“Aduh, rusak,” kata Uyung ketika mobilnya bertabrakan dengan mobil Ijal.
“Ah, kamu yang main tumbur-tumbur,” tuduh Ijal.
Terpaksa Uyung dan Ijal membuat mobil lagi batang talas.
Selain batang talas, dapat pula membuat bermacam-macam senapan dari gagang daun pisang yang dibelah. Tass.. tass… bunyinya. Tapi, hanya suara saja.
Beraneka permainan, bermacam bahan dari alam yang dapat menjadi bahan mainan.
***
Di antara banak temannya, ada satu temannya yang paling karib dengan Uyung. Banyak kesenangan mereka yang sama seperti membaca buku. Kalau soal bacaan mereka berdua memang kutunya. Boleh dibilang mereka berdua ini gila baca. Buku, majalah, koran, apa saja dibaca mereka berdua. Secara kebetulan pula keluarga mereka mendukung dalam arti membiarkan, walau tidak menganjurkan; dan rata-rata suka membaca semua.
Apa yang dibaca Uyung, mestilah Kifli membaca pula. Jadi, jika Uyung mempunyai bacaan yang baru, ia selalu mengajak Kifli. Begitu pula sebaliknya, jika Kifli sudah membaca, Uyung diberinya bacaan tersebut. Walaupun di pekon, boleh dibilang tidak ada halangan bagi Uyung dan Kifli hendak memenuhi rasa haus mereka terhadap bacaan. Buku-buku cerita dan komik dari perpustakaan sekolah, langganan koran, majalah Sahabat Pena terbitan Kantor Pos, majalah-majalah cerita, majalah keluarga, dan majalah wanita… semua ada saja dari banyak sumber.
Ketika SD mereka berdua sudah membaca novel-novel karya penulis luar negeri seperti Sebatang Kara karya Hector Malot, Tom Sawyer karya Mark Twain, dan Oliver Twist karya Charles Dickens, yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Cerita-cerita anak Mansur Samin cukup melekat dalam hati mereka berdua yang menyuburkan jiwa pemberontak.
Begitulah Uyung dan Kifli terus berjalan-terbang bersama bacaan-bacaan mereka berdua.
Hanya satu yang tidak bisa ditiru Uyung dari Kifli, yaitu main catur. Jika Kifli bermain catur, Uyung lebih memilih kegiatan lain seperti membolak-balik majalah, koran atau buku yang ada. Sesekali, Uyung pura-pura mengerti memperhatikan Kifli main catur.
“Ster,” kata Kifli didengar Uyung.
Terkadang pula yang bermain berseru, “Sekak!”
Ada juga, “Aih… sekilit[1]. Ulang… ulang….”
Entah, Uyung tidak mengerti.
Satu lagi yang tak bisa ditiru dari karibnya ini ketika jajan pecal.
“Makngah, minta pecal satu,” ujar Kifli kepada penjual pecal dekat Surau Tamanjaya sebelum masuk ngaji.
Meskipun tahu Kifli suka yang pedas-pedas, Makngah penjual pecal tetap saja bertanya, “Pedas tidak? Berapa cabe?”
“Cabe-nya 17 buah,” ujar Kifli.
“Aih, Kifli, habis cabe-ku. Cabe mahal. Jangan banyak-banyak,” omel Makngah.
“Tidak jadi beli pecal,” Kifli singut.
“Nah, jangan begitu. Sudahlan, sepuluh saja cabe-nya,” Makngah menawar.
“Nggak. Tujuh belas…,” Kifli tak mau kurang.
“Ya, sudah,” ujar Makngah.
Makngah mengambil cabai rawit dari tempatnya dan meletakkannya ke rapak[2]. Siap hendak menggilingnya.
“Tunggu… Kurang cabe-nya itu,” ujar Kifli.
“Tidak percaya. Itung…”
Kifli menghitung cabai di rapak.
“Satu, dua, tiga, empat… Dua belas. Kurang lima lagi,” Kifli tak bisa dibohongi.
“Inai kidah, Kifli, ini ditambah lima lagi,” Makngah mengalah.
>> BERSAMBUNG
[1] curang
[2] wadah menumbuk cabai dan bumbu dapur