‘Nakal’-nya Penulis Senior
SAYA tersungging. Masa setiap kali kasi pengantar naskah untuk Lampung
Post Minggu, Ganda
Pekasih selalu membuka atau menyapa dengan, “Salam, Bang
Is….”
Sekali-dua kali saya biarkan. Tapi, lama-lama kok ngelunjak dia, manggil
saya di official email Lampost Minggu, lagi-lagi dengan Bang Is. Maka,
saya sebagai admin balas, “Kok manggil Bang Is terus. Bang Is itu siapa,
Mas?”
Saya pikir Iswadi
Pratama. Eh, Ganda Pekasih menjawab, “Isbedy Stiawan ZS.”
Tepok jidat.
“Pak, saya Udo
Z Karzi,” saya memperkenalkan diri secara khusus kepada beliyou.
Habis manggil-manggil saya Bang Is mulu. Yang dipanggil gak tahu apa-apa.
Ke lain-lain saya cuma mencantumkan “Redaksi Budaya Lampost” dalam balasan email.
Memang sih redaktur budaya atau sastra Lampost silih berganti. Seingat saya, ada Aan S Labuan sebelum Isbedy Stiawan ZS (sampai 1999). Kemudian redaktur budaya Lampost dipegang Iswadi Pratama, Budi P Hutasuhut, dan Rahmat Sudirman. Barulah, saya, Udo Z Karzi (sampai 2015). Terakhir, SW Teofani sampai halaman sastra dan opini Lampost tak berhonor lagi.
Sebelum mengelola halaman sastra Lampost, saya memang suka jadi “serep” dan teman ngobrol di Lampost Minggu untuk liputan-liputan dan wawancara panjang.
Balik lagi, cerpenis senior memang suka “nakal”. Endang Supriadi dan Humam S. Chudori saya pergoki mengirim naskah lama yang pernah dimuat di koran tahun 1980-an dan 1990-an. Mereka pikir, ala redaktur Lampost (saya) tidak bakal tahu. Tahulah. Saya ya tahu banyak penulis, tetapi orang-orang mana tahu saya. Saya memang suka baca sastra di koran, majalah atau buku sejak dini lo ya … Hehee…
Soal tulisan lama tadi memang tidak saya kasih tahu ke penulisnya. Tapi, tidak saya muat.
Sebelum jadi wartawan sejak di kampus–sempat jadi redaktur sastra Surat Kabar Mahasiswa Teknokra dan Majalah Republica Universitas Lampung–terus terang, saya sudah kenal, maksudnya tahu, nama-nama penulis atau sastrawan yang sudah sering menulis di media cetak dan buku. Ya, tahu saja karena pernah baca karya-karya mereka.
Saya tahu Tita Tjindarbumi cerpenis asal Lampung yang ngetop sejak Anita Cemerlang tahun 1980-an. Tapi, di Facebook, ada Nita Tjindarbumi, tinggal di Surabaya. Ya, sudah saya tembak langsung saja dia, “Halo, cerpenis.” Ternyata orangnya sama. Mulanya, dia ngelak-ngelak gitu. Tapi, saya paksa “pulang kampung” dengan menulis di Lampost, eh… malah ketagihan dia. Hahaa…
Kalau Jauza Imani lain lagi kasusnya. Dia baru ngirim tulisan ke koran setelah saya gak jadi redaktur lagi. Gimana coba.
Pernah ada cerita redaktur sastra Lampost sebelum saya, ngomel-ngomelin seorang cerpenis.
“Orangnya sering benar ngirim dan agak rewel,” kata sang redaktur.
Saya tanya, “Siapa?”
“Sunaryono Basuki KS.”
“Hah? Itu sih sastrawan dan guru besar di Universitas Udayana (Unud).”
“Iya tah?”
Iya. Tapi, benar juga mau apa pun jabatan, seterkenal apa pun seorang penulis, redaktur punya kuasa.
Itu doeloe. Sekarang, apa pun, sejelek apa pun tulisan kita, boleh dimuat di medsos.
Tabik. []
Foto: Halaman Budaya Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Unila Edisi Mei 1992.