Oleh Budi Hatees
AKHIR-AKHIR ini, mari kita hitung sejak Presiden Prabowo Subianto terpilih, hidup kita selalu dihadapkan dengan satu kata “kuantitas”. Segala sesuatu di sekitar kita, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari maupun tidak, selalu harus diukur berdasarkan kuantitas.
Karena jumlah suara yang memilih Prabowo Subianto dalam Pilres sangat tinggi, maka ia menjadi Presiden RI. Sejak itu, segala sesuatu akhirnya diukur berdasarkan kuantitas itu, termasuk perkara kebijakan-kebijakan Presiden RI. Begitu juga dengan anggota legislatif kita, mereka terpilih karena kuantitas. Mereka tidak punya kualitas.
Jika orang yang mendukung program MBG lebih banyak daripada yang mengkritik, maka program MBG tidak akan pernah dihentikan. Maka, agar kuantitas pendukung program MBG lebih massif dan suara dukungan itu bergaung, tidak ada cara lain selain menguasai media dan menyebarkan para pendengung.
Kita bertanya, kenapa bukan kualitas yang diutamakan. Jawabannya, karena kita, sebagai sebuah bangsa, sejak lama selalu lebih perduli terhadap kuantitas. Kita selalu ingin mendapatkan lebih banyak ketimbangkan memikirkan sesuatu yang lebih berkualitas. Maka, wajar, apapun yang kita hasilkan, ia tidak diharapkan untuk bertahan lama.
Sesuatu yang hanya dilihat dari sisi kuantitas, dapat dengan mudah menimbulkan kebosanan. Itu itu saja. Lo lagi lo lagi. Tapi, kita harus terima kondisi ini, karena kita tidak pernah diajarkan untuk berbicara tentang kualitas apalagi berkualitas. Kita hanya diajarkan bersuara, bila perlu lantang dan bergaung meskipun tak berkualitas.
Kuantitas membunuh kehidupan kita. []
___________
Budi Hatees, sastrawan, peneliti sosial-budaya.