Entah, tidak diingat Uyung apakah perbuatan gila-gilaan ini diketahui orang lain atau tidak. Tidak cuma ikan, kadang-kadang ingin pula ayam. Anak-anak nakal ini minta ayam pula tetapi tidak bilang-bilang dengan pemiliknya. Ayam yang tersesat di kebun Edy, tidak pulang ke kandangnya sampai malam ya sama dengan mengantarkan nasibnya pada anak-anak ini. Hanya keesokan harinya pemiliknya mencari-cari ayamnya.
Namun, jika tidak ada yang tersesat, di antara anak-anak ini ada yang ahli mengambil ayam dari kandangnya, agar tidak ribut dan tidak ketahuan. Waduh, kalau sampai ketahuan maling ayam. Dipukul atau dikeroyok massa mungkin tidak karena yang maling dan yang dimaling muari atau minimal sesame kenal, tetapi tetap malu dan rasa tersisih anak dan orangtuanya.
Untung benar tidak pernah ketahuan. Hanya sekali, ketika teman Uyung sedang memegang ayam dari kandangnya, perlahanan, … kok ayam yang lain ribut berkotek-kotek. Entah barangkali salam baca memmang, entah pula kalau ada pantangan yang dilanggar, … tidak tahu, yang jelas ayam ribut semua.
Dari dalam rumah, ada bicara, “Siapa?”
Mendengar suara itu, kaget dan langsung lari semua teman. Kabur! Ngos-ngosan sampai kebun.
Aih, berbagai ulah anak-anak Negarabatin. Minta ikan di pekan tetapi saat penjual tidak sedang menunggu jualannya, minta makanan dan rokok di warung tetapi diam-diam dan tidak ngomong dengan yang menunggu warung, dan mengambil ayam tetapi tengah malam sepi supaya tidak ketahuan. Kecerma, mengan balak, dan ngudut… semua sekadar iseng anak-anak.
Untung hanya sebatas gila-gilaan tidak sampai gila benaran. Jangan sampai terjadi kata mereka, “Lagi sanak tetapuk, adu balak tetadol, turun metuha longan[1]”.
#14
KIFLI, TEMAN-TEMAN LAIN, DAN JULUKANNYA
Uyung pagoh[2]. Tidak banyak ulah. Tapi, ia punya teman yang hebat-hebat. Yang selalu mendapat ranking di kelas namanya Maman, Kifli, Nur. Yang cakap bercerita namanya Ijal. Yang acap berkelahi namanya Romzi. Yang pintar berenang, yang juara lari, yang jago main kelereng, yang pintar ngera’as[3], yang pintar memancing, yang pintar menangkap ikan, yang pintar mencari lukak[4] limus[5] kala pagi-pagi, yang pintar memikat burung… bermacam-macam keahlian teman-temannya.
Entahlah jika yang pintar berbohong, Uyung tak tahu siapa… Hahaaa…
Bumi Negarabatin memang menawan. Bukit, gunung, lurah, sawah, ladang, kebun, kali, sungai, bendungan buatan, ham, hutan… membuat kehidupan orang Negarabatin menjadi nikmat. Tidak jauh dari pekon mereka, ada laut, air terjun, dan Danau Ranau. Tumbuh-tumbuhan dan beraneka binatang sungguh kaya.
Apa yang dimaui tinggal ambil. Tinggal mengolahnya hendak dijadikan apa atau hendak dimakan juga boleh kalau ia makanan. Kayu, bambu, rotan, dan aren dapat menjadi bahan bangunan yang bagus jika yang mengolahnya rajin dan tekun.
Anak-anak Negarabatin tidak perlu membeli ke toko jika perlu mainan. Hanya perlu mencari bahannya dari dekat-dekat saja. Mau main perang-perangan, cukup membuat leletupan dari bambu. Peluru dari sememui[6]. Dari bamboo besar, malah bisa membuat meriam, tibolongi, dan diisi minyak tanah. Dari lobang kecil disundut pakai lidi yang sudah dibakar. Buum… bunyinya. Meriam bambu ini biasanya saat Malaman Pitu Likor[7] dan Malaman Buka Dibi[8].
Batang talas pun bisa dibuat Uyung dan teman-temannya menjadi mobil-mobian. Untuk rodanya, diambil dari batangnya yang bulat seperti roda tinggal ditusuk dengan lidi atau bamboo rautan kecil. Ditarik dengan tali. Bagus juga walau tidak tahan lama.
>> BERSAMBUNG
[1] “Masih kecil nakal, sudah besar tak pakai akal, giliran tua gila.”
[2] tidak banyak ulah, cenderung pendiam
[3] memanah ikan
[4] jatuhan buah
[5] mangga hutan
[6] nama pohon berbuah kecil-kecil berwarna merah keras, yang bisa meletup jika didorong dari keluar dari lomba bambu kecil
[7] Pesta obor malah ke-27 Ramadan
[8] Pesta obor malam sehari menjelang Lebaran Idulfitri