Sajak

Sajak-sajak Tio Margono

SETERU

di meja makan
kita menukar sejumlah percakapan
menelannya ke dalam kering tenggorokan

di dapur
kita sama-sama menunggu
di dada siapa api menyala lebih dulu

aku tahu ada yang kausimpan di balik baju
semacam pintu yang sengaja kaubuka
untuk menyambut tamu

sebab di ranjang
kita sudah enggan telanjang;
mengunci harta pusaka di seluruh badan

sembunyi di balik selimut masing-masing
dan dengan debar
saling menyebut nama seorang yang asing

Rajabasa, September 2020

SASAR DALAM PETA
: rizky syah putra

aku akan gelinjang dan diam berlama-lama
dalam cerita sejumlah peristiwa

tapi, di mata tak ada lagi cahaya
segala yang berwarna hanya fatamorgana

tak ada apa-apa selain liuk peta
yang membawaku ke ruang bernama hulu

ingatan telah menjelma sebagai jalanan
telapakku adalah langkah menuju ke silam

semua yang singkir kembali hadir
—kaulahir—yang runtuh kembali tumbuh

yang lesap ingin kembali kudekap
tapi, cahaya mana yang tak mencipta gelap?

Rajabasa, 16 Oktober 2020

SISA-SISA PERCAKAPAN

apa yang hendak kukenang
dari setiap pertemuan;
selain salam, datang dan tandang?

sebab peristiwa adalah ibu
bagi segala yang lahir
dari rahim waktu: tamu yang baru

tapi, apatah yang kausimpan
bila yang kukenang cuma percuma
sebagai sisa percakapan?

sia-sia: akulah kata terakhir
tergelincir dari licin bibirmu
sebelum kaukunci seluruh pintu

Bandarlampung, Oktober 2020

YESTERDAY

pesankan aku yesterday malam ini
sebelum pagi menutup semua kafe
dan orang kembali bertele-tele
dalam musik, aku akan mengembara
menanggalkan ikhwal yang rutin
meninggalkan sakit kemarin
di meja kafe tak ada soda, cuma noise
riap ke udara—seorang pelayan
menangkap sejumlah asam peristiwa
yesterday jauh melemparku ke nun
bagai kelana mabuk aku tersuruk
sakitnya minta ampun
padahal aku tak ke mana
cuma menuang bergelas asin
hingga tandas segala yang tak kuingin
aku akan berakhir di bait terakhir
sebelum tiba koda, sebelum dingin tiba
tapi pelayan tak berhenti
menawarkan percakapan dingin
dan aku menjadi sesuatu yang lain
semakin asing

Rajabasa, Juli 2020


Tio Margono, lahir di Haduyangratu, Lampung Tengah. Saat ini berdomisili di Kedaton, Bandarlampung. Berproses kreatif di Kosakata (Komunitas Sastra Suka Cipta). Beberapa tulisannya pernah terbit di beberapa media.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top