Human

Takbiran dan Perang Ahzab

Oleh Gufron Aziz Fuadi

TADI setelah Salat Subuh, ada jamaah yang tanya, mengapa takbiran Idulfitri tidak selama pada Iduladha. Kemudian bagaimana sejarahnya?

Mengutip dari Tribun Medan, 20 Juli 2021, disebutkan bahwa dalam kitab Nuzhat al-Majalis wa Muntakhab an-Nafais karya Syaikh Abdurrahman ash-Shofuri as-Syafi’i, diceritakan sejarah kalimat takbiran terkait dengan kolaborasi malaikat Jibril, Nabi Ismail, dan Nabi Ibrahim terkait dengan perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail, anaknya, sebagaimana firman Allah surat ash-Shaffat [37]: 102).

Dan setelah terjadinya peristiwa tersebut terjadilah dialog seperti berikut:

Malaikat Jibril berkata, “Wahai, Ibrahim as. Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan engkau anugerah berupa kesabaran.”

Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Ibrahim as. bahwa doa Nabi Ibrahim as. akan dikabulkan Allah karena kesabarannya itu, “Berdoalah engkau kepada Allah, niscaya akan dikabulkan apa yang engkau minta.”

Maka Nabi Ibrahim as., menjawab dengan berdoa, “Ya Allah, janganlah engkau siksa satu pun umat Nabi Muhammad saw.”

Lalu setelah malaikat Jibril mendengarkan doa Nabi Ibrahim as., maka malaikat Jibril berkata, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”.

Disusul Nabi Ismail as., berucap, “Laa ilaaha Illahu Wallahu Akbar.”

Kemudian Nabi Ibrahim as., menimpali, “Allahu Akbar Walillahilhamd.”

Jadi, kalimat takbiran yang selama ini kita kenal tersusun pertama kali oleh Malaikat Jibril, dilanjutkan oleh Nabi Ismail as., kemudian yang ketiga dilanjutkan oleh Nabi Ibrahim as. Ketiga kalimat tersebut lalu digabungkan menjadi satu.

Adapun bagian kalimat selanjutnya, mengingat kita kepada perjuangan nabi Muhammad dalam menyebarkan dan menegakkan ajaran Islam.

اللهُ اكبَرْ كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا، لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه، مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن، وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون، وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن، وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن،

لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه، صَدَق ُوَعْدَه، وَنَصَرَ عبْدَه، وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه، لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر، اللهُ اكبَرُ وَللهِ الحَمْ

Sadar atau tidak, dalam lafaz takbir hari raya, kita selalu diingatkan dengan peristiwa Perang Ahzab yang terjadi pada 5 Syawal tahun ke-5 H.

Sebuah perang besar yang dihadapi Rasulullah dan kaum muslimin, menghadapi pasukan terbesar Arab yang merupakan persekutuan atau koalisi Arab Quraish dan non Quraisy beserta yahudi dan munafikin madinah.

Coba kita perhatikan dalam lafaz berikut:

صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Allah telah membenarkan janjinya, membantu hambanya, dan mengalahkan koalisi al-Ahzab dengan sendirian.” (HR Muslim)

Menurut al-Imam al-Nawawi, perkataan Ahzab di dalam lafaz takbir ini merujuk kepada Perang Ahzab atau Perang Khandak. Beliau mengatakan:

“Dan yang dimaksudkan dengan al-Ahzab (di dalam lafaz ini) adalah mereka yang bersekutu di dalam Perang Khandaq untuk memerangi Rasulullah.” (al-Nawawi, Sharh Muslim).

Jadi pertanyaannya, mengapa Takbir Hari Raya ini mengingatkan kita tentang Perang Ahzab?

Perang Ahzab adalah perang yang dilancarkan oleh persekutuan kafir Quraisy Mekah dan suku Arab non Quraisy lainnya yang datang dari segenap penjuru Arab dan bekerjasama dengan Yahudi dan kaum munafikun yang tinggal di Madinah, dengan tujuan untuk menumpas dan memerangi kaum muslimin yang sedang berkembang pesat di Madinah dan sekitarnya.

Firman Allah dalam Surat Al-Ahzab 10:

(Yaitu) ketika mereka (pasukan ahzab) datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah.

Hal ini berarti bahwa takbir atau takbiran dalam Idul fitri maupun ldul Adha yang mengaitkan atau menyebutkan Perang Ahzab ini mengingatkan kepada kita tentang situasi yang sangat genting yang pernah dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat dalam perang Ahzab sebagaimana dalam ayat 10 surat Al-Ahzab diatas..

Peringatan peristiwa ini kekal hingga hari ini dan esok.

Wallahua’lam bi shawab. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top