebagai pernyataan sikap Udo Z Karzi terhadap peran puisi. Sejak awal, ia menempatkan puisi bukan sebagai alat pembenaran, melainkan sebagai sarana pencatatan. Dari titik inilah pembaca memahami bahwa buku ini tidak sekadar menghimpun puisi lintas waktu, tetapi merupakan upaya sadar untuk merawat ingatan.

Buku puisi Kesibukan Membuat Sejarah karya Udo Z Karzi. | Kompas/Riza Fathoni

Udo Z Karzi adalah sastrawan asal Lampung yang juga seorang jurnalis dan bertekun pada karya sastra berbahasa Lampung. Rangkaian karyanya, baik puisi, novel, maupun kumpulan cerpen, meraih Hadiah Sastra Rancage di tahun 2008, 2017, dan 2025. Dalam pengantarnya ia menulis, buku ini lahir dari keinginan untuk mengumpulkan puisi-puisi yang menggunakan bahasa Indonesia sejak dirinya menulis puisi.

Meski demikian, buku puisi Kesibukan Membuat Sejarah: 100 Sajak (1987-2025) justru hadir melampaui fungsi arsip kreatif belaka. Dalam buku ini diperlihatkan puisi sebagai kerja pencatatan yang tekun atas perubahan yang terjadi pada tubuh penyairnya, kampung halamannya, dan pandangan pribadinya atas kehidupan bernegara. Dengan rapinya penyusunan berdasarkan titimangsa, buku puisi yang disusun meliputi rentang waktu hampir empat dekade kekaryaan ini memberi bobot tersendiri karena pembaca diajak menyaksikan tidak hanya perubahan estetik, tetapi juga pendewasaan cara pandang.

Bisa dikatakan, dengan cara yang demikian, puisi-puisi dalam buku ini tumbuh bersama pengalaman, kehilangan, dan permenungan dari penyairnya sehingga membentuk semacam kronik kesadaran yang bisa dirasakan oleh pembaca.

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian, yakni Tilas Perjalanan (berisi 34 puisi), Tilas Muasal (berisi 33 puisi), dan Tilas Negeri (berisi 34 puisi). Dengan pembagian itu, terbentuk lintasan pengalaman yang jelas, yang memperlihatkan gerak dari ranah personal menuju kesadaran kolektif. Dari tubuh yang menjalani kehidupan pribadi, ke lokus tempat tumbuh pribadi tersebut, yaitu kampung halaman (dari Negara Batin hingga Bandar Lampung), hingga amatan kritis terhadap negeri melalui bahasa puisi. Struktur seperti ini membuat buku puisi ini terasa berkesinambungan dan utuh.

Puisi-puisi awal yang ada di bagian Tilas Perjalanan, seperti puisi berjudul ”Dan Jalan Masih Akan Panjang Lagi” (1988), menampilkan bahasa yang lugas dan naratif. Pilihan diksi yang sederhana dengan ritme datar memperkuat kesan pergulatan eksistensial. Lihatlah adanya repetisi yang juga pengakuan diri: ”aku berjalan terhuyung-huyung/terhempas ke sana. terhempas ke sini”. Dalam puisi ini, ”jalan” dihadirkan sebagai metafora hidup yang panjang dan melelahkan, tetapi tetap harus dijalani. Enjambemen yang longgar mencerminkan subyek liris yang belum mapan dan masih mencari arah serta makna, hal ini membuat nada puisi ini terasa sekali kejujurannya. Inilah kekuatan utama dari puisi-puisi Udo Z Karzi pada periode awal ini.

