Negarabatin (48)

“Ada di … tempat yang ramai.”

“Pasar?”

“Bukan pasar. Di mana tempat yang ramai sekarang?”

Diam semua.

“Di mana itu?”

“Ada harimau, ada kera, ular, burung… macam-macam binatang.”

“Aduh… apakah Uyung tersesat di hutan ini…”

“Tapi tunggu. Ada orang pula. Main ayun-ayunan seperti kera. Nah, ada pula yang bermain dengan harimau…”

“Sirkus mungkin…”

Tapi sai pintar cuma berkata, “Mungkin saja. Sudah kalian tunggu saja. Paling-paling tidak lama lagi Uyung datang sendiri.”

Ai, dasar dukun. Sepertinya ia hanya menghibur saja. Orang-orang tetap kebingungan mencari Uyung. 

***

Kembali ke Uyung waktu ditinggalkan bus. Kecapaian dia berlari mengejar bus, tetapi tidak terkejar. Ia mencoba mencari rumah tempat rombongan SDN 1 Negarabatin menumpang. Tapi, ia tidak ingat nama pemilik rumah apalagi alamatnya. Sudah jelas, Uyung tersesat.

Hari mulai gelap. Kasihan Uyung. Di teras sebuah rumah ia menangis tanpa suara. Hanya air matanya yang mengucur tak tertahan membasahi muka dan bajunya. Dari hidungnya keluar pula ingusnya walau sebenarnya ia tidak sedang flu.

Untung ada perempuan keluar mebuka pintu. Dilihatnya ada anak memakai seragam merah putih….

Cerita menyimpang, jauh-jauh sebelum ada instruksi dari pusat, seragam siswa SDN 1 Negarabatin sejak dahulu memang celana merah dan kemeja putih. Berbeda dengan SDN 2 Negarabatin yang berseragam putih-hijau dan SDN 3 Negarabatin putih-biru. Konon, seragam putih-merahnya SDN 1 Negarabatin itu bagus dilihat Wakil Presiden Adam Malik ketika berkunjung ke Negarabatin yang masih berada dalam lingkup Pembantu Bupati Lampung Utara Wilayah Liwa. Pak Adam Malik kagum dengan siswa-siswa yang berseragam merah putih. Barangkali. Hahaa… Entah benar entah tidak. Yang jelas, tidak lama setelah kunjungan Wakil Presiden itu, ada peraturan dari pusat siswa SD semua memakai seragam merah-putih seperti bendera Indonesia tetapi terbalik, SMP seragam putih-biru, dan SMA seragam putih–abu-abu.

Cerita Uyung lagi. Perempuan tadi heran melihat Uyung. Tambah heran ia mengapa menangis.

“Mengapa?” tanyanya.

Malah suara lolong Uyung yang terdengar dan bertambah kuat.

Yang lain-lain keluar dari dalam rumah.

“Ambilkan air minum,” ujar perempuan kepada gadis kecil, anaknya agaknya.  

Gadis itu masuk, mengambil segelas air minum, dan memberikannya kepada ibunya.

“Minum dulu,” katanya sembari mendekatkan gelar ke mulut Uyung.

Setelah minum, tangis Uyung mereda.

“Siapa namamu?”

“Uyung.”

“Kanapa menangis?”

Uyung pun bercerita. Satu per satu orang datang. Ramai juga yang melihat Uyung. Banyak yang kasihan. Banyak yang mau menolong seperti mengantarkan Uyung bertemu rombongan dari Negarabatin. Mereka bertanya-tanya, tetapi Uyung tidak tahu alamat tempat rombongan menumpang. Hanya ia katakan teman-temannya datang dari Negarabatin ke Metro hendak menonton sirkus.

“Jadi, malam ini teman-temanmu nonton sirkus?” tanya seorang lelaki.

“Iya. Mereka menonton,” sahut Uyung terisak.

“Ya, sudah antarkan ke tempat sirkus saja,” kata yang lain.

“Tapi, bagaimana kita. Lebih baik ke polisi saja. Lebih mudah nantinya,” ujar yang lain lagi.

>> BERSAMBUNG