Oleh Yuzirwan Zubairi
ADA satu kebiasaan yang diam-diam menjadi “ritual” generasi muda hari ini: scroll tanpa henti. Dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, jempol bekerja lebih keras daripada pikiran. Ironisnya, di tengah derasnya arus informasi itu, justru banyak anak muda yang masih gagap dalam satu hal mendasar: mengontrol uangnya sendiri.
Kita hidup di era di mana akses terhadap informasi keuangan terbuka lebar. Tips investasi, cara menabung, bahkan strategi “cepat kaya” bertebaran di media sosial. Namun, akses yang melimpah tidak otomatis melahirkan pemahaman. Di sinilah masalahnya: banyak yang tahu istilahnya, tetapi tidak benar-benar mengerti maknanya.
Dalam kacamata ekonomi, fenomena ini bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan persoalan perilaku. Kita menyaksikan bagaimana keputusan finansial semakin dipengaruhi oleh impuls, tren, dan tekanan sosial. Diskon kilat, flash sale, hingga fitur pay later membuat konsumsi terasa ringan di awal, tetapi sering kali berat di belakang. Uang menjadi sesuatu yang “mengalir begitu saja”, tanpa benar-benar disadari ke mana arahnya.
Padahal, mengontrol uang bukan perkara besar yang harus menunggu seseorang memiliki penghasilan tinggi. Justru kebiasaan itu dibentuk dari hal kecil: bagaimana mengelola uang jajan, bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan, serta bagaimana menahan diri dari keputusan impulsif. Ini bukan sekadar soal angka, tetapi soal cara berpikir.
Banyak anak muda hari ini merasa percaya diri karena akrab dengan teknologi finansial. Mereka bisa mengunduh aplikasi, membuka akun, bahkan mencoba berbagai instrumen investasi. Namun, di balik itu, ada celah yang cukup lebar: pemahaman terhadap risiko. Dalam istilah ekonomi, ini dikenal sebagai information asymmetry—ketika seseorang merasa tahu, padahal sebenarnya tidak memiliki informasi yang cukup untuk mengambil keputusan yang tepat.
Akibatnya, tidak sedikit yang terjebak dalam praktik keuangan yang merugikan. Mulai dari pinjaman online yang tidak jelas legalitasnya, investasi dengan iming-iming keuntungan tidak masuk akal, hingga fenomena judi online yang dikemas seolah-olah sebagai hiburan biasa. Semua ini menyasar kelompok yang sama: mereka yang punya akses, tetapi belum cukup literasi.
Di titik ini, kita perlu jujur: literasi keuangan di kalangan generasi muda Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kampanye menabung memang penting, tetapi tidak cukup. Menabung hanyalah langkah awal. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami bagaimana uang bekerja—bagaimana ia bisa tumbuh, bagaimana ia bisa hilang, dan bagaimana ia bisa menjadi alat untuk mencapai tujuan hidup.
Lebih dari itu, mengontrol uang juga berarti mengontrol diri. Ini mungkin terdengar klise, tetapi justru di situlah inti persoalannya. Dalam ekonomi perilaku, manusia tidak selalu rasional. Kita mudah tergoda, mudah ikut-ikutan, dan sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat. Tanpa kesadaran ini, semua pengetahuan finansial akan sulit diterapkan.
Namun, penting juga untuk tidak melihat persoalan ini secara hitam-putih. Tidak semua anak muda memiliki kondisi ekonomi yang sama. Ada yang harus berjuang dengan keterbatasan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dalam konteks ini, literasi keuangan tidak boleh berubah menjadi narasi yang menyalahkan individu. Mengontrol uang bukan berarti harus selalu punya sisa untuk ditabung, tetapi bagaimana memaksimalkan apa yang ada dengan cara yang paling bijak.
Di sisi lain, generasi muda juga tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek edukasi. Mereka adalah aktor ekonomi yang memiliki potensi besar. Dengan pemahaman yang tepat, mereka tidak hanya bisa mengelola uang, tetapi juga menciptakan nilai—melalui usaha kecil, kreativitas digital, atau bentuk inovasi lainnya. Di era sekarang, peluang itu terbuka lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Dalam konteks yang lebih besar, kualitas keputusan finansial generasi muda akan berdampak langsung pada masa depan ekonomi Indonesia. Individu yang melek finansial cenderung lebih stabil, lebih produktif, dan tidak mudah terjebak dalam risiko yang merugikan. Jika ini terjadi secara luas, maka dampaknya akan terasa pada tingkat nasional: sistem keuangan yang lebih sehat dan ekonomi yang lebih tangguh.
Akhirnya, pertanyaannya kembali sederhana: apakah kita akan terus scroll tanpa arah, atau mulai mengambil kendali?
Mengontrol uang bukan tentang menjadi pelit, tetapi tentang menjadi sadar. Sadar bahwa setiap keputusan kecil hari ini akan membentuk kondisi kita di masa depan. Sadar bahwa uang bukan sekadar alat transaksi, tetapi juga alat untuk menentukan pilihan hidup.
Jadi, sebelum jempol kembali sibuk menggulir layar, mungkin ada baiknya berhenti sejenak—dan mulai bertanya: ke mana sebenarnya uang kita pergi? []
___________
Yuzirwan Zubairi, pengamat ekonomi, keuangan, dan investasi.