Puisi-puisi awal ini sangat terasa berbeda dengan puisi-puisi pada periode mutakhir. Ada semacam pendewasaan yang tampak jelas baik dalam pemaknaan akan hidup maupun dalam pengolahan puisi. Sebutlah puisi berjudul ”Kalau Kelak Kupulang” (2025), yang disusun melalui repetisi sintaksis yang konsisten, terutama frasa ”kalau kelak kupulang/aku ingin…”. Ada kematangan reflektif dalam tiap repetisi tersebut, bahwa kepulangan tidak berarti soal yang bersifat fisik semata, tetapi juga hal yang simbolik dan berlapis. Di sana kata ”pulang” ditautkan pada beberapa hal, seperti ”ladang”, ”tanah”, ”air”, ”kampung”, ”nurani”, hingga ”Ilahi”. Ada semacam tangga nilai yang memuat citraan alam sebagai lambang dunia material menuju ”Ilahi” yang merupakan tanda kesadaran spiritual.

Pada bagian pertama ini, pembaca bisa melihat adanya pergeseran pemahaman bahwa hidup (atau bisa juga kepenyairan) bergerak dari sebuah ”jalan panjang” menuju ”kepulangan.” Hal ini juga menandai perubahan suara batin penyair dari kegelisahan akan hidup menuju sebuah penerimaan.

Bagian kedua, yaitu Tilas Muasal, memperlihatkan bagaimana Udo Z Karzi ”keluar” dari dalam dirinya dan memandang ke sekitarnya. Pada bagian ini, banyak sekali citraan lokal yang memuat ingatan kolektif akan kampung halaman. Pun dalam puisi-puisi di bagian Tilas Muasal, mulai tampak adanya kritik atau gugatan di samping kenangan akan lingkungan bertumbuh pribadinya.

Sebutlah puisi ”Liwa”, di mana ada pengulangan pertanyaan retoris, ”apa lagi yang bisa kubanggakan darimu”. Pertanyaan ini seolah menegaskan jarak antara ingatan dan kenyataan. Dalam puisi itu, citraan perubahan alam, seperti tanah subur yang kini kerontang dan sungai yang tak lagi mengalirkan semangat, dibangun secara kontras dengan keadaannya di masa lalu. Puisi ini juga memperlihatkan tema puisi dalam buku ini bergerak meluas, ada kritik ekologi dan sosial. Kritik itu hadir, tanpa nada menggurui, tetapi melalui nada kesedihan personal yang begitu intim.

Meski disebut sebagai kumpulan puisi berbahasa Indonesia, ke-Lampung-an Udo Z Karzi tak bisa dihindari. Dalam puisi ”Musim Kopi, 3” misalnya, muncullah beberapa nama tempat dan istilah lokal yang dibentuk oleh Udo Z Karzi menjadi semacam ritme khas. Dan dengan nama tempat serta istilah lokal itu, puisi ini mendekati catatan etnografis kehidupan masyarakat di Lampung. Larik ”dari kopi inilah/kami orang pekon/bernapas-hidup” yang sederhana ini tidak hanya menunjukkan bahwa kopi bukan sekadar komoditas, melainkan bagian kehidupan masyarakat juga menyajikan bahwa ada keterkaitan erat antara alam dan keberlanjutan hidup manusia.

Pengalaman personal terhadap diri dan kampung halaman pada akhirnya berkelindan dengan kesadaran publik yang lebih luas. Itulah sebabnya, dari ingatan lokal, buku bergerak meluas ke wilayah yang lebih besar, yaitu negara. Pada bagian Tilas Negeri, puisi di tangan Udo Z Karzi tidak lagi semata menjadi ruang permenungan, tetapi juga sarana untuk membaca situasi bersama dan menimbang nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa.

Kita tahu benar bahwa negara ini kerap tidak adil pada rakyat kecil. Pada buku ini, cukup banyak puisi yang menceritakan hal ini. Contoh, puisi berjudul ”Tidakkah Cukup Darah Tercecer di Jalan-Jalan?” yang menyajikan imaji ”peluru”, ”darah”, dan ”tubuh mahasiswa” dan menjadi penanda rapuhnya posisi warga sipil dalam pusaran sejarah. Puisi ini menggunakan bahasa langsung dan ekonomis, seolah menolak untuk memperindah sebuah tragedi dan memilih menyajikan citraan kekerasan secara apa adanya. Judul puisi itu menjadi pertanyaan yang dibiarkan terbuka agar pembaca bisa diajak untuk merenungkan kembali makna pengorbanan serta harga kemanusiaan.

Profesi sebagai jurnalis mungkin yang membuat Udo Z Karzi banyak memuat baris-baris pendek yang menyerupai laporan. Seperti dalam puisi berjudul ”Negeri Ini Teater Tentara, Zal”. Tetapi, bisa saja pilihan itu untuk menjaga intensitas emosional dalam puisi tersebut. Dalam puisi itu, Udo Z Karzi tidak menawarkan solusi instan atau seruan politis yang tergesa-gesa, tetapi ingatan dan empati. Dalam beberapa puisi terjadi penegasan bahwa satu nyawa manusia memiliki nilai yang tidak tergantikan.

Puisi lain yang berjudul ”Guru Bertanya, Siswa Menjawab” menyuguhkan ironi yang tajam. Ada struktur tanya-jawab yang repetitif dan menghadirkan dua lapis waktu, seolah menyuguhkan sikap optimistis dan definisi normatif tentang negara berubah menjadi suram dan ragu. Puisi ini bukan semata dialog di dalam kelas, tetapi mempertanyakan makna negara bagi rakyatnya sekaligus kritik terhadap apa yang digemborkan sebagai pembangunan. Puisi ini bekerja melalui kontras temporal, bukan seruan, dengan kritik dingin sekaligus sindiran menancap kuat.

Puisi lain yang berjudul ”Revolusi Saja!” juga memperlihatkan dialog meski dengan ironi berbeda. Ada seruan perubahan dan kehendak untuk menempatkan kedamaian di atas segala bentuk pergolakan yang terjadi. Terdapat pula kebingungan moral masyarakat selama dan pascareformasi. Reformasi yang dikatakan damai ternyata tidak berjalan sesuai bayangan, sedangkan kalau diserukan untuk ”revolusi” ada bayang-bayang dan trauma akan kekerasan. Penyisipan tanda kurung dan nada reflektif di akhir membuat puisi ini seperti menolak kepastian ideologis dan memilih posisi ragu yang sadar.

Bisa dikatakan bahwa puisi berjudul ”Kesibukan Membuat Sejarah” dan ”Sejarah Hari Ini” adalah simpul tematik dari buku ini. Sejarah, dalam kedua puisi ini, bisa dipahami bukan sebagai narasi final, melainkan sebuah proses yang rapuh. Larik seperti ”Ya, setiap generasi menuliskan sejarahnya sendiri” dan ”padahal luka-luka itulah/yang membuat kita/tak tak mudah hilang” menegaskan bahwa puisi adalah penanda alternatif terhadap pengalaman, termasuk juga luka-lukanya, semata agar kita menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

Jika dilihat secara keseluruhan, gaya bahasa dalam puisi-puisi Udo Z Karzi di buku ini cenderung jujur, ekonomis, dan bersandar pada citraan yang konkret. Nyaris tidak berusaha untuk mengejar metafora yang rumit, tapi mengedepan ketepatan daya ungkap dan konsistensi suara. Dengan begitu, Kesibukan Membuat Sejarah: 100 Sajak (1987-2025) mencoba menegaskan kembali bahwa puisi, selain soal estetikanya, masih memiliki fungsi etik. Paling tidak untuk mencatat, mengingat, dan merawat kesadaran kemanusiaan.

Kampung Sawah, 2025

____________
Dedy Tri Riyadi, penyair kelahiran Tegal, tinggal di Tangerang Selatan.

Data Buku
Judul: Kesibukan Membuat Sejarah, 100 Sajak (1987-2025)
Penulis: Udo Z Karzi
Editor: Y Wibowo
Sampul/tata letak: Tri Purna Jaya
Penerbit: Pustaka LaBRAK, Bandar Lampung
Edisi: Cetakan I, Juli 2025
Data fisik dan isi: 15 x 21 cm, 173 hlm
ISBN: 978-623-5315-26-3

Sumber: Kompas, Sabtu, 3 Januari 2026

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top