Tapi walau sudah bersemangat Uyung menangkap-nangkap ikan, paling-paling hanya beberapa ekor yang ia dapatkan. Ia lihat yang lain, banyak sekali ikan yang mereka tangkap. Aih, tidak mudah menangkap ikan ini. Kok lepas-lepas terus. Mana pula yang lain hanya menertawakannya saja.
“Melawai di pasar lebih mudah, Yung,” kata seseorang.
Yang lain tertawa.
“Kalau di pasar ikan laut. Pakai uang tapi,” bicara pula yang lain.
Tertawa ramai-ramai.
“Lebih baik menangkap halipu[1]… banyak dan mudah,” ujar yang lain lagi.
Tertawa lagi.
Tapi benar juga. Dilihat Uyung, Makngah Yurna mengambili halipu itu. Dikumpulkannya.
“Disambal ini enak sekali,” kata Makngah Yurna.
Masuk akal. Jadi Uyung ikut-ikutan Makngah Yurna mengumpulkan halipu. Banyaklah ia dapatkan. Mau bagaimana lagi, itu yang mudah.
Setelah tidak banyak lagi ikan yang besar, ikan yang masih kecil dilepaskan lagi. Naik satu per satu dari sawah yang lumpurnya sampai dada Uyung. Namanya menolong, ikan yang ditangkap tidak semua dibawa pulang oleh yang menangkap, tetapi diberikan kepada pemilik sawah yang hendak nayuh. Sedikit saja yang dibawa pulang.
“Mana tangkapanmu, Yung?” tanya Tamong Sahru.
“Ini, Mong,” jawab Uyung.
Dilihat Tamong Sahru wadah Uyung.
“Aih, kok halipu semua ini?” kata Tamong Sahru.
Nah, tertawa semua. Uyung Cuma merah mukanya. Malu.
“Nah ini, Yung, bawa pulang,” Tamong Sahru bicara sambil menambahkan beberapa ikan habuan, lele, dan ikan mas di ember Uyung.
Kasihan Tamong Sahru dengan perolehan melawai Uyung.
“Buat apa banyak-banyak halipu. Berikan ke Makngahmu,” kata Tamong Sahru lagi.
“Halipu enak, Mong,” Uyung enggan.
“Lebih baik ikan. Sudahlah berikan kepada makngahmu,” kata Tamong Sahru.
“Yu, Mong,” Uyung menurut.
Semua halipu diberikan Uyung pada Makngah Yurna.
***
Anak-anak Negarabatin sering usil, nakal, dan sering gila-gilaan. Jika belangok, karena Uyung tak mahir menangkap ikan, ada yang mengejeknya, “Lebih mudah melawai di pasar, Yung.” Nah, oleh karena itu diperbuat Uyung dan teman-temannya menangkap ikan di pasar.
Tak perlu memakai uang!
Bagaimana jalannya, ada saja akal anak nakal.
Ceritanya, pekan di Negarabatin setiap hari Selasa. Macam-macam yang dijual di pekan, mulai dari sayuran, ikan, perkakas rumah tangga sampai kopi, kayu manis, dan lada. Ikan yang dijual di Pekan Selasa ada dua macam, yaitu ikan laut dari Krui dan ikan dari Danau Ranau. Orang Negarabatin meskipun suka ikan hampir tidak ada yang berjualan ikan.
Malam sehari sebelum sebelum Pekan Selasa, pedagang-pedagang ikan menumpukkan jualannya di lapak pekan. Jadi, banyak tumpukan ikan di situ. Tumpukan-tumpukan ikan tersebut hanya ditutup plastik dan diikat dengan tali plastik pula. Jika sudah rapi terbungkus, penjual ikan meninggalkan dagangannya di pekan. Istirahat di penginapan atau di manalah tempatnya menumpang tidur agar bangun pagi-pagi langsung berjualan. Orang laut yang berjualan ikan mana tahan jika tidak tidur karena harus menunggui ikan-ikan dagangannya. Negarabatin jika malam, apalagi menjelang subuh, sangat dingin. Tambahan Negarabatin memang aman. Siapa pula yang hendak mengambil ikan-ikan tersebut, mungkin begitu pikir si penjual ikan.
Begitu juga yang berjualan ikan danau, biasanya orang Kotaagung atau Bandingagung. Dagangan ikannya diletakkan di Pekan Selasa malam sebelumnya.
>> BERSAMBUNG
[1] keong mas