Negarabatin (55)

Uyung hanya tertawa melihatnya. Dia paling hanya meminta dua cabai rawit untuk pecalnya. Entah pula temannya ini doyan cabai. Jika membeli miso atau mie rebus, begitu pula,  sambalnya banyak. Membeli bakwan atau kue lainnya sering Kifli meminta sambal juga untuk dioles-oleh di kue yang akan di kue yang hendak dimakannya. Walau yang lain tidak memakai sambal, hampir semua makanan jika dengan Kifli perlu memakai sambal. Sampai teman-temannya memberinya julukan ‘Mat Puhit[1]’. Awal-awal dibilang ‘Mat Puhit’, Kifli marah-marah. Tapi, lama-lama biasa saja orang memanggilnya, Mat Puhit atau Hit.

Begitulah, di mana tempat Kifli hampir pasgti ada Uyung. Ayah Kifli penjahit. Dari Kifli, Uyung belajar pula memasang kancing baju, mengantar obrasan yang hendak dijahit, dan macam-macam pekerjaan menjahit.

Terkadang sampai malam, bahkan ikut minap di toko penjahit ayah Kifli, yang di sebelak SDN 1 Negarabatin. Di bagian belakang toko usaha jahit memang dibuat tempat tidur Kifli. Kalau hendak makan-minum dan mandi, Kifli pulang ke rumahnya di belakang sekitar 100 meter dari toko. Ada jalan kecil di sebelah sekolah.

Jika mereka hanya berdua, obrolan mereka hampir pasti soal bacaan. Sesekali belajar bersama mengerjakan soal Matematika. Belum sama sekali terpikirkan, siapa teman yang cantik, apalagi hendak ngerupi bagaimana cara mengambil hati muli biar bisa menjadi pacar. Entahlah….

Jarang sekali sebenarnya Uyung dan Kifli berselisih paham. Apalagi ribut. Makanya aneh juga kenapa mereka sampai berkelahi hanya karena hal kecil. Tapi begitulah, Uyung dan Kifli pernah bertengkar hanya karena buku cerita.

“Jangan pelit-pelit,” kata Uyung.

“Nanti dulu. Aku belum tamat membacanya,” jawab Kifli.

“Saya dulu sebentar.”

“Besok…”

“Malam mini. Aku dulu yang baca.”

“Aih, kamu kok nggak ngerti.”

“Nah… kamu.”

“Kok maksa.”

“Ai, kamu ini….”

Ada pula yang menjadi kompor. Nah, lanjut. Padahal baru saja pulang ngaji di tempat Pakngah Seroji. Dari membaca Alquran hati kok hati bukannya menjadi sejuk, Uyung berantam benar dengan Kifli. Celengup Uyung meninju Kifli. Kifli tidak mau kalah membalas meninju. Tarung benar. Mininju, menyikut, menyepak… seperti sudah bermusuhan lama. Padahal mereka sangat karib. Tidak berhenti seandainya tidak ada yang melerainya.

Setelah dilerai, Uyung kabur. Buku cerita ia bawa pulang. Sampai di rumah, tidak lama kemudian Kifli membawa teman-teman lain, menantang ke rumah Uyung.

Banyak yang berteriak-teriak di luar.

“Yung, keluar jika berani.”

“Jangan sok berani, keluar kamu, Yung.”

“Jangan jadi pengecut.”

Tuum, geleger… Ada yang melempar atap rumah Uyung.

Uyung tidak keluar. Sembunyi saja di kamarnya.

Jahri yang heran melihat anaknya, bertanya, “Kenapa, Yung kok teman-temanmu di luar mencarimu? Jika tidak melempar-lempar rumah tidak apa-apa. Ini kan merusak.

Uyung diam saja, ia ketakutan pada bak bukan pada teman-teman yang menantang-nantangnya di luar rumah.

“Kenapa?” Jahri bertanya lagi.

“Kifli, Bak….”

“Kenapa Kifli?” Bak tidak sabar.

Terpaksa diceritakan Uyung dari awalnya, bagaimana mereka berdua ribut. Jahri seperti mau tertawa, seperti mau marah mendengar cerita Uyung.

“Ai, ada-ada saja. Sekarang, bukunya mana?” tanya Jahri pelan.

>> BERSAMBUNG


[1] “Puhit” berarti oles, mengoles