Negarabatin (49)

Oleh mereka diantarlah Uyung ke Kantor Polres. Polisi bertanya-tanya kepada yang mengantarkannya. Kemudian mereka bertanya langsung kepada Uyung.

Polisi mengantar Uyung ke tempat sirkus.

“Ya, Pak. Nanti kami umumkan ada anak hilang.”

“Sudah kamu nonton sirkus dulu,” ujar polisi.

Jadinya, Uyung menonton sirkus ditemani polisi. Uyung melihat atraksi harimau yang lari dan melompat ke sana kemari. Kemudian meloncat melewati lingkaran api. Harimau besar-besar. Ada lima-enam harimau. Binatang lainnya yang main sirkus adalah buruk kakak tua, anjing, gajah, dan siamang.

Yang membuat Uyung kagum, melihat pemain acrobat yang ‘terbang’, berputar-putar di udara, loncat dar sudut yang satu ke sudut yang lain seperti film Tarzan yang bermain di antara pohon-pohon di hutan, tetapi ini di panggung besar sirkus.

Ada pula yang bermain sulap seperti kertas yang disobek-sobek malah malah menjadi uang, ada sapu tangan yang menjadi merpati.

Macam-macam yang dilihat Uyung sampai ia lupa bahwa ia ini sedang hilang dan menjadi carian orang ramai.

Tidak terlalu diperhatikan dari corong pengeras suara beberapa kali diumumkan: “Anak Hilang. Namanya Uyung. Umur 8 tahun. Memakai baju putih, celana pendek merah. Ciri-cirinya warna kulit putih, rambut lurus… Siapa yang merasa orang tua atau sanak-familinya, bisa menghubungi bagian Humas Sirkus.”

Berkali-kali diumumkan di sela jeda acara sirkus. Tidak terlalu dihiraukan Uyung. Mungkin karena khawatir bercampur bingung pula.

“Sudah menontonnya ya?” polisi bertanya kepada Uyung.

Uyung mengangguk.

“Ayo, kita keluar dulu,” ujar polisi itu lagi.

Uyung berjalan di sebelah polisi. Ketika berjalan ke arah luar sirkus, rupanya melewati rombongan dari Negarabatin. Pak Irsan yang pertama kali melihatnya.

“Nah, itu Uyung,” seru Pak Irsan.

“Di mana?” kata yang lain ramai-ramai.

“Itu,” ujar Pak Irsan sambil berlari mendekatu Uyung dan polisi.

“Yung,” Pak Irsan memanggil Uyung.

Polisi tadi bertanya kepada Uyung, “Kamu kenal?”

“Iya, Pak Polis. Guru saya,” jawab Uyung.

Datang mendekati juga Ibu Rokanah dan beberapa guru lainnya. Pak Irsan menjelaskan bahwa mereka dari Negarabatin memang sedang mencari-cari Uyung, yang hilang tadi sore ketika mengikuti bus ke sungai. Mereka juga sudah tahu dari pengeras suara, Uyung ada di sirkus. Setelah meyakinkan polisi, Uyung duduk dekat Pak Irsan kembali menonton sirkus. Kata polisi, Uyung boleh dibawa. Tapi, besok ada yang laporan ke kantor polisi.

Menonton sebentar, Pak Irsan berkata, “Sudah, kita semua pulang ke tempat kita menumpang. Ini sudah ditunggu kepala sekolah dan Pak Ubai. Supaya sama-sama tenang. Jangan saling mencari lagi.”

“Iya, Pak. Hayu…,” sambut yang lain.

Di rumah tempat menumpang, “Uyuung…, dari mana? Kalang-kabut kami mencarimu,” seru Pak Ubai.

“Pak Ubai sampai-sampai menyelam sungai kalau-kalau kamu tenggelam,” cerita seorang siswa kepada Uyung.

Malam itu, Uyung menjadi bintang. Ia berkisag mengapa ia hilang dikelilingi siswa-siswa kakak kelasnya dan guru-guru. Sesekali ia menjawab apa yang ditanyakan mereka.  

Entah memang sudah waktunya atau karena Uyung dari hilang, keesokan harinya rombongan kembali ke Negarabatin.

Sesampainya di pekon, Jahri sekeluarga mengundang tetangga dan sanak-famili ngakan menyan, berdoa Uyung selamat dan sehat dari hilang.

>> BERSAMBUNG