Cerita Bersambung

Negarabatin (70-Tamat)

Singkat cerita, Uyung disekolahkan du ibu kota provinsi.Jadilah sejak pertengahan 1986, Uyung melanjutkan studi ke SMA sampai universitas di Kota Tapis Berseri.

“Semoga sukses, Kawan. Kami SMA di pekon saja,” kata Kifli.

“Saya juga tidak meneneruskan ke luar,” Ijal menimpali.

“Sengingatan ya jangan lupa,” ujar Kifli lagi.

“Ai, sekolah di mana saja sama. Kita bisa berhasil semua,” sahut Uyung.

“Entah ah…. Di sini tidak ada bioskop atau mal seperti di kota.”

“Iya juga….”

“Tapi nanti kota sulit mencari halipu dan kuwol.”

Hahaa…. Tertawa semua.

Kini, Uyung bukan minggat karena singut. Ia berangkat bersama doa dan restu orang-orang yang mengasihinya. Mudah-mudahan Uyung menjadi orang besar kelak. Iya, semoga….

#17

EPILOG

Ahai, Negarabatin negeri antah barantah. Walaupun negeri antah barantah, betapa banyak kisah dari pekonku ini. Masih ada ingatan tertinggal di rumah panggung, setekut, sebambangan, kemudian metudau atau semanda. Ada pula rambak bebura, nyambai, ngeranting, dan musim penayuhan. Lumpur, ulat bulu, jelatang, semut merah, membuat kami anak-anak mesti berhati-hati. Kekuk siwok, timput, iwa kiang, retak lalak, gulai paku, peput, bebuk, kabing, kuwol, halipu, … enak-enak semua kuliner tersebut. Kenapa pula kok menjadi samar-samar teringat sekarang.

Kini, Bak sudah tiada. Teman sudah beberapa yang duluan pulang pula ke kampung akhirat. Gempa besar 1994 membuat paras Negarabatin berubah total. Banyak hilang. Banyak yang pergi meninggalkan pekon. Banyak pula yang datang kemudian. Teman-teman bertaburan di mana-mana. Yang tinggal hanya satu-dua yang setia menuggu Negarabatin. Aku masih saja tersesat bersama orang-orang kalah.

“Nah, sering-seringlah kalian menengok kami di sini,” pesan Mak pagi igtu kala kami hendak pulang ke Tanjungkarang selepas niga-nya Bak. Apa yang dikatakan Mak seperti itu pulalah yang rewel diulang-ulang disampaikan Bak sebelum ia pulang benaran dipanggil Yang Mahakuasa, “Pulang kalian, pulang kalian… jangan sampai tidak pulang. Kami rindu sekali.”n

Baiklah, yang terpenting sehat dan dikuti nasib mujur juga. Negarabatin kubawa ke mana-mana, Negarabatin tidak mungkin terlupa, Negarabatin melekat di badan dan jiwa. Negarabatin dalam hati, Negarabatin dalam angan-angan, Negarabatin dalam mim

Singkat cerita, Uyung disekolahkan du ibu kota provinsi.Jadilah sejak pertengahan 1986, Uyung melanjutkan studi ke SMA sampai universitas di Kota Tapis Berseri.

“Semoga sukses, Kawan. Kami SMA di pekon saja,” kata Kifli.

“Saya juga tidak meneneruskan ke luar,” Ijal menimpali.

“Sengingatan ya jangan lupa,” ujar Kifli lagi.

“Ai, sekolah di mana saja sama. Kita bisa berhasil semua,” sahut Uyung.

“Entah ah…. Di sini tidak ada bioskop atau mal seperti di kota.”

“Iya juga….”

“Tapi nanti kota sulit mencari halipu dan kuwol.”

Hahaa…. Tertawa semua.

Kini, Uyung bukan minggat karena singut. Ia berangkat bersama doa dan restu orang-orang yang mengasihinya. Mudah-mudahan Uyung menjadi orang besar kelak. Iya, semoga….

#17
EPILOG

Ahai, Negarabatin negeri antah barantah. Walaupun negeri antah barantah, betapa banyak kisah dari pekonku ini. Masih ada ingatan tertinggal di rumah panggung, setekut, sebambangan, kemudian metudau atau semanda. Ada pula rambak bebura, nyambai, ngeranting, dan musim penayuhan. Lumpur, ulat bulu, jelatang, semut merah, membuat kami anak-anak mesti berhati-hati. Kekuk siwok, timput, iwa kiang, retak lalak, gulai paku, peput, bebuk, kabing, kuwol, halipu, … enak-enak semua kuliner tersebut. Kenapa pula kok menjadi samar-samar teringat sekarang.

Kini, Bak sudah tiada. Teman sudah beberapa yang duluan pulang pula ke kampung akhirat. Gempa besar 1994 membuat paras Negarabatin berubah total. Banyak hilang. Banyak yang pergi meninggalkan pekon. Banyak pula yang datang kemudian. Teman-teman bertaburan di mana-mana. Yang tinggal hanya satu-dua yang setia menuggu Negarabatin. Aku masih saja tersesat bersama orang-orang kalah.

“Nah, sering-seringlah kalian menengok kami di sini,” pesan Mak pagi igtu kala kami hendak pulang ke Tanjungkarang selepas niga-nya Bak. Apa yang dikatakan Mak seperti itu pulalah yang rewel diulang-ulang disampaikan Bak sebelum ia pulang benaran dipanggil Yang Mahakuasa, “Pulang kalian, pulang kalian… jangan sampai tidak pulang. Kami rindu sekali.”n

Baiklah, yang terpenting sehat dan dikuti nasib mujur juga. Negarabatin kubawa ke mana-mana, Negarabatin tidak mungkin terlupa, Negarabatin melekat di badan dan jiwa. Negarabatin dalam hati, Negarabatin dalam angan-angan, Negarabatin dalam mimpi. Tapi entah, bagaimana kelanjutannya….

TAMAT

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top