Negarabatin (52)

Aman, siapa yang hendak mencuri ikan-ikan itu. Orang Negarabatin baik-baik.

Tapi nanti dulu, diam-diam Ijal, Edy Ateng, Hel, Romzi, Kifli, Ijal, Jaya, Sodri, dan Uyung yang tukang ambil ikan di Pekan Selasa itu setiap malam. Bergantikan saja mereka mengambilnya. Biasanya yang diambil ikan antara tiga sampai empat anak. JIka tengah malam sekira pukul sepuluh ke atas saat Negarabatin mulai sepi, mereka-mereka ini mendekati bungkusan-bungkusan ikan di pekan.

Berjalan pelan-pelan dan berbicara pelan-pelan.

“Sst, aman…,” kata yang satu.

“Senter di sini…,” yang lain bicara.

“Yang mana yang mau dibuka?”

“Ini saja.”

Tangan-tangan bekerja cekatan membuka ikatan plastik. Ada yang menyenter. Sudah terbuka…

“Ikan asin….”

“Aih, tak usah.”

Ikatan bungkusan dirapika kembali, ditutup lagi. Mencari yang lain.

“Ini ya?”

“Coba saya baui dulu….”

“Iya. Inji sepertinya ikan layang…

Tangan-tangan bekerja cepat membuka ikatan plastic di bungkus ikan. Cepat pula meraup ikan dan meletakkannya di keresek.

“Sudah cukup. Tak usah terlalu banyak.”

“Ya.”

Secepatnya pula tangan mengikatkan keresek. Bersegera mereka bertiga berjalan menjauh dari los jualan ikan. Ke mana mereka? Aih, ada kekebunan – tidak terlalu luas hanya berisi sedikit tanaman, makanya disebut kekebunan —  di pinggir bor, dekat terminal, di sisi Lapangan Merdeka.  Kebun Pakngah Tab, ayah Edy Ateng yang rumahnya berdekatan dengan kebun tersebut. Meskipun kebunnya tidak terlalu luas, ada pondoknya lengkap dengan tungku, alat memasak, piring-gelas, dan tempat berbaring.

Sampai di gubuk, sudah ada yang menunggu.

“Dapat ikannya tidak?”

“Ini…” kata yang mendapat tugas ‘mencari’ ikan di pekan barusan.

“Ya, sudah. Siapa yang hendak memasak ikan-ikan ini?”

“Itu Edy dan Sodri pintar menggulai.”

Nah, kecerma-lah anak-anak tadol itu.

Melongok ke dalam gubuk, uhui… sudah ada pula roti dan rokok bermacam-macam merk seperti Jambu Bol, Djarum, Bentoel, dan Gudang Garam. Darimana pula anak-anak itu membeli rokok banyak begitu. Sama dengan mengambil ikan di Pekan Selasa, tiga sampai lima anak-anak mencari makanan dan rokok dari toko-toko di seputaran pasar Negarabatin. Caranya, semua mengenakan sarung. Liwa memang dingin, jadi tidak heran jika menangkupkan sarung di badan. Mereka berempat atau berlima mempunyai tugas masing-masing. Ada yang bertugas bertanya-tanya saja, ada yang membuat sibuk yang menjaga toko, ada yang berdiri melindungi temannya yang di belakang. Nah, teman yang di belakang ini yang sibuk mengambil apa yang dapat diambil. Atau bisa juga yang di tengah mengambil barang tetapi langsung dioper ke yang di belakang,

“Roti dan rokok dari mana?”

“Roti dari warung Pakngah Nawi, rokok dari tempat Romli dan Datuk Jehar.”

“Tadi hampir ketahuan di warung Datuk Jehar. Tapi untung, Jaya sudah pergi ketika Datuk Jehar menanyai kami. Jadi kan tidak bukti.”

Hahaa… tertawa semua yang ada di pondok.

Sepintar-pintar yang punya warung, lebih canggih anak-anak nakal ini mengutil makanan dan rokok.

>> BERSAMBUNG