Panggung

Film “Negeri Dongeng“: Mengaji Alam Tak Sekadar Mendaki Gunung

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

ALAM takambang jadi guru.“  Begitu bunyi ujaran lawas dari tanah Minang yang hingga kini tak terbantahkan. Ini juga pesan yang tersirat yang bisa dipetik dari  film  “Negeri Dongeng“ besutan Aksa7art. Lewat “Negeri Dongeng”, audiens diajak menikmati keindahan bentang alam Indonesia.

Pesona keindahan Indonesia itu bak di negeri dongeng. Gambar merupakan hasil dokumentasi perjalanan nyata yang mereka alami. Begitu pula dengan kehidupan masyarakat pegunungan serta proses interaksi personal antar tim ekspedisi saat perjalanan tersebut, sebuah hal yang sangat jarang diketahui oleh sebagian masyarakat Indonesia yang hidup di perkotaan dan tinggal di mana pun sehingga Anggi merasa sangat perlu mengenalkan Indonesia lebih dekat melalui film.

Menonton Film Negeri Dongeng di Pendopo Dekase, TBRS, Semarang, Jumat, 28 Agustus 2020. (CHRISTIAN SAPUTRO)

Film “Negeri Dongeng” selain berhasil menarasivisualkan keindahan nusantara juga memberikan edukasi, bahwa, kalau hidup adalah perjuangan untuk tidak menyerah. Film ini menggambarkan, bahwa, perjalanan anak manusia tak akan berhenti selama nafas masih berhembus.

Film “Negeri Dongeng” dokumenter ini  menyita waktu 3 tahun penggarapan. Film yang mengisahkan perjuangan sineas sekaligus pendaki gunung yang menundukkan  the seven summit alias 7 puncak gunung tertinggi di bumi Indonesia. Film Negeri Dongeng dirilis pertama kali pada 2017. Disutradarai oleh Anggi Frisca, film ini mengisahkan tujuh sineas muda Indonesia yang berbekal tujuh buah kamera dalam perjalanannya mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di Nusantara, yakni Gunung Kerinci (Sumatera Barat), Gunung Semeru (Jawa Timur), Gunung Bukit Raya (Kalimantan Barat), Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat), Gunung Latimojong (Sulawesi Selatan), Gunung Binaia (Maluku) dan Pegunungan Jayawijaya (Papua).

Melalui film ini, Anggi dan timnya juga berusaha mengingatkan akan budaya kebersamaan, gotong royong, empati, dan toleransi yang tercermin dalam proses perjalanan mereka mendaki gunung, potongan-potongan kebersamaan dan gotong royong juga terwujud dalam kehidupan masyarakat pegunungan yang mereka temui, sebuah hal yang menurut Anggi sangat esensial untuk masyarakat Indonesia namun semakin terkikis dan ditinggalkan khususnya pada masyarakat perkotaan

Nah, berkaitan untuk memantik semangat kebersamaan dan cinta tanah air  dalam rangkaian memarakkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke- 75, film “Negeri Dongeng” ini oleh  berbagai komunitas secara serentak ditayangkan  diberbagai kota di Indonesia.  Di Kota Semarang,  dimotori Dewan Kesenian Semarang (Dekase) baru menayangkannya, di Pendopo Dekase, Taman Budaya Raden Saleh, penggal akhir bulan lalu.

Dari film  yang berdurasi 104 menit ini, kita bisa belajar tentang kehidupan dari alam. Tentang keindahan,, pengorbanan, empati, gotong royong, cinta alam dan cinta tanah air. Indonesia sarat keindahan bak “negeri dongeng” yang orang hanya tahu dari cerita, tak banyak yang bisa menikmatinya.

Film dokumenter “Negeri Dongeng” yang dirilis pada 2017 yang sempat diputar selama 4 bulan secara gerilya di bioskop tanah air ini juga ditaja dalam Pekan Film Indonesia sebagai rangkaian Delhi International Film Festival di New Delhi India.  ini berhasil para diaspora Indonesia yang tinggal di India puluhan tahun mengingat kembali kampung halaman.

Meski ini film dokumenter sebagai sebuah tontonan Negeri Dongeng menarik. Tidak membosankan, tak hanya sebuah film  yang  menyodorkan fakta dan data, tetapi para sineas bisa meramu dengan drama yang menggetarkan dan menyajikan bahasa gambar yang ciamik sehingga penonton menikmatinya.

Tujuh sekawan  film maker Anggi Frisca, Teguh Rahmadi, Rivan Hanggarai, Jogie KM Nadeak, Yohanes Pattiasina, dan Wihana Erlangga memulai  pengambilan gambar dan  ekspedisi November 2015 dan mengawalinya dari bumi swarnadwipha dengan mendaki Gunung Kerinci di wilayah Jambi.

Para sineas yang dikomnadani Anggi Frisca yang didaphuk sebagai sutradara tak sekadar mengekplor keindahan Kerinci, tetapi juga mengangkat potensi kawasan Kerinci yang juga menghasilkan teh kualitas premium yang digandrungi di pasar dunia.

Dari Sumatera, artespeditor ini melanjutkan perjalanan, Gunung Semeru di Jawa Timur. Rombongan berbaur dengan masyarakat sekitar dan beradaptasi. Dalam pendakian ini ikut nimbrung pendaki gunung termuda, yakni Matthew Tandioputra yang baru berusia delapan tahun. Gambar-gambar ciamik tentang Semeru dan kibaran merah putih dipuncak penanda  sebuah perjuangan yang berhasil dicapai karena kebersamaan sebuah kebanggaan.

Natalan di Rinjani

Tujuh sekawan ini menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat., untuk mendaki Gunung Rinjani yang penuh misteri. Di Rinjani mereka bertemu dengan pendaki dari negara lain. Sebuah momen indah yang terpatri di Rinjani saat malam natal tiba.

Yohanes Pattiasina, salah seorang ekspeditor, merayakan Natal dengan membuat pohon Natal dari rating yang dia temukannya. , Yohanes bersyukur, kendati tak bersama keluarga bisa melewatkan Natal kali itu bersama sahabat-sahabatnya.

Sebelum melakukan perjalanan ke Kalimantan, Anggi dkk. mampir ke Bali untuk merayakan malam tahun baru 2015.  Dari pulau dewata rombongan   menyeberangi Laut Jawa menuju Pontianak untuk mendaki  Bukit Raya.

Medina Kamil ikut bergabung ikut mendaki Bukir Raya. Medan bukit raya yang berhutan lebat sebuah tantangan yang harus ditembus.

Tumbang di Latimojong

Ekspedisi ini digeber rombongan mendaki tiga gunung secara marathon, yakni; Krrinci, Semeru dan Bukit Raya. Rasa lelah menghantam tim, puncaknya di Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan , salah seorang ekspekitor sakit. Ekspedisi   dihentikan sementara, tetapi mereka tetap teguh bertekad  menyelesaikan misi yang disebut “artpedition”

Kemudian ekspedisi berlanjut, untuk menyelesaikan target, dua gunung yang tersisa. Gunung Binaiya di Maluku. Gunung Cartenz di Papua yang termasuk dari seven summit dunia. Pada ekspedisi di Maluku ikut bergabung aktor Darius Sinathrya yang untuk pertama kalinya mendaki gunung.

Film “Negeri Dongeng” ini punya format penceritaan dan bahasa gambar ciamik yang disajikan dalam angle-angle yang unik . Juga menyajikan local content dan kearifan lokal semisa rasa empati dan gotongrorong yang masih kental diugemi masyarakat kita dikampung-kampung. Ada juga pelajaran yang arif tentang menjaga alam dari lautan sampah. Dan juga upaya memanusiakan manusia yang sesungguhnya. Film ini juga dimeriahkan dengan kehadiran artis Nadine Chandrawinata yang dikenal konsen dan kepeduliannya terhadap lingkungan.

Film “Negeri Dongeng”  dalam sejumlah adegan diwarnai lagu tema dalam sebagian adegan. Paling tidak ada tiga lagu yang sebagai ilistrasi  dalam film ini yakni “Sajak Kecil Tentang Cinta” dan “Pada Suatu Hari Nanti” dari Ari Reda, serta “Menjadi Indonesia” milik Efek Rumah Kaca. Pemilihan lagu-lagu ini makin mempertegas dalam mengangkat pesan yang tersirat yang ingin disampaikan dalam film  “Negeri Dongeng” ini.

Catatan Sutradara

Sang sutradara Anggi Frisca mengatakan,  latar belakang film ini adalah tentang menghargai proses. Sebuah perjalanan, kata Anggi, bukanlah pencapaian tapi proses untuk meraih hasil akhirnya. “Film ini untuk mengingatkan baik kepada diri sendiri atau audiens, kalau proses itu butuh upaya,” ujar Anggi.

Diharapkan, karya ini bisa menginspirasi, kalau proses itu penting. Soalnya terkadang kita lupa bagaimana prosesnya, kita hanya ingat pencapaiannya.

Film “Negeri Dongeng” ini digarap bersama enan temannya yang semuanya bertindak selaku kameraman . Pengambilan gambar merupakan dokumentasi kejadian nyata yang dialami selama ekspedisi berlangsung. Sisi paling menarik yang menjadi bagian film ini adalah melihat lebih dekat kehidupan masyarakat pegunungan serta proses interaksi personal antaranggota ekspedisi.

Jadi di film ini  gunung menjadi medium bagaimana proses perjalanan itu berlangsung. Film juga media komunikasi, sarana edukasi, dan hiburan. “Lewat film ini saya juga ingin mengingatkan kembali tentang konsep gotong royong yang nyaris hilang dari masyarakat perkotaan,” tandas Anggi. []

————————–
Christian Heru Cahyo Saputro,  penyuka film, penggiat Heritage di Jung Foundation Lampung  Heritage dan Pan Sumatera Network (Pansumnet).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top