Kolom

Sakit, Jatuh, dan Ngakak: Kisah yang Tidak Dramatis-Dramatis Amat

ADA masa ketika hidup terasa seperti sedang bercanda, tapi dengan selera humor yang agak kejam. Dalam satu keluarga, sakit datang lebih dulu, lalu disusul kejadian jatuh—yang kadang benar-benar jatuh, kadang juga jatuh dalam arti nasib. Belum sempat pulih, musibah lain menyelinap masuk, seolah hidup sedang menguji: seberapa kuat kita bertahan sebelum benar-benar mengeluh panjang.

Tapi anehnya, di tengah semua itu, selalu ada ruang kecil untuk ngakak. Bukan tertawa lepas seperti orang menang undian, melainkan tawa yang setengah sadar, setengah pasrah. Tawa yang muncul karena kalau tidak tertawa, mungkin kita akan terlalu serius menghadapi hidup—dan itu bisa lebih melelahkan.

Bayangkan seseorang yang baru saja sembuh dari sakit, lalu terpeleset di kamar mandi. Bukannya langsung panik, yang pertama keluar justru kalimat, “Wah, lengkap sudah paketnya.” Kalimat itu mungkin terdengar sepele, tapi di situlah letak kekuatannya: kemampuan untuk melihat kemalangan sebagai sesuatu yang, entah bagaimana, masih bisa ditertawakan.

Kita sering mengira tragedi dan humor itu berjauhan. Padahal, keduanya justru sering berdempetan. Yang satu membuat kita meringis, yang lain membuat kita menyeringai. Bahkan kadang, dalam satu kejadian, kita bisa melakukan keduanya sekaligus—mengaduh sambil tertawa, menahan sakit sambil mengomentari diri sendiri.

Saya tetap ngeyel berceloteh dan cengengesan dengan orat-oret. Soalnya, gerak hidup ini tidak perlu selalu ditanggapi dengan nada besar. Tidak semua harus jadi tragedi epik. Ada kalanya cukup direspons dengan komentar ringan: “Ya sudah, mungkin ini edisi spesial minggu ini.” Seolah hidup adalah serial yang kadang episodenya kurang masuk akal, tapi tetap kita tonton sampai selesai.

Tentu saja, bukan berarti semua ini tanpa rasa sakit. Sakit tetap sakit, jatuh tetap menyakitkan, dan musibah tetap membawa beban. Tapi, dengan sedikit humor, beban itu tidak terasa sendirian. Ada jarak tipis yang tercipta—jarak yang membuat kita bisa melihat diri sendiri dari luar, lalu tersenyum kecil, meski keadaan belum benar-benar membaik.

Dan perlu ditegaskan, orat-oret ini tidak sedang menyindir siapa pun. Ini bukan kritik, bukan pula gugatan—baik kepada sesama manusia, apalagi kepada penguasa, terlebih lagi kepada Yang Mahakuasa. Apalah diri ini. Tulisan ini hanya cara sederhana untuk menghibur diri sendiri, semacam usaha kecil agar tidak tenggelam terlalu dalam dalam perasaan.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita menghadapi semua ini? Mungkin tidak perlu rumit. Terima saja bahwa hidup kadang tidak rapi. Bahwa musibah bisa datang beruntun tanpa memberi jeda. Tapi juga percaya bahwa kita punya cara untuk bertahan—salah satunya dengan tidak kehilangan kemampuan untuk menertawakan diri sendiri.

Ternyata, hidup bukan soal menjadi kuat sepanjang waktu. Kadang cukup dengan tetap waras, tetap bisa tersenyum, dan sesekali berkata, “Ini memang tidak dramatis-dramatis amat—hanya saja datangnya barengan.”

Dan, kalau kita masih bisa ngakak, walau sedikit, berarti kita belum kalah. Setidaknya, belum hari ini. []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top