Apalah Daya Sepotong Puisi Berhadapan dengan Maunya Industri dan Dunia Kerja?

WAHAI penyair Endonesah, apalah gunanya puisi-puisi kalian kalau tidak mendukung industri dan tidak pula membuat kalian kaya? Negara ini jelas tak butuh puisi—setidaknya itu yang bisa saya tafsirkan dari pernyataan Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, pada Kamis, 23 April 2026. Barangkali di masa depan, kita perlu mengajukan proposal: ā€œPuisi sebagai Komponen Hilir Industri Kreatif Berbasis Tangis Nasional.ā€ Siapa tahu lolos pendanaan.

Sebab kabarnya, kementerian akan menutup program studi yang tidak relevan dengan industri. Sebuah kalimat yang terdengar rasional, efisien, dan penuh aroma pabrik: bau oli, logam panas, dan laporan KPI. Logikanya sederhana: kalau tidak bisa langsung jadi uang, ya untuk apa? Kalau tidak bisa diserap pasar kerja, ya dibubarkan saja. Maka berdirilah universitas sebagai semacam pabrik roti: masuk tepung, keluar tenaga kerja. Rapi, higienis, dan minim pertanyaan filosofis.

Pemikiran yang merendahkan ilmu pengetahuan semacam ini bukan yang pertama. Sepanjang Indonesia merdeka, agaknya selalu ada saja pejabat pendidikan yang menganggap ilmu sosial, filsafat, sejarah, sastra, dan humaniora itu semacam hobi mahal yang tidak menghasilkan. Kalau bisa dihapus tanpa demo, mungkin sudah lama hilang dari kurikulum. Dulu kita mengenal jargon link and match. Sekarang mungkin sudah naik level: cut and delete.

Ceritanya, saya ā€œtersesatā€ di Jurusan Ilmu Pemerintahan, FISIP Universitas Lampung, tahun 1990. Waktu itu fakultasnya saja masih status persiapan—semacam hubungan tanpa kepastian. Salah satu sebabnya? Ya itu tadi: ilmu sosial-humaniora dianggap anak tiri. Tidak seksi, tidak cepat menghasilkan, dan—ini yang paling menyakitkan—tidak dianggap penting. Maka, jangan heran kalau hingga hari ini kampus-kampus kita miskin jurusan filsafat, sejarah, atau sastra. Yang ada justru jurusan yang kalau disebut orang tua langsung mengangguk: ā€œNah, itu masa depan!ā€

Saya jadi curiga, mungkin sejak awal kita memang salah paham soal pendidikan. Kita kira universitas itu seperti balai latihan kerja versi premium. Padahal, sejak zaman Plato—eh, maaf, ini mulai tidak relevan dengan industri—ilmu itu adalah upaya memahami dunia, bukan sekadar cara bertahan hidup di dalamnya. Tapi, siapa peduli Plato kalau yang dibutuhkan adalah operator mesin?

Iya juga kali ya. Saya sendiri lulusan ilmu pemerintahan, tetapi lebih banyak menulis—termasuk puisi dan kritik sosial. Dari sudut pandang industri, saya ini semacam produk gagal. Tidak efisien, tidak produktif dalam arti ekonomi, dan berpotensi mengganggu stabilitas karena suka protes. Kalau mengikuti logika baru itu, mungkin seharusnya saya dulu dialihkan saja ke jurusan ā€œTeknik Kepatuhan Nasionalā€.

Masalahnya, cara berpikir yang hanya mengukur nilai ilmu dari kegunaan langsungnya itu seperti menilai cinta dari jumlah transfer bulanan. Dangkal, tapi tampak meyakinkan. Padahal, banyak hal paling penting dalam hidup justru tidak punya nilai pasar: empati, imajinasi, kesadaran sejarah, kemampuan bertanya. Semua itu tumbuh dari wilayah yang kini dianggap ā€œtidak relevanā€.

Bayangkan sebuah negeri tanpa sastra. Orang mungkin masih bisa bekerja, menghasilkan, dan membayar pajak. Tapi, siapa yang akan mengajarkan kita merasa? Bayangkan dunia tanpa sejarah. Kita mungkin tetap bisa membangun gedung tinggi, tetapi tanpa tahu pernah runtuh berkali-kali. Bayangkan tanpa filsafat. Kita mungkin bisa menciptakan teknologi canggih, tapi tidak pernah bertanya: untuk apa semua ini?

Di titik inilah kelucuan berubah jadi kecemasan. Sebab, ketika negara hanya memelihara ilmu yang ā€œlaku dijualā€, ia sebenarnya sedang menggadaikan masa depan. Inovasi besar tidak lahir dari kepatuhan pada pasar, melainkan dari keberanian menyimpang darinya. Banyak penemuan penting justru berasal dari riset yang dulu dianggap tidak berguna. Kalau semua harus relevan sejak awal, kita mungkin masih hidup di zaman batu—tapi dengan manajemen proyek yang baik.

Lebih jauh lagi, kebijakan ini mencerminkan kegagalan memahami hakikat universitas. Universitas bukan sekadar tempat mencetak pekerja, melainkan ruang membentuk manusia. Di sanalah berbagai disiplin ilmu bertemu, berdebat, dan saling mengoreksi. Ilmu eksakta memberi kita alat, tapi ilmu sosial dan humaniora memberi kita arah. Tanpa arah, alat hanya akan mempercepat kita menuju kesalahan.

Lucunya, negara-negara yang industrinya maju justru tidak buru-buru menutup jurusan yang ā€œtidak relevanā€. Mereka tetap mendanai filsafat, sastra, dan ilmu dasar. Mereka paham bahwa kemajuan jangka panjang tidak lahir dari efisiensi semata, melainkan dari kebebasan berpikir. Sementara kita, dengan penuh percaya diri, memilih jalan pintas: merampingkan ilmu agar sesuai dengan kebutuhan hari ini, sambil lupa bahwa masa depan tidak selalu mengikuti rencana produksi.

Tentu saja, kebutuhan industri itu penting. Tidak ada yang menyangkal. Tapi, menjawabnya dengan menutup prodi adalah solusi malas. Yang dibutuhkan adalah integrasi, bukan eliminasi. Dialog, bukan pembubaran. Universitas harus menjembatani ilmu dan dunia kerja, bukan menyerahkan diri sepenuhnya pada logika pasar.

Kalau tidak, kita akan sampai pada situasi yang aneh: negara yang maju secara industri, tapi miskin secara intelektual. Kita bisa memproduksi banyak barang, tapi kehilangan kemampuan memahami diri sendiri. Kita bisa bekerja sangat efisien, tapi tidak tahu lagi untuk apa kita hidup.

Dan di tengah semua itu, seorang penyair duduk di sudut, menulis sesuatu yang tidak akan pernah masuk laporan keuangan. Sepotong puisi yang tidak menyelamatkan industri, tidak meningkatkan GDP, dan tidak membuatnya kaya. Tapi mungkin—hanya mungkin—menyelamatkan sesuatu yang lebih penting: kemanusiaan kita yang pelan-pelan dianggap tidak relevan.

Apalah daya sepotong puisi? Memang kecil. Tapi, barangkali justru karena kecil, ia luput dari mesin yang ingin meratakan segalanya. Dan dari situlah, diam-diam, ia mengingatkan: tidak semua yang penting bisa diukur. Dan tidak semua yang tidak laku, layak dimatikan. []