Sastrawan, Pembaca, dan Media: Antara Karya, Keramaian, dan Kepura-puraan

SAYA selalu curiga pada kalimat yang terlalu cepat menyimpulkan: “sastra kini makin maju.” Maju ke mana? Ke toko buku yang makin sepi? Ke media sosial yang makin riuh tapi miskin bacaan? Atau ke kepala kita yang makin merasa jadi sastrawan hanya karena berhasil mengunggah dua bait puisi di Facebook?

Sastra, kalau mau jujur, sedang tidak baik-baik saja. Tapi seperti biasa, kita lebih suka merayakan gejalanya daripada memeriksa penyakitnya.

Mari kita mulai dari hulunya: sastrawan.

Sastrawan: Antara Menulis dan Sekadar Terlihat Menulis

Dulu, menjadi sastrawan itu proses panjang. Membaca bertahun-tahun, menulis diam-diam, ditolak berkali-kali, baru kemudian diakui—itu pun seringnya setelah mati. Sekarang? Cukup punya akun media sosial, sedikit keberanian, dan banyak kepercayaan diri—selesai. Anda sudah bisa menyebut diri “penulis”.

Masalahnya bukan pada kemudahan. Demokratisasi itu penting. Siapa pun berhak menulis. Tapi yang jarang kita akui: tidak semua yang ditulis layak disebut karya sastra.

Sastra bukan sekadar kemampuan menulis. Ia adalah kemampuan mengolah. Mengolah bahasa, pengalaman, luka, kemarahan, bahkan kebodohan—menjadi sesuatu yang punya daya getar. Kalau tidak ada getaran, ya itu cuma tulisan. Bukan sastra.

Di titik ini, kita mulai melihat gejala: banyak yang ingin menjadi sastrawan, tapi sedikit yang mau menjalani proses kesastrawanan. Padahal, seperti diingatkan dalam bahan dasar tulisan ini, soal sastra bukan medianya, tapi kualitasnya. Sayangnya, kualitas itu sekarang kalah cepat dengan “posting”.

Pembaca: Dari Menggemari ke (Jarang) Mereaksi

Kalau sastrawannya bermasalah, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Lihat dulu pembacanya.

Ada empat tingkat pembaca: menggemari, menikmati, mereaksi, dan produktif.

Masalah kita sederhana: sebagian besar berhenti di dua tingkat pertama. Bahkan sering kali baru sampai “menggemari”—itu pun lebih tepat disebut “sekadar lewat”.

Membaca hari ini sering kali tidak lebih dari menggulir layar. Puisi dibaca seperti status. Cerpen diperlakukan seperti caption. Novel kalah oleh notifikasi.

Padahal, pembaca yang sehat adalah pembaca yang berani mereaksi. Mengkritik. Menggugat. Bahkan tidak setuju. Tanpa itu, sastra akan jadi ruang yang terlalu sopan—dan biasanya, yang terlalu sopan itu cepat mati.

Lebih parah lagi, kita sekarang punya pembaca yang langsung ingin naik kelas ke “produktif” tanpa melewati tahap kritis. Belum selesai membaca, sudah ingin menulis. Belum paham satu puisi, sudah ingin bikin antologi.

Akibatnya? Karya lahir bukan dari kebutuhan, melainkan dari keinginan untuk segera terlihat.

Media: Panggung yang Terlalu Ramai

Dulu, karya sastra harus “lolos” dulu: ke redaksi, ke editor, ke penerbit. Ada proses seleksi, ada penolakan, ada penyaringan. Menyakitkan, tapi penting.

Sekarang, tidak ada lagi gerbang. Semua orang bisa masuk. Bahkan, tidak perlu pintu.

Media digital—blog, Facebook, platform daring, apa pun namanya—membuka ruang yang luas. Terlalu luas. Dan seperti semua yang terlalu luas, ia sulit dikontrol.

Akibatnya, kita hidup dalam banjir teks. Semua orang menulis. Semua orang mempublikasikan. Semua orang merasa layak dibaca.

Tapi ada satu yang hilang: kurasi.

Tanpa kurasi, sastra berubah jadi kebisingan. Sulit membedakan manakarya, mana sekadar curhat yang diberi jeda baris.

Kita menyebutnya “sastra digital”. Kedengarannya keren. Padahal, sering kali itu cuma teks yang kebetulan ditaruh di internet.

Sekali lagi, masalahnya bukan pada medianya. Media itu netral. Tapi ketika media jadi tujuan—bukan sarana—di situlah sastra mulai kehilangan arah.

Dialektika yang Pincang

Idealnya, sastrawan menulis dengan kesadaran estetik, pembaca membaca dengan kesadaran kritis, dan media menjadi ruang yang sehat untuk pertemuan keduanya.

Tapi, yang terjadi sekarang agak lain. Sastrawan menulis untuk cepat tayang. Pembaca membaca untuk cepat selesai. Media menyediakan semuanya tanpa banyak tanya.

Hubungan yang seharusnya dialektis berubah jadi transaksional. Tidak ada lagi jarak yang cukup untuk merenung. Tidak ada jeda untuk mengendapkan makna. Semua harus cepat. Semua harus hadir sekarang.

Padahal sastra, sejak awal, adalah seni menunda. Menunda makna agar ia tumbuh. Menunda kesimpulan agar ia dalam.

Yang Hilang: Kedalaman

Kita mungkin punya lebih banyak penulis sekarang. Lebih banyak pembaca. Lebih banyak media.

Tapi, satu yang mulai langka: kedalaman.

Kedalaman tidak bisa diunggah. Ia harus dibangun. Dari membaca yang panjang, dari berpikir yang sabar, dari kegagalan yang berulang.

Tanpa itu, sastra hanya jadi permukaan. Mengkilap, ramai, tapi dangkal. Dan yang dangkal punya satu sifat: cepat dilupakan.

Epilog: Sastra yang Perlu Diselamatkan (dari Kita Sendiri)

Sastra tidak sedang mati. Tapi ia sedang dikeroyok—oleh kita sendiri. Oleh sastrawan yang terlalu cepat puas. Oleh pembaca yang terlalu malas berpikir. Oleh media yang terlalu sibuk menampung.

Kalau ada yang perlu diperbaiki, bukan teknologinya. Bukan platformnya. Tapi sikap kita terhadap sastra. Menulis lebih pelan. Membaca lebih dalam.

Dan—ini yang paling sulit—berani mengatakan bahwa tidak semua yang kita tulis itu layak disebut karya. Soalnya, sastra bukan soal siapa yang paling cepat menulis. Tapi, siapa yang paling tahan untuk tidak asal menulis.

Dan di zaman sekarang, itu mungkin bentuk keberanian yang paling langka. []

_________
Esai ini diolah dari makalah Udo Z Karzi dalam sebuah Lokakarya Sastra—saya lupa penyelenggara dan tempat pelaksanaannya—pada Mei 2019.