100 Puisi Saksi Kehidupan Udo Z Karzi
Oleh Kurnia Hidayati
Kesibukan Membuat Sejarah 100 Sajak (1987-2025) | Udo Z Karzi | Pustaka LaBRAK | Cetakan 1, Juli 2025 | ISBN: 978-623-5315-26-3 | 173 hlm
TAHUN 1987, hampir 40 tahun lalu. Tahun di mana saya bahkan belum lahir, penulis Udo Z Karzi telah piawai menuliskan puisi. Melalui sajak Damba 1 dan Damba 2, penyair seperti anak muda pada umumnya yang mempertanyakan ke mana arah masa depan dan cita-cita.
“apa yang kukehendaki dalam hidup ini?
apa yang telah kulakukan selama ini?”
(hlm. 25).
Kegelisahan, perenungan, harapan berkelindan dalam kedua sajak di awal buku ini.
Kemudian sajak pun berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Serupa linimasa, pembaca diajak naik ke kereta waktu menyapa tahun demi tahun, mengikuti bilangan umur sang penyair. Mulai dari 1987 hingga 2025 telah merangkum segenap peristiwa. Setiap tahun sajak-sajaknya menyiratkan kematangan dan kedewasaan. Jika pada awal buku penyair masih mempertanyakan untuk apa hidupnya. Berpuluh tahun setelahnya, tema sajaknya telah berbeda yaitu mempersiapkan bagaimana kelak manusia akan “pulang” menuju keabadian.
100 sajak dalam buku ini memiliki tema yang cukup beragam. Pencarian jati diri, cinta, politik, renungan, kampung halaman, hingga kritik sosial. Sesuai judulnya, sajak ini adalah sejarah hidup sang penyair itu sendiri. Dengan ingatan dan penanya, ia memotret segala peristiwa yang melintasi hari-harinya. Tak hanya ihwal bahagia atau romansa yang berbunga-bunga. Luka hati tatkala menyaksikan peristiwa negeri ini juga tertulis secara gamblang.
Buku kumpulan sajak ini terdiri dari tiga bagian yaitu, tilas perjalanan, tilas muasal, dan tilas negeri. Tilas perjalanan berisi sajak tentang romantisme, kenangan, merantau, dan sebagainya. Sementara tilas muasal, penyair banyak menulis sajak tentang kampung halaman dan adat di tanah kelahirannya. Dan bagian terakhir yaitu tilas negeri, penyair mencatat apa yang ia saksikan ihwal yang terjadi pada negerinya.
Menulis adalah cara terbaik untuk menepi dari dunia yang gaduh dan menyimpan ingatan. Inilah yang dilakukan oleh penyair meskipun teramat menyita waktu hingga “sibuk” namun 100 puisi yang terhimpun adalah sejarah yang menjadi saksi kehidupannya.[]
————————–
Kurnia Hidayati, pembaca buku, tinggal di Batang, Jawa Tengah.
Sumber: FB Kurnia Hidayati, 2 Januari 2025