Tukang Kritik

SAYA tukang tulis dan otomatis juga tukang kritik. Tidak pernah daftar, tidak pernah dilantik, tiba-tiba sudah dianggap bagian dari golongan yang perlu ditertibkan. Mungkin karena setiap kali menulis, saya seperti punya refleks: mencari yang ganjil, lalu mengganggunya dengan kalimat.

Ketika Prabowo Subianto bicara soal pengamat yang pesimistis dan perlu ditertibkan, saya sempat mengecek diri sendiri. Siapa tahu saya sudah masuk daftar hitam, meski selama ini daftar belanja saja sering lupa.

Maklum, tukang kritik itu memang mencurigakan. Jangankan kebijakan yang jelas-jelas bermasalah—yang kelihatannya baik saja tetap kami colek. Bukan karena benci kebaikan, tapi karena pengalaman mengajarkan: yang tampak baik belum tentu baik-baik saja.

Belakangan, rasa curiga itu naik level. Tidak cuma ditertibkan, tetapi juga bisa dilaporkan. Kasus terbaru: Feri Amsari—akademisi yang pekerjaannya memang berpikir dan mengkritik—dilaporkan ke polisi setelah menyebut pemerintah berbohong soal swasembada pangan. Saya membayangkan: kalau pikiran saja bisa dipolisikan, apalagi tulisan seperti saya ini. Mungkin tinggal menunggu waktu sebelum koma dan titik juga dimintai keterangan sebagai saksi.

Kami ini seperti orang yang disuruh mencicipi masakan. Walau terlihat enak, tetap saja dicicip. Siapa tahu kurang garam, atau kebanyakan janji. Tapi di negeri yang mulai alergi rasa, tukang cicip ini justru dianggap perusak selera.

Perlu dicatat: kritik bukan cercaan. Bukan pula fitnah yang dirangkai jadi status panjang. Kritik itu kerja agak serius yang sering disalahpahami. Ia berusaha menunjukkan yang keliru, meluruskan yang bengkok, dan—kalau tidak malas—memberi arah perbaikan. Jadi kalau ada yang sekadar marah-marah tanpa dasar, itu bukan kritik. Itu mungkin hanya kelelahan yang kebetulan punya kuota internet.

Masalahnya, kritik sering dianggap tidak sopan. Seolah-olah tugas warga negara hanya bertepuk tangan. Padahal tepuk tangan yang terlalu sering bisa membuat telapak tangan panas, sementara kepala tetap dingin—tidak berpikir.

Dan, di sinilah kita sampai pada satu suasana yang ngeri-ngeri sedap. Negeri ini seperti panggung yang tampak tertib dari jauh, tapi kalau didekati ada suara berderit di bawah lantainya. Kritik mulai dicurigai, perbedaan pendapat mulai dipersempit, dan orang-orang mulai belajar satu hal baru: diam itu aman, bicara itu berisiko.

Lebih ngeri lagi, kita seperti sedang masuk ke zaman ketika orang mudah sekali tersinggung, tetapi sulit sekali berdialog. Dikit-dikit lapor polisi. Dikritik sedikit, dilaporkan. Diomeli sedikit, dilaporkan. Seolah-olah kepolisian adalah tempat penitipan perasaan yang terluka.

Betapa cengeng—atau meminjam istilah yang lebih jujur—betapa cemennya kita hari ini. Negara sebesar ini, dengan sejarah panjang menghadapi krisis dan konflik, tiba-tiba terlihat rapuh hanya karena beberapa kalimat kritik. Seolah-olah satu opini bisa meruntuhkan negara, padahal yang sering runtuh justru logika kita sendiri.

Saya jadi bertanya-tanya: sejak kapan kita berubah jadi bangsa yang tidak tahan dikoreksi? Dulu kita bangga dengan kebebasan berbicara, sekarang kita sibuk membatasi siapa yang boleh bicara dan apa yang boleh dikatakan.

Saya paham, tidak semua kritik menyenangkan. Ada yang nyinyir, ada yang lebay, ada juga yang terasa seperti mantan: sulit dilupakan dan bikin emosi. Tapi dari sekian banyak itu, tidak semuanya layak dipolisikan. Kalau semua disapu, nanti yang tersisa hanya pujian—dan itu berbahaya.

Sebab, pujian yang berlebihan bisa membuat penguasa percaya bahwa semuanya sudah benar, padahal mungkin baru benar menurut baliho.

Soal tudingan ada yang membiayai kritik, saya jadi khawatir. Kalau benar begitu, berarti selama ini saya kerja gratis. Ini tidak adil. Orang lain dibiayai, saya cuma ditemani kopi dingin dan deadline panas—dan sekarang ditambah risiko laporan polisi.

Namun, begini saja: tidak semua kritik harus membawa solusi. Ini penting. Karena kalau kritik wajib disertai solusi, maka tukang kritik akan berubah jadi tukang proyek. Padahal tugas kami sederhana: mengingatkan, bukan mengerjakan.

Solusi itu urusan yang punya kuasa. Kritik itu urusan yang masih punya rasa.

Jadi, kalau mau menertibkan tukang kritik, silakan saja. Tapi hati-hati: dunia yang terlalu tertib sering kali kehilangan keberanian untuk jujur.

Dan kalau itu terjadi, kita semua—termasuk yang gemar melapor dan yang rajin dilaporkan—akan hidup nyaman di dalam cerita yang kita karang sendiri. Tanpa kritik, tanpa koreksi, tanpa sadar bahwa mungkin… kita sedang keliru dengan sangat tertib. []