Human

Jakarta 12210, Liwa 34814 atau Bandar Lampung 35153

Gadis online. | Thành Lương/Pixabay

“KECAMATANNYA apa, Pak?” tanya seorang petugas ekspedisi.

Karena dongkol, saya jawab semena-mena, “Gak tau, Mbak. Itu alamat dari yang minta dikirimi memang begitu.”

Cewek si petugas bengong.

“Kan ada nama jalan dan kotanya atau kode pos, itu bisa dicari nama kecamatannya,” buru-buru saya menerangkan.

Nada suara saya mestilah kedengaran kesal. Untung saya tidak memaki. Sayang, cantik-cantik kok oon. Hahaa… Taklah! Mana berani saya mengata-ngatai cewek. Saya cuma membatin, selama sekolah dulu dia belajar apa kok begini amat ya.

Sebelumnya, doi bertanya, “Pengirimnya yang mana?”

Astaga. Saya biasa menuliskan alamat yang dituju dan pengirim di amplop surat/paket secara kovensional seperti yang diajarkan guru bahasa (dan sastra) Indonesia sejak SD sampai SMA tahun 1980-an dan sampai sekarang kayaknya tidak pernah berubah; yaitu pengirim di kiri atas dan si alamat yang dituju di sebelah kanan agak di tengah.

Saya jelaskan, pengirim di sebelah kiri, sedangkan surat ditujukan di sebelah kanannya, ada kata-kata, “Kepada Yth. ….”

Itu sudah, ehh… sudah itu, doi nanya lagi, “Alamatnya ini mau ngikuti google atau…?”

Saya kurang dengar kalimat terusannya. Tapi, saya jadi hilang kesabaran dan khawatir juga kalau-kalau paket saya jadi salah alamat dibuat olehnya. Padahal sudah sangat jelas alamat yang dituju dan pengirim berikut nomor kontaknya diketik pakai komputer dan di-print rapi.

Gak jadilah, Mbak!” kata saya.

Dari situ, saya pindah ke kantor ekspedisi lain. Sama juga, cewek di situ bertanya hal sama, “Kecamatannya apa ya?”

Masih ada sisa dongkol, saya bilang, “Coba cek kode pos itu kecamatan apa.”

Tak lama, doi berkata, “Kecamatan Kebayoran Lama?”

“Ya,” sambut saya.

“Sama?”

Saya diam saja. Ya iyalah, 12210 mesti itu kode pos Kelurahan Grogol Utara, yang berada di Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Tak bakal ketukar dengan kode pos lainnya.

Jangan Lupa Kode Pos

Duh, itulah sebabnya petugas pos (PT Pos Indonesia dan bukan perusahaan ekspedisi lainnya) sejak dulu–sejak kode pos diperkenalkan pada tahun 1984 dan mulai digunakan secara resmi pada tanggal 1 Agustus 1985–sering mengingatkan jangan lupa kode posnya.

Cantumkan kode pos, bukan kecamatannya!

Begini…

Sistem kode pos ini membuat saya terlempar ke masa lalu di tahun 1980-an ketika masih SD dan SMP yang meskipun di desa dan dengan kemampuan membaca-menulis alakadarnya; kami sudah berlangganan majalah “Sahabat Pena” terbitan PT Pos Indonesia. Dari membaca majalah, selain majalah, koran, buku dan bacaan lainnya; kami belajar menulis dan mulai berkorespondensi alias surat-suratan dengan sahabat pena dari berbagai pelosok Tanah Air.

Ketika menulis dan mengirim surat dengan prangko, Pak Pos selalu berupaya memastikan dengan bertanya, “Sudah dicantumkan kode posnya ya?”

Apa kode pos? Majalah “Sahabat Pena” sering-sering menyosialisasikan apa dan bagaimana kode pos itu.

Sekarang? Tinggal browsing saja ketemulah ini.

Sistem kode pos mulai dirancang oleh Marsoedi Mohamad Paham pada tahun 1981 untuk mengatasi kesulitan penyortiran surat karena banyaknya nama jalan yang sama.

Rancangan kode pos mulai diterapkan secara internal oleh Perum Pos dan Giro pada 7 September 1982, diikuti dengan penerapan di wilayah DKI Jakarta setahun setelahnya, yaitu pada tahun 1983.

Sistem kode pos kemudian diresmikan dan diterapkan di seluruh Indonesia pada tanggal 1 Agustus 1985.

Arti Kode Pos

Kode pos di Indonesia terdiri dari 5 digit angka:

Digit pertama

Digit ini berarti kode untuk wilayah provinsi:

Kode 1: Untuk DKI Jakarta. Kode ini juga mencakup beberapa wilayah di sekitar Jakarta, yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Kode 2 : Untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau

Kode 3 : Untuk wilayah Sumatra bagian selatan, seperti Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung.

Kode 4 : Untuk Jawa Barat, Banten

Kode 5 : Untuk Jawa Tengah dan Jogja

Kode 6 : Untuk Jawa Timur

Kode 7 : Untuk wilayah Kalimantan

Kode 8 : Untuk Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB)

Kode 9 : Untuk wilayah Sulawesi sampai Papua

Digit kedua dan ketiga

Digit ini berfungsi untuk menunjukkan wilayah kabupaten atau kota. Contohnya, Jawa Tengah memiliki kode 5, kemudian diikuti dengan Kabupaten Banyumas dengan kode 31, maka kode posnya adalah 531**.

Digit keempat dan kelima

Digit ini berfungsi untuk menunjukkan wilayah kecamatan dan kelurahan atau desa suatu daerah. Contohnya, berlanjut dari Kabupaten Banyumas sebelumnya yang memiliki kode pos 531, kemudian diikuti dengan Kecamatan Sokaraja yang memiliki kode 81. Maka, kode pos yang didapat adalah 53181.

Jadi, 34814 misalnya, tercatat sebagai kode pos Kelurahan Pasar Liwa, Kecamatan Balik Bukit/Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung. Kode pos tempat tinggal saya sekarang, 35153 yang merujuk pada Kelurahan Sumberrejo Sejahtera, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

Oleh karena itu, kalau saya tulis: Jakarta 12210, Liwa 34814 atau Bandar Lampung 35153; tidak usah ditanyakan lagi kelurahan atau kecamatannya. Cek digital saja!

Tabik. []

😛

Foto muli-nya bukan si petugas ekspedisi, pinjaman dari Thành Lương/Pixabay.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top