”Ini, Bak,” Uyung menunjukkan buku di atas meja kamarnya.
“Sudah berikan! Keluar kamu.”
Uyung keluar memberikan buku kepa Kifli. Ia bersiaga, kalau-kalau Kifli dan teman-temannya, yang juga teman-teman Uyung menyerangnya. Untungnya tidak. Dari dalam rumah, Jahri melihat saja. Ia percaya anaknya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Ini Kif, bukunya,” ujar Uyung mengansurkan buku kepada Kifli.
“Iya, kamu….”
“Sudah, ah. Kita tak berteman lagi.”
“Yaa…”
Setelah itu, Uyung tak bertegur sapa walaupun setiap hari bertemu. Bagaimana tidak bertemu jika mereka sekelas. Saat bertemu sama-sama pura-pura tak melihat satu sama lain. Hahai, kekanak-kanakan. Bagaimana pula Uyung dan Kifli memang anak-anak.
Tapi, tidak lam mereka kemudian berbaikan. Agaknya sama-sama merasa rugi jika bermusuhan seperti itu.
Sekali waktu, sekelas diberi guru tugas kelompok, kebetulan Uyung dan Kifli satu kelompok.
Sudah telanjur disatukan dalam satu kelompok, hendak mengerjakan tugas masa tidak seenakan. Jadi, Kifli langsung bicara, “Yung, kita berkawan lagi ya. Saya minta maaf.”
“O, iya, kita berkawan. Saya juga minta maaf,” ujar Uyung.
Tertawa bersama mereka mengingat mereka dari berkelahi hanya karena masalah kecil, yang hanya bikin malu jika diceritakan.
***
Hiburan di Pekon Negarabatin memang langka jika tidak nyambai, orkes atau acara-acara peringatan Hari Besar Agama atau 17-an. Selain itu, paling siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Tanjungkarang. Entah apa program favorit yang diingat Uyung. Ia cuma ingat tamong atau bak mendengar Siaran Pedesaan, Manjau Dibingi, sandiwara radio atau lagu-lagu dari radio.
Yang enak menonton televise karena bukan hanya bunyi yang terdengar seperti radio. Nonton televisi langsung melihat apa yang dikerjakan orang yang ada di layar tv sekaligus mendengar apa bicara orangnya. Kata lain, langsung melihat gambar kejadian dan suaranya. Kala itu, hanya ada stasiun TVRI milik pemerintah. Sedikit yang memiliki TV. Walau punya TV tidak berwarna, hanya hitam putik. Mana pula listrik belum masuk di Negarabatin. Untuk menghidupkan TV digunakan aki. Tidak serunya saat sedang asyik menonton TV, tiba-tiba akinya habis.
Namun, bagaimana pun tetap seru! Uyung senang menonton film kartun yang tayang setiap jam setengah empat sore. Film yang paling disukai Uyung dan teman-temannya adalah film kartun Flash Gordon yang tayang tahun 1980-an. Karena itu, hampir setiap hari pula rumah Astina di Kompleks PU penuh anak-anak. Astina ini teman sekelas Uyung. Ayahnya pegawai PU. Termasuk orang berada. Buktinya mereka punya pesawat televisi.
Ketika mau ada film kartun ini, sudah baris anak-anak di depan TV-nya Astina. Ada puluhan anak laki-laki dan perempuan.
Film ini menceritakan kehidupan di masa mendatang ketika teknologi sudah sedemikian maju. Tidak terbayang sebenarnya bagaimana pemain-pemainnya dapat melakukan perjalanan antargalaksi. Sudah tentu karangan pembuat ceritanya.
Dalam Flash Gordon, ada mobil yang bisa diubah-ubah menjadi bermacam-macam alat transportasi. Saat di air, mobil ini menjadi kapal selam. Kadang pula sudah menjadi pesawat terbang jika bertemu jurang atau tempat yang sulit dilewati.
Ada pula seperti computer hebat yang digambatkan seperti lapangan sebesar kamar untuk layar-layar raksasa dan tombol-tombol yang betapa banyaknya.
Seru melihat Flash Gordon yang ganteng bersama istrinya yang cantik mengejar-ngejar penjahat seperti Kaisar Ming dari Kerajaan Mongol menggunaka alat transportasi dan senjata yang hebat. Ada juga ilmuwan aneh Dr. Hans Zarkov yang percaya dunia sedang mendapat ancaman dari luar bumi.
>> BERSAMBUNG