Negarabatin (50)

#13
MELAWAI[1], KECERMA[2], NGUDUT…

Orang Negarabatin memang kaya-kaya. Dulu,  cukup hasil kebun seperti kopi dan lada yang dijual untuk bermacam-macam keperluan yang besar. Membangun rumah, menyekolahkan anak-anak, dan naik haji, semuanya dari hasil kebun. Malah menabung pula dengan kopi yang diletakkan di loteng. Tidak dijual jika tidak sangat mendesak. 

Berladang, bersawah, memelihara ikan atau memelihara ayam hanya untuk mencukupi keperluan keluarga. Malu hendak berjualan dari tamanan muda. Jika Pakbalak Rusdi sedang panen jagung, tentu tidak akan habis dimakan mereka sekeluarga.

“Yung, kami sedang banyak jagung. Mari ke ladang mengambil jagung,” Pakbalak Rusdi mengajak Uyung.

Walau ogah, Uyung menjawab, “Ya, Lak.”

Tapi, Uyung malah bersiap-siap hendak bermain dengan teman-temannya. Maknya, Zanaha langsung berkata, “Apa yang membuatmu enggan, Yung. Sana kamu ikut Pakbalakmu, lumayan kita bisa mencicipi jagung. Kamu suka juga jika dibuat perkedel.”

Tidak bisa tidak, Uyung ikut Pakbalak Rusdi. Benar juga yang dikatakan mak. Masa rezeki ditolak. Tidak boleh.

Jika menjelang Lebaran atau hendak nayuh, begitu pula. Yang punya sawah atau bidok, sering mengajak sanak-famili melawai atau belangok.

“Yung, besok kita belangok di sawah Halian Rubok. Datang kamu bersama bakmu,” pesan Tamong Sahru.

Bersama baknya, Uyung mau. Tapi jika tidak, Uyung ogah-ogahan pula. Ia hanya akan menjadi bahan tertawaan saja oleh yang lain. Uyung tidak mahir menangkap ikan saat melawai. Yang lain bisa menangkap ikan mas, ikan lele atau ikan habuan, dia sama sekali tak bisa mendapatkan ikan meskipun air sawah sudah dikeringkan.

Kesal Uyung.

Ai… kidah,” seru Uyung.

“Kenapa, Yung?” tanya Mamak Mursal.

“Ikannya liar-liar. Susah menangkapnya,” kata Uyung.

Mamak Mursal tertawa.

“Sini Yung, saya ajari menangkap ikan,” ujar Mamak Mursal.

Uyung mendekat ke Mamak Mursal.

“Coba lihat caranya… Coba lihat. Diraba-raba lumpur-lumpur ini, cari kalau-kalau ikan sembunyi di dalamnya… Nah, itu berbuih-buih tandanya ada ikan habuan. Letakkan tanganmu di sini, satu lagi di sini… dekatkan.. hupp… nah, dapat habuannya,” Mamak Mursal berbicara pelan sambil tangannya bekerja sampat dapat menangkap ikannya.

“Begitu ya Mamak?” Uyung melihat sepertinya mudah menangkap ikan.  

“Iya. Sekarang, kamu cobalah,” kata Mamak Mursal.

“Ya, Mamak…,” Uyung yakin bisa.

Begitu dipraktikkannya, selalu lepas ikan dari tangannya walaupun ikannya sudah terpegang olehnya. Sering ikan menabrak Uyung, tetapi tetap saja Uyung tidak bisa menangkapnya. Bersungguh-sungguh mencoba menangkap ikan, begitu pula tidak tertangkap ikannya. Huupp, akhirnya dapat juga Uyung menangkap habuan.

Ikan di sawah memang banyak. Di antara ikan yang dapat ditangkap Uyung, ada yang dapat ditangkapkannya bukan karena Uyung mahir melawai, tetapi ikannya yang datang sampai terinjak olehnya tanpa sengaja. Sudah ada di kakinya, Uyung tinggal mengambilnya dengan tangan.

>> BERSAMBUNG


[1] menangkap ikan

[2] pesta makan ikan