Human

Siswa Menulis, Tapi Siapa yang Membaca? Menguji Euforia Antologi Sekolah

Halaman-halaman buku per buku | Alexander Lesnitsky/Pixabay

Oleh Udo Z Karzi

SEKILAS pernyataan “Ketika para siswa terus menulis… siapa bilang minat baca-tulis kita rendah?” memancarkan optimisme yang mudah menular. Di tengah narasi umum tentang rendahnya literasi di Indonesia, kemunculan buku-buku antologi karya siswa memang tampak sebagai bukti tandingan yang meyakinkan. Sekolah-sekolah berlomba menerbitkan buku, siswa berbondong-bondong menjadi “penulis”, dan rak-rak perpustakaan sekolah pun mulai diisi oleh karya internal.

Namun, pertanyaan mendasar yang justru jarang diajukan adalah: setelah siswa menulis, siapa yang membaca?

Pertanyaan ini penting, karena ia menyentuh inti dari literasi itu sendiri. Literasi bukan sekadar kemampuan memproduksi teks, melainkan juga proses komunikasi: ada penulis, ada teks, dan ada pembaca. Tanpa pembaca, teks kehilangan fungsi sosialnya. Ia menjadi produk yang selesai di percetakan, tetapi tidak pernah benar-benar hidup.

Fenomena antologi siswa perlu dilihat dalam kerangka ini. Di satu sisi, kita patut mengapresiasi keberanian dan semangat siswa untuk menulis. Menulis bukan perkara mudah; ia membutuhkan imajinasi, keberanian, dan keterampilan berbahasa. Ketika siswa mampu menghasilkan karya, bahkan dalam bentuk buku, itu adalah capaian yang layak dirayakan. Dalam konteks pendidikan, ini juga menunjukkan bahwa sekolah mulai memberi ruang bagi ekspresi kreatif, tidak semata-mata berfokus pada hafalan dan ujian.

Namun, apresiasi tersebut tidak boleh membuat kita abai terhadap persoalan struktural yang menyertai praktik ini.

Banyak buku antologi siswa lahir dari skema yang seragam: sekolah bekerja sama dengan penerbit tertentu, siswa diminta menulis (kadang dalam bentuk tugas), lalu buku dicetak dengan biaya yang sebagian atau seluruhnya ditanggung oleh siswa atau orang tua. Dalam model ini, penerbitan tidak bertumpu pada seleksi kualitas atau kebutuhan pembaca, melainkan pada kepastian produksi. Buku pasti terbit karena biaya sudah tersedia, dan pasar pun sudah “aman”—yakni para siswa itu sendiri.

Di titik ini, kita mulai melihat adanya pergeseran makna. Buku tidak lagi menjadi medium komunikasi publik, melainkan simbol capaian administratif: bukti bahwa sekolah telah menjalankan program literasi, dan siswa telah “berhasil” menjadi penulis. Literasi berubah menjadi indikator formal, bukan praktik kultural yang hidup.

Masalah berikutnya adalah distribusi. Sebagian besar buku antologi siswa tidak masuk ke jaringan distribusi umum. Ia tidak tersedia di toko buku besar, tidak dipasarkan secara luas, dan jarang hadir dalam ruang-ruang diskusi publik. Peredarannya terbatas: dibagikan kepada siswa, guru, orang tua, atau disimpan di perpustakaan sekolah. Dengan kata lain, buku itu berputar di lingkungan yang sama dengan para penulisnya.

Kondisi ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “lingkaran tertutup literasi”. Siswa menulis untuk dibaca oleh sesama siswa atau orang-orang terdekat. Pembacaan terjadi bukan karena ketertarikan terhadap isi, melainkan karena relasi sosial. Buku dibaca karena ada nama teman, anak, atau murid di dalamnya—bukan karena ia menawarkan gagasan yang menarik bagi publik yang lebih luas.

Lalu, apakah ini berarti kegiatan tersebut sia-sia? Tidak juga. Ia tetap memiliki nilai edukatif, terutama sebagai latihan awal. Namun, masalah muncul ketika praktik ini dipandang sebagai bukti bahwa minat baca tulis sudah tinggi. Di sinilah letak kritik terhadap pernyataan optimistis tadi: kita tidak bisa menyimpulkan kondisi literasi hanya dari banyaknya buku yang diproduksi.

Produksi tidak sama dengan konsumsi. Menulis tidak otomatis berarti membaca. Bahkan, dalam beberapa kasus, siswa yang terlibat dalam proyek antologi justru lebih fokus pada proses penerbitan daripada memperkaya bacaan mereka. Menulis menjadi tujuan, bukan bagian dari siklus literasi yang utuh.

Lebih jauh lagi, kita perlu mengkritisi peran penerbit dalam fenomena ini. Tidak sedikit penerbit yang menjadikan proyek antologi siswa sebagai model bisnis. Karena biaya produksi sudah ditanggung, risiko nyaris nol. Namun, konsekuensinya adalah melemahnya fungsi kurasi. Naskah tidak diseleksi secara ketat, penyuntingan sering kali minimal, dan kualitas buku menjadi sangat beragam.

Jika praktik ini terus berlangsung, ada risiko jangka panjang terhadap ekosistem perbukuan. Standar kualitas bisa menurun, dan makna “menjadi penulis” menjadi tereduksi. Siswa mungkin merasa telah mencapai sesuatu, padahal mereka belum benar-benar melalui proses kreatif yang utuh—yang melibatkan revisi mendalam, kritik, bahkan penolakan.

Ekosistem perbukuan yang sehat membutuhkan keseimbangan antara produksi dan resepsi. Penulis menulis, penerbit menyeleksi dan menyunting, buku didistribusikan secara luas, dan pembaca memberikan respons—baik berupa apresiasi maupun kritik. Dalam konteks antologi siswa, rantai ini sering terputus di tengah.

Karena itu, pertanyaan “siapa yang membaca?” menjadi kunci evaluasi. Jika jawabannya terbatas pada lingkungan internal, maka kita perlu mendorong langkah berikutnya: bagaimana agar buku-buku tersebut bisa menjangkau pembaca yang lebih luas? Bagaimana agar karya siswa tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga bagian dari percakapan publik?

Salah satu jalan adalah memperbaiki kualitas. Sekolah dan penerbit perlu berani melakukan seleksi yang lebih ketat. Tidak semua tulisan harus diterbitkan; justru proses seleksi itu penting sebagai pembelajaran. Siswa perlu memahami bahwa menulis adalah proses panjang, yang melibatkan penyempurnaan terus-menerus.

Selain itu, distribusi harus diperluas. Di era digital, sebenarnya ada banyak peluang: platform buku elektronik, media sosial, hingga forum literasi daring. Buku siswa bisa dipromosikan secara lebih luas, bahkan melibatkan pembaca dari luar lingkungan sekolah. Dengan demikian, karya mereka memiliki kesempatan untuk diuji secara publik.

Yang tak kalah penting adalah menumbuhkan budaya membaca yang seimbang. Menulis tanpa membaca akan menghasilkan karya yang dangkal dan repetitif. Sekolah perlu memastikan bahwa program literasi tidak berhenti pada penerbitan buku, tetapi juga mencakup diskusi, resensi, dan interaksi dengan karya-karya lain—baik lokal maupun global.

Euforia antologi sekolah perlu ditempatkan secara proporsional. Ia adalah langkah awal, bukan tujuan akhir. Ia bisa menjadi pintu masuk menuju budaya literasi yang lebih sehat, tetapi juga bisa menjadi jebakan jika kita terlalu cepat merasa puas.

Pernyataan bahwa “siswa terus menulis” memang menggembirakan. Tetapi, tanpa pembaca yang nyata, tanpa distribusi yang luas, dan tanpa kualitas yang terjaga, kita hanya menciptakan ilusi literasi. Buku-buku terbit, tetapi tidak dibaca; penulis lahir, tetapi tidak berkembang.

Maka, tugas kita bukan sekadar mendorong siswa untuk menulis, melainkan memastikan bahwa tulisan mereka menemukan pembacanya. Sebab, di situlah literasi benar-benar hidup: ketika teks tidak hanya diproduksi, tetapi juga dibaca, dipahami, dan diperdebatkan.

Tanpa itu, pertanyaan “siapa yang membaca?” akan terus menggantung—dan euforia itu, cepat atau lambat, akan kehilangan maknanya. []

____________
Udo Z Karzi, jurnalis-penulis, tinggal di Bandar Lampung.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top