Stetoskop yang Dicuri, Novel Perdana Seorang PR tentang Dunia Kedokteran
Oleh Maspril Aries
SETELAH membaca novel Stetoskop yang Dicuri (Pustaka LaBRAK, 2025), pembaca akan menemukan bahwa novel ini bukan sekadar karya fiksi biasa, melainkan manifestasi dari perjalanan panjang penulisnya, Muhamad Saman. Karya ini memiliki sejarah penciptaan yang unik dan penuh tantangan.
Menurut Saman, draf naskah novel ini pertama kali mulai ditulis pada tahun 2009, saat penulis memulai fase kehidupan baru di Palembang. Namun, sebuah tragedi menimpa ketika laptop yang berisi draf naskah tersebut dicuri pada tahun 2010, menyebabkan hilangnya seluruh cerita yang telah disusun tanpa salinan cadangan.
Akhirnya, butuh waktu lebih dari satu dekade, tepatnya hingga masa pensiun penulis pada tahun 2022, untuk kembali merajut kisah yang sempat hilang tersebut. Rampung pada awal tahun 2025, novel ini menjadi bukti ketekunan dan semangat literasi yang tak padam.

Latar belakang penulis sebagai praktisi public relations (PR) di PT Bukit Asam (PTBA) Tbk memberikan warna tersendiri dalam gaya penulisan dan kedalaman materi yang disajikan, khususnya terkait dinamika korporasi dan manajemen konflik.
Novel ini mengangkat genre drama yang memadukan dunia medis, intrik bisnis, romansa, dan nilai-nilai spiritual. Dengan latar tempat utama di Palembang, novel ini tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga merekam atmosfer budaya dan sosial masyarakat setempat.
Kita kulik sedikit alur ceritanya. Kisah ini berpusat pada dua tokoh utama: dr. Masayu Mayla Fakhira dan Ahmad Nu’aiman (Aiman). Mayla adalah seorang residen (peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis/PPDS) Penyakit Dalam di Rumah Sakit Umum Pusat RSMH (Rumah Sakit Umum Dokter Muhamad Husaini) Palembang. Sementara itu, Aiman adalah seorang profesional muda yang menjabat sebagai Representasi Direksi Wilayah Sumbagsel (Sumatera bagian Selatan) untuk PT Bleib Gesund Indonesia, sebuah perusahaan alat kesehatan asal Jerman.
Takdir mempertemukan mereka melalui sebuah insiden sederhana namun krusial. Mayla kehilangan stetoskop kesayangannya—sebuah hadiah dari kakaknya yang memiliki fitur canggih—di kantin rumah sakit. Stetoskop tersebut tertinggal saat Mayla terburu-buru menangani pasien darurat. Aiman, yang kebetulan berada di kantin yang sama, menemukan stetoskop tersebut. Insiden ini memicu kesalahpahaman awal di mana Mayla sempat mencurigai Aiman sebagai pencuri saat mereka bertemu di kantor keamanan rumah sakit. Namun, kesalahpahaman ini justru menjadi gerbang pembuka hubungan mereka.
Itu sedikit kisah awal bagaimana cerita dari novel ini dibangun dengan konflik yang bertubi-tubi, ada tekanan keluarga, ada cemburu dan salah paham, ada teror dan fitnah sampai masalah kriminlitas dan hukum, semua ditulis secara apik oleh penulis kelahiran Palembang, 21 Oktober 1966.
Novel setebal 300 halaman ini secara detail menggambarkan kerasnya kehidupan seorang residen medis. Mayla harus menghadapi tekanan akademik, bedside teaching yang menegangkan, hingga tugas jaga malam yang melelahkan. Tokoh Aiman digambarkan bergelut dengan dunia tender alat kesehatan yang penuh intrik, persaingan tidak sehat, dan negosiasi tingkat tinggi dengan pihak rumah sakit, termasuk interaksinya dengan Anna Bella, Wakil Direktur Perencanaan RSMH.
Novel ini mendapat catatan dari sejumlah pakar kedokteran. Ada catatan pada halaman sampul novel berwarna biru dari Prof. Dr. Ali Ghanie, SpPD., K-KV., FINASIM Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam. Konsultan Kardiovaskuler/ dosen senior Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Ali Ghanie yang dikenal masyarakat sebagai dokter jantung menuliskan catatannya. “Novel ini merupakan karya fiksi yang terasa nyata. Ia membuka tirai dunia para dokter muda yang kerap diselimuti diam, dilema
dan pergulatan luka batin. Di antara kerasnya tuntutan profesi dan pergulatan pribadi, hadir narasi rapuh, namun sarat harapan. Sebuah karya yang tidak hanya menyentuh, tapi juga menggugah kesadaran akan sisi lain dunia medis yang jarang disuarakan. Layak untuk dibaca, direnungkan dan dihargai”.
Ada juga Dr. dr. Zulkhair Ali, SpPD., K-GH., FINASIM (Nefrolog RSUP Dr. Moh Hoesin/ Dosen Senior FK Universitas Sriwijaya). “Stetoskop yang Dicuri adalah kisah fiksi dan cermin dari perjuangan tentang residen muda yang teguh dan pemuda jujur yang diuji hidupnya. Dalam balutan cerita yang menggugah, penulis meramu cinta, idealisme, dan luka menjadi sumber inspirasi. Sebuah karya yang layak dibaca, khususnya bagi mereka yang tengah menapaki jalan berat namun mulia”, tulis dokter yang juga aktif di dunia kesenian dan pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS).
Dalam novel Stetoskop yang Dicuri, Muhamad Saman mampu menjalin representasi dunia medis yang autentik. Salah satu kekuatan utama novel ini adalah detail teknis dunia kedokteran yang disajikan dengan sangat meyakinkan. Meskipun penulisnya bukan berlatar belakang dokter, riset yang dilakukan tampaknya sangat mendalam atau didukung oleh narasumber ahli yang kompeten.
Kemudian ada penggunaan istilah seperti bedside teaching, journal reading, case report, visite, hingga detail diagnosis medis (seperti MALS–Median Arcuate Ligament Syndrome) dipaparkan dengan akurat. Penulis bahkan menyertakan referensi medis di bagian akhir buku, menunjukkan keseriusan dalam menyajikan fakta ilmiah.
Penulisan novel ini berhasil menangkap atmosfer hierarkis dalam pendidikan dokter spesialis. Relasi antara residen junior, senior (chief), dan konsulen (dosen) digambarkan dengan realistis—penuh rasa hormat, tekanan, namun juga bimbingan. Istilah “Welcome to the jungle” yang digunakan untuk menggambarkan masa residensi sangat tepat mewakili betapa beratnya medan yang harus ditempuh para calon spesialis.
Bagaimana dengan romansa kisah cintanya? Muhamad Saman tidak menggambarkan tentang hubungan antara Mayla dan Aiman sebagai cinta remaja yang meledak-ledak, melainkan romansa dewasa yang penuh pertimbangan rasional, tanggung jawab keluarga, dan norma agama. Ada kesantunan di situ, dimana interaksi mereka sangat menjaga batasan norma agama dan sosial. Tidak ada adegan yang melanggar kepatutan; bahkan saat mereka saling jatuh cinta, mereka tetap mengedepankan komunikasi yang santun.
Jika ditanya ada kesan dan interpretasi apa setelah membaca Stetoskop yang Dicuri? Maka jawabannya, pada judul, kata “Stetoskop” adalah simbolisme. Judul Stetoskop yang Dicuri memiliki makna ganda yang mendalam. Pertama, makna harfiah. Merujuk pada insiden hilangnya stetoskop Mayla yang menjadi pemicu pertemuannya dengan Aiman. Benda ini menjadi jembatan takdir bagi kedua tokoh.
Kedua, makna metaforis. Di akhir cerita, Mayla berkata kepada Aiman, “Malam ini, Stetoskop milikku, benar-benar telah Abang Curi”. Ini melambangkan bahwa Aiman telah berhasil “mencuri” hati Mayla sepenuhnya, mengambil alih fokus dan cintanya, serta menjadi pendamping yang akan mendengarkan detak jantung kehidupannya selamanya. Stetoskop, alat untuk mendengar suara hati (jantung), menjadi simbol koneksi emosional mereka.
Warna Lokal
Novel ini kental dengan warna atau lokalitas Palembang yang kental. Muhamad Saman berhasil menghadirkan sense of place yang kuat. Pembaca diajak berkeliling kota Palembang melalui narasi yang deskriptif. Ada tentang kuliner, seperti penyebutan makanan khas yaitu, pempek, model, tekwan, dan pindang patin di restoran terapung Sungai Musi memberikan cita rasa lokal yang otentik.
Juga menempatkan lokasi ikonik dalam alur cerita. Seperti, Jembatan Ampera, Sungai Musi, Pulau Kemaro dengan legendanya, Alqur’an Raksasa di Gandus, hingga Simpang Polda menjadi latar yang hidup.
Nah, ini yang paling lokalitas, muncul bahasa Palembang. Penggunaan dialek atau sapaan lokal seperti “ayuk” (kakak perempuan), “wong kito galo”, dan frasa-frasa Palembang lainnya menambah kedekatan emosional dengan latar cerita.
Juga patut dipahami pembaca novel ini, ada penggabungan genre (multigenre). Novel ini tidak terpaku pada satu genre. Ia menggabungkan medical drama dengan detail kehidupan rumah sakit dan kasus medis. Ada legal/crime thriller yang digambarkan dengan proses persidangan, investigasi forensik digital, dan pengungkapan konspirasi korporasi. Dan tentunya, romance serta family drama. Ada kisah cinta yang sopan dan menyentuh hati dengan dilengkapi hubungan hangat antara anak dan orang tua, serta dinamika antar saudara.
Stetoskop yang Dicuri juga memberikan edukasi dalam fiksi. Penulis menyisipkan banyak unsur edukasi. Pembaca awam diajak memahami aspek hukum yang terkait tentang pers, yakni mengenai hak jawab pers, UU Pers No. 40 Tahun 1999, proses somasi, hingga pembuktian forensik digital di pengadilan. Kemudian ada edukasi kesehatan, seperti penanganan penyakit gagal jantung (CHF), sirosis hati, hingga prosedur tender alat kesehatan canggih seperti CT Scan.
Rekomendasi
Setiap karya fiksi tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Pada novel Stetoskop yang Dicuri kelebihannya ada pada riset yang kuat. Seperti detail medis dan hukum sangat meyakinkan, membuat cerita terasa berbobot dan logis. Kemudian ada pesan moral yang positif, mengajarkan tentang integritas, pentingnya keluarga, dan kepasrahan kepada Tuhan. Alur cerita yang menegangkan. Seperti pada bagian pertarungan hukum di pengadilan dan investigasi jurnalis (Ria) memberikan tensi yang tinggi dan memikat pembaca. Jangan dilupakan, tentang kekayaan budaya yang mempromosikan pariwisata dan budaya Palembang dengan cara yang elegan.
Kekurangannya, sebagai karya debut, kekurangan ini bukan vonis mati yang tiada banding atau ruang kasasi. Salah satunya yang ditemukan, adanya alur cerita kebetulan yang beruntun, Seperti pertemuan kembali di Madinah, tepat saat Mayla sedang sendiri dan Aiman juga ada di sana, terasa sangat “kebetulan” (deus ex machina), meskipun dalam konteks fiksi reliji ini sering dimaknai sebagai takdir.
Kemudian nasib tokoh antagonis. Kematian tokoh Maridi yang tiba-tiba dan misterius terasa sedikit “memotong” potensi konfrontasi akhir atau pertobatan, meskipun memberikan kepuasan instan bagi pembaca bahwa kejahatan telah musnah.
Novel Stetoskop yang Dicuri sangat direkomendasikan untuk berbagai kalangan pembaca khususnya mahasiswa kedokteran dan tenaga medis. Novel ini memberikan gambaran realistis tentang perjuangan menempuh pendidikan spesialis, dinamika rumah sakit, dan etika profesi. Kisah Mayla bisa menjadi coping mechanism atau teman seperjuangan bagi mereka yang sedang lelah dengan tugas jaga.
Novelnya juga perlu dibaca oleh pecinta novel inspiratif. Kisah Aiman yang bangkit dari keterpurukan pasca-penjara dan PHK memberikan motivasi kuat tentang kewirausahaan dan mentalitas baja. Kemudian bagi mereka penggemar fiksi berlatar lokal, maka novel Stetoskop yang Dicuri ini adalah sajian yang lezat.
Untuk pembaca umum, siapa pun Anda, menyukai cerita drama dengan bumbu suspense hukum dan romansa yang santun akan menikmati alur cerita yang naik turun ini maka novel karya Haji Muhamad Saman ini layak dikoleksi dan dibaca.
Epilog
Stetoskop yang Dicuri karya Muhamad Saman adalah sebuah debut yang menjanjikan. Novel ini berhasil meramu dunia medis yang steril dengan dunia bisnis yang kotor, dibalut dalam kisah cinta yang suci. Melalui karakter Mayla dan Aiman, penulis menyampaikan pesan bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada jalan keluar bagi mereka yang jujur dan bersabar.
Stetoskop yang awalnya hilang, pada akhirnya bukan hanya kembali dalam wujud benda, tetapi bertransformasi menjadi simbol penyatuan dua hati dalam ikatan pernikahan yang sakral. Seperti kata Mayla di akhir cerita, Aiman benar-benar telah “mencuri” stetoskopnya—dan hatinya—untuk selamanya.
Sebuah karya yang layak dibaca, direnungkan, dan dihargai, sebagaimana testimoni dari para tokoh yang tercantum di bagian akhir buku ini. Novel ini mengingatkan kita bahwa jalan hidup tak selalu mudah, tapi cinta, kejujuran, dan kesungguhan akan selalu membawa cahaya di ujungnya. []
————-
Maspril Aries, jurnalis-penulis, tinggal di Palembang